• semua artikel dalam situs ini boleh dicopy dan disebarluaskan tanpa perlu minta izin kepada saya, saya juga cuma ngopi dari situs-situs lain ============================================== pacaran adalah haram, zina haram, seks bebas haram, minuman keras haram ========================================== jika ada tulisan dalam blog ini yang bertentangan dgn ajaran islam maka haram dipraktekkan.
  • www.hatibening,com

  • Arsip artikel 083821513356

  • kategori artikel 083821513356

  • Halaman/pages facebook islami yang sangat menarik dan bermanfaat untuk anda add/like:

  • www.kajian.net

    Surah Al-Baqarah ayat 216: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
  • ““Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”(HR. MUSLIM)”

    ““Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”(HR. MUSLIM)” ================
  • JAUHILAH MUSIK DAN NYANYIAN KARENA BANYAK ULAMA YANG MENGHARAMKANNYA

    ==================================================== ‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash- Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) ----------------------------------------------------------------------------- Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191) ---------------------------------------------------------------------- Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56) ------------------------------------------------------------------- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu . (Majmu’ Fatawa, 11/576) --------------------------------------------------------------- ----------------------------------------------------
  • inilah Dakwah Kami:

    ------------------------------------------------------------------ Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan Pemahaman Rosululloh serta Salafush Ash-Shalih ------------------------------------------------------------------ Tashfiyah, yakni memurnikan ajaran Islam dari segala Noda Syirik, Bid’ah, Khurafat, serta gerakan-gerakan dan pemikiran-pemikiran yang merusak ajaran Islam. ------------------------------------------------------------------ Tarbiyah, yakni Pendidikan bagi kaum Muslimin berdasarkan ajaran Islam yang murni. ------------------------------------------------------------------ Menghidupkan pola pikir membiasakan kebenaran, bukan membenarkan kebiasaan (tradisi). ------------------------------------------------------------------ Mengajak kaum Muslimin untuk hidup Islami, sesuai dengan Manhaj Ahlul Sunnah Wal Jama’ah. ------------------------------------------------------------------ -------------
  • Motto kami

    ------------------------------------------------------ --------------------------------------------------------------- Hidupkan Sunnah Nabi serta para Salafush Ash-Shalih, --------------------------------------------------------------- Hindari Fanatisme Golongan & Partai. --------------------------------------------------------------- Wujudkan Persatuan Umat Islam --------------------------------------------------------------- Serta Jauhilah 3 T Yakni: Taklid, Ta’ashub (Fanatisme Golongan/Partai), serta Taffaruq (Memecah belah Umat). --------------------------------------------------------------- sms/call:081511542355 ------------------------------------------------------
  • ittiba’ di atas manhaj salaf dan menyelisihi selainnya

    ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.” [HR. Abu Dawud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimy (II/241)] ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ “Barangsiapa di antara kalian ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: "Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120] ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Imam Ahmad rahimahullah (wafat th. 241 H) berkata: “Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh al-Laalikaa-iy I/175-185 no. 317] ----------------------------------------------------------------------------------
  • PEMERINTAH INDONESIA WAJIB BERHUKUM DENGAN HUKUM ISLAM

    PEMERINTAH INDONESIA WAJIB BERHUKUM DENGAN HUKUM ISLAM ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ “(Hak untuk) menetapkan hukum itu (hanyalah) hak Allah.” (QS. Al An’aam [6]: 57) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS Almaidah: 50) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. (QS Al Maidah:1) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS Al Maidah:45) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim (QS Albaqarah:229) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- “Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An Nisa [4]: 65) ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • ILMU IKHLAS

    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Ar-Rabi` bin Khaitsam berkata: Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak! ======================================================================= Abu Sulaiman Ad-darani berkata: Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah! ======================================================================== ““Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”(HR. MUSLIM)” ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------
  • PESAN DARI UMAT ISLAM YANG DITINDAS MUSUH

    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- “wahai saudaraku seIslam di Indonesia..disini kami ditembaki peluru, rumah kami diledakkan, ayahku sengaja ditembak dikepalanya, adikku diperkosa oleh tentara kafir laknatullah itu.., apakah kamu disana sedang bersenang senang ? aku tunggu jawabanmu” ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • KETAHUILAH BAHWA HANYA UMAT ISLAM YANG BISA MASUK SURGA

    wahai umat manusia, islam-lah agar kalian selamat !! ( Wahai Allah, sungguh telah kusampaikan, maka saksikanlah..) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- "Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.." (QS Ali Imraan : 85) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- IKUTILAH JALAN KEBENARAN ITU JANGAN HIRAUKAN WALAUPUN SEDIKIT ORANG MENGIKUTINYA!JAUHKANLAH DIRIMU DARI JALAN JALAN KESESATAN DAN JANGANLAH TERPESONA DENGAN BANYAKNYA ORANG ORANG YANG MENEMPUH JALAN KEBINASAAN! ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Sunnah itu bagaikan bahtera nabi nuh.Barangsiapa mengendarainya niscaya dia selamat dan barangsiapa terlambat dari bahtera tersebut maka dia akan tenggelam…… ------------------------------------------------------ KUMPULAN CERITA CINTA , PUISI CINTA , SMS CINTA , KATA CINTA , CURHAT CINTA
  • BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR

    BERIKANLAH SEDEKAH KEPADA FAKIR MISKIN, PENGEMIS, JANDA, BINATANG, DAN ANAK-ANAK TERLANTAR ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam (HR. Bukhari) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad) -------------------------------------------------------
  • ruang konsul dokter

  • Blog Stats 083821513356

    • 10,299,702 hits

SEJARAH DAN FITNAH TASAWWUF

SEJARAH DAN FITNAH TASAWWUF

Orang-orang sufi pada periode-periode pertama menetapkan untuk merujuk (kembali) kepada Al-Quran dan As-Sunnah, namun kemudian Iblis memperdayai mereka karena ilmu mereka yang sedikit sekali.

Ibnul Jauzi (wafat 597H) yang terkenal dengan bukunya Talbis Iblis menyebutkan contoh, Al-Junaid (tokoh sufi) berkata, “Madzhab kami ini terikat dengan dasar, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah.”

Dia (Al-Junaid) juga berkata, “Kami tidak mengambil tasawuf dari perkataan orang ini dan itu, tetapi dari rasa lapar, mening­galkan dunia, meninggalkan kebiasan sehari-hari dan hal-hal yang dianggap baik. Sebab tasawuf itu berasal dari kesucian mu’amalah (pergaulan) dengan Allah dan dasarnya adalah memisahkan diri dari dunia.”

Komentar Ibnul Jauzi, jika seperti ini yang dikatakan para syeikh mereka, maka dari syeikh-syeikh yang lain muncul banyak kesalahan dan penyimpangan, karena mereka menjauhkan diri dari ilmu.

Jika memang begitu keadaannya, lanjut Ibnul Jauzi, maka mereka harus disanggah, karena tidak perlu ada sikap manis muka dalam menegakkan kebenaran. Jika tidak benar, maka kita tetap harus waspada terhadap perkataan yang keluar dari golongan mereka.

Dicontohkan suatu kasus, Imam Ahmad bin Hanbal (780-855M) pernah berkata tentang diri Sary As-Saqathy, “Dia seorang syeikh yang dikenal karena suka menjamu makanan.” Kemudian ada yang mengabarinya bahwa dia berkata, bahwa tatkala Allah menciptakan huruf-huruf, maka huruf ba’ sujