Mengapa kita membedakan antara Sunni dan syiah, padahal kita memerlukan persatuan?

Mengapa kita membedakan antara Sunni dan syiah, padahal kita memerlukan persatuan?
——————————————————————————–

 

Bagaimana mungkin terjadi persatuan antara  Islam dan mereka yang menolak Islam…. antara penolong Allah dan syiah(kelompok, penolong) syaithon? persatuan dan kesatuan tidaklah didasarkan kecuali pada aqidah dan agama kita, bahkan kesatuan atau wihdah ummah itu harus dibangun diatas persamaan aqidah. Ketahuilah bahwa aqidah sunni dan syiah itu berbeda. Karena itulah sunni dan syiah tak mungkin dan tak boleh bersatu.
Apabila syiah tidak mengkafirkan sahabat nabi, mengapa mereka tidak memberi nama anak –anak mereka dengan  nama-nama para sahabat dan umahatul mukminin ??? Dan mengapa mereka menyelisihi kaum muslimin dalam masalah azan dan cara sholat , yang dikatakan sebagai bid’ah dalam mazhab syiah sendiri oleh Dr Musa Al Musawi? Dan mengapa Iran terus menerus mencetak dan menerbitkan buku-buku induk yang mengecam para sahabat dan juga penyelewengan Al Qur’an????

Mengapa  tidak kita jumpai upaya  penerapan  dalam tataran praktis upaya pendekatan sunni-syiah di Iran  yang merupakan negara Syiah yang memiliki kekuasaan ??? Dan mengapa tidak diijinkan berdiri masjid sunni di ibukota Teheran  ? Dan mengapa kaum sunni di Iran tidak diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas agamanya yang bertentangan dengan syiah??? Dan mengapa kaum sunni tidak memperoleh hak politik yang sama dibandingkan dengan kaum Yahudi ???  Lihatlah undang-undang di Iran yang secara tegas menyebutkan tentang posisi kaum Yahudi di Iran di Parlemen. Dan kaum sunni tidak memiliki posisi meskipun mereka adalah kaum muslimin???? Dan juga mereka mensyaratkan untuk menjadi Imam adalah seorang muslim yang bermazhab Ja’fari  dan syarat ini tidak boleh diubah dalam undang-undang. Dan mengapa terjadi penindasan terhadap kalangan suni di Iran, sehingga munculah tulisan dalam bentuk buku dan juga mempunyai situs kusus di internet  ( ikatan ahlus sunnah Iran )???

 

            Benar, kita menghendaki pendekatan antara sunni dan syiah, akan tetapi pendekatan ke arah kebenaran dan bukan pendekatan yang ditujukan untuk mendekatkan sunni kepada syiah !!!!
—————————————————————

 
Syi’ah Rafidhah yang banyak tersebar di zaman ini (Sebagian besar Syi’ah pada zaman ini adalah Rofidhoh) telah dikafirkan oleh ribuan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sejak dulu sampai saat ini.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia (para Sahabat-red) adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min)”[Al-Fath : 29].

Berdalil dengan ayat ini, Imam Malik menegaskan tentang kafirnya kaum Syi’ah Rafidhah, karena kaum syiah rafidhah begitu jengkel dan benci terhadap sebagian besar Sahabat nabi; bahkan mereka mengkafirkan sahabat nabi [lihat Tafsir Ibnu Katsir 7 : 3259 cet. Daar Ibn Hazm].

 

Seorang pentolan Syi’ah telah mengukir “puisi-puisi kebencian dan cacian” terhadap Umar bin Khattab dalam bukunya yang diberi judul : “’Iqdud Durar fi Syarhi Baqri Bathni ‘Umar” (Rangkaian Mutiara dalam penjelasan kasus robeknya Perut Umar); Dan lihat pula Kitab Tuhfat ‘Awam Maqbul yang di dalamnya terdapat do’a la’nat bagi 2 berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), buku ini telah direkomendasikan oleh Al-Khumaini. Sebuah ungkapan yang hanya muncul dari mulut-mulut berlidah iblis.

Bahkan Abu Hafs Ibn Syahin (wafat 385 H/995 M) mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib membakar sejumlah orang ekstrim Syi’ah dan mengasingkan sebagian besar mereka. Diantara yang diasingkan tersebut terdapat Abdullah bin Saba’

————————————-

 

Sekilas Tentang Syi’ah..

Asal tahu saja, bahwa sang deklarator Agama Syi’ah adalah Abdullah bin Saba’ ; seorang gembong Yahudi yang berpura-pura masuk Islam di zaman kekhalifahan Utsman. Dengan kedok kecintaan terhadap Ali, ia mulai menebarkan jentik-jentik kesesatan di tengah kaum muslimin waktu itu. Keberadaan Abdullah bin Saba’ sebagai seorang Yahudi, diakui sendiri oleh petinggi-petinggi Syi’ah dalam buku-buku mereka seperti “Firaq Asy-Syi’ah” [hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah, Najef 1379 H], begitu pula dalam kitab mereka yang tersohor “Rijal Al-Kasysyi” [hal. 101. Mu’assasah Al-A’lami. Karbala Iraq].

Syi’ah dan Yahudi adalah “dua sejoli” yang sangat lengket dan mesra. Berikut adalah beberapa kemiripan diantara mereka berdua :

[1]. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syi’ah; mereka mempunyai Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka sendiri yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin. Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat (hanya kelompok syi’ah yang ekstrim saja yang meyakini bahwa Al Quran syi’ah beda dengan Al quran ahlus sunnah)

[2]. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [Maryam : 28], Syi’ah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syi’ah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II 34)”

[3]. Yahudi mengatakan, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja”. [Al-Baqarah : 80].  Syi’ah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syi’ah” sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashl Khithab (hal.157)”

[4]. Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah sebelumnya tidak tahu, begitu juga dengan Syi’ah

[5]. Yahudi berkeyakinan bahwa ucapan “amin” dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syi’ah juga beri’tiqod yang sama.
[6]. Yahudi keluar dari shalat tanpa salam, cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syi’ah juga mengamalkan hal yang sama.
[7]. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syi’ah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.

[Lihat kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah lil Yahud, oleh Abdullah Al-Jumaily].

 
Ahmad bin Yunus (wafat 227 H), salah seorang tokoh ulama Ahlus Sunnah di kufah telah berkata : “Seandainya; seorang Yahudi menyembelih seekor binatang, dan seorang Rafidhi (Syi’ah) menyembelih seekor binatang, niscaya aku hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau memakan sembelihan si Rafidhi karena dia telah murtad dari Islam (namun masih mengaku Islam-red).” [Ash-Sharimul Maslul, hal. 570].

Imam Bukhari berkata : ”Bagiku sama saja, apakah aku sholat dibelakang orang yang berfaham jahmiyyah atau Syi’ah Rafidhah, atau aku sholat dibelakang orang Yahudi atau Nashrani (maksudnya sama-sama tidak boleh). Dan seorang muslim tidak boleh memberi salam kepada mereka, menjenguk mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi, dan memakan sembelihan mereka.”(Khalqu Af’alil ‘Ibad hal:125, karya Imam Bukhari ).
Syakh Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Orang yahudi dan kristen lebih utama dari orang Rafidhah dengan satu sifat (yaitu) :

Orang yahudi jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab :  sahabat-sahabat Musa.

Orang Kristen jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab :  Hawari (sahabat-sahabat) Isa.

Orang rafidhah jika ditanya : siapakah orang yang terburuk di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab :  sahabat-sahabat Muhammad
(Minhaajul Sunnah, oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : 1/24).

 

——————————————————

 
APA SEGI PERBEDAAN ANTARA SYI’AH RAFIDHAH DENGAN AHLIS SUNNAH ?

Diantaranya adalah…..

1]. Rafidhah mengatakan sesungguhnya Al Quran dirubah (diselewengkan) dan kurang.

Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan : Sesungguhnya Al Quran adalah kalamullah lengkap tanpa ada kekurangan, tidak pernah dan tidak akan dihinggapi oleh penukarbalikan, pengurangan dan perubahan sampai Allah mewariskan bumi ini dan orang-orang yang ada di atasnya (hari Kiamat),
2]. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah terkecuali beberapa orang, telah murtad setelah Rasulullah wafat, dan mereka berbalik 180 derajat, dan mereka mengkhianati amanah dan agama, terutama tiga orang khalifah ; As Shidiq (Abu Bakr), Al Faruq (Umar) dan Dzu Nurain (Utsman), oleh karena itu mereka yang bertiga ini menurut mereka (Rafidhah) adalah termasuk orang yang paling bersangatan kekufuran, kesesatan dan kesalahannya.

Sedangkan kita (Ahlis-Sunnah) mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi, dan sesungguhnya mereka itu adalah adil (istiqomah) seluruhnya, tidak pernah sengaja berdusta atas nabi mereka, mereka orang-orang yang terpercaya dalam menukilkan berita.

 

[3]. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para imam adalah imam-imam Rafidhah yang dua belas yang ma’shum (terjaga dari dosa), mereka mengetahui hal ghaib, dan mengetahui seluruh ilmu yang dikeluarkan (diajarkan) kepada para malaikat, para nabi dan para rasul, dan sesungguhnya mereka mengetahui ilmu yang terdahulu dan sekarang, dan tidak ada yang tersembunyi bagi mereka sesuatu apapun, dan sesungguhnya mereka mengetahui seluruh bahasa alam semesta, dan sesungguhnya seluruh bumi ini adalah milik mereka.

Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan, sesungguhnya mereka itu adalah manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya, tiada perbedaan antara mereka, diantara imam-imam itu adalah ahli fikih, ulama dan khalifah, dan kita tidak menisbahkan kepada mereka apa yang tidak pernah mereka katakan terhadap diri mereka sendiri, bahkan kita berlepas diri darinya dan mereka pun (para imam) berlepas diri dari hal itu.

 
APA KEYAKINAN ORANG RAFIDHAH PADA HARI ASY-SYURA (10 MUHARRAM) DAN APA KEUTAMAANNYA MENURUT MEREKA ?

Sesungguhnya Rafidhah mengadakan perayaan dan perkumpulan dan ratapan tangis, mereka melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan umum. Mereka memakai pakaian hitam tanda duka cita dalam memperingati mati syahidnya Husain dengan mengonsentrasikan pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram di setiap tahun, dengan keyakinan sesungguhnya perbuatan itu termasuk dari sebaik-baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka mereka memukul-mukul pipi mereka dengan tangan mereka sendiri, memukul-mukul dada dan punggung mereka. Mereka merobek-robek baju sambil menangis dan berteriak-teriak dengan menyeru : wahai Husain, wahai Husain. Terlebih-lebih pada hari ke sepuluh setiap bulan Muharram, bahkan mereka memukul diri mereka sendiri dengan rantai besi dan pedang, seperti yang terjadi di negeri-negeri yang dihuni oleh Rafidhah seperti Iran.

Dan para ulama mereka mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang bodoh ini dimana hal itu menjadi bahan tertawaan semua umat. Sungguh salah seorang dari pembesar mereka yaitu Muhammad Hasan Alu Kasyif al Ghatha, telah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh pengikut golongannya seperti memukul dan menampar wajah, dst, ia berkata : Sesungguhnya ini termasuk dari mengagungkan syiar-syiar Allah

 
APAKAH PERKATAAN PARA IMAM TERDAHULU DAN BELAKANGAN TENTANG RAFIDHAH (SYI’AH) ?
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata : “Dan sungguh telah sepakat ahli ilmu dalam bidang naqal, riwayat dan sanad, bahwasanya Rafidhah adalah yang paling pendusta dari kalangan kelompok-kelompok (yang sesat), berbohong terdapat dalam diri mereka sudah sejak lama, oleh karena inilah para imam-imam Islam mentitelkan keistimewaan mereka dengan predikat sering (banyak) berdusta”.

Asyhab bin Abdul Aziz telah berkata : Imam Malik telah ditanya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab : Janganlah kamu berbicara dengan mereka, dan janganlah mengambil riwayat dari mereka, sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (pembohong).

Dan berkata Imam Malik : orang yang mecaci maki para sahabat Rasulullah, maka ia tidak berhak mendapatkan nama, atau tempat di dalam Islam.

Abu Zur’ah Ar Raazi berkata : “Bila kamu melihat seseorang yang mencaci salah seorang dari para sahabat Rasulullah, maka ketahuilah sesungguhnya dia itu Zindiq”

Al Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr Al Marwazi, ia berkata : Saya telah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr dan Umar serta Aisyah, maka ia berkata : “Saya tidak memandangnya di dalam Islam (artinya orang yang mencaci itu telah keluar dari Islam-pent)”.  (As Sunnah oleh Khalal (3/493). Ini merupakan pernyataan yang jelas dari imam Ahmad dalam menghukum kafir orang Rafidhah)

 

——————————————————
catatan:

Dan diantara prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwasanya mereka tidak mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya. Adapun perbuatan dosa besar selain syirik yang tidak ada dalil yang menghukumi pelakunya sebagai kafir, maka pelaku (dosa besar tersebut) tidak dihukumi kafir akan tetapi dihukumi fasiq dan imannya tidak sempurna. Apabila dia mati sedang dia belum bertaubat maka dia berada dalam kehendak Allah. Jika Dia berkehendak Dia akan mengampuninya, telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa-dosa selainnya bagi siapa yang dikehendakinya …” [An-Nisaa : 48]
 

Ketahuilah bahwasannya mengklaim orang lain dengan kafir, mubtadi’ dan fasik, merupakan hak Allah, oleh karenanya jangan sekali-kali  mengklaim dengan kafir, atau mubtadi’ atau fasik kepada orang yang tidak layak diklaim demikian, walaupun ia telah mengklaim anda dengan kafir, atau mubtadi’ atau fasik. Karena sesungguhnya Ahlis Sunnah tidak membenarkan untuk membalas kezaliman pelaku kesalahan dengan kezaliman. Akan tetapi metode membalas kezaliman dengan kezaliman, merupakan perangai Ahlil bid’ah.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Orang-orang Khowarij selalu mengkafirkan Ahlis Sunnah wal Jama’ah, demikian juga Mu’tazilah, mereka mengkafirkan setiap orang yang bertentangan dengannya, demikian pula halnya Rafidhoh (Syi’ah). Kalaupun mereka tidak mengkafirkan, tapi mereka mengklaim dengan fasik’. Sedangkan Ahlis Sunnah, senantiasa mengikuti kebenaran yang datang dari Tuhan mereka, kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mereka tidaklah mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dalam kebenaran itu. Akan tetapi mereka adalah orang yang paling tahu tentang kebenaran, dan paling sayang terhadap manusia” [Minhajus Sunnah 5/158]

 

referensi:

Kitab Diantara Aqidah Syi’ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc

Risalah Dakwah Al-Hujjah, Edisi Khusus/Rabi’ul Akhir/1424H Islamic Center Al-Hunafa’ Masjid ‘Aisyah Lt II, Jl Soromandi No.1A Lawata – Mataram

www.almanhaj.or.id

www.hakekat.com

www.muslim.or.id

www.abusalma.wordpress.com
————————————————–

( ebook mengenai kesesatan syiah dapat di download di abusalma.wordpress.com )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers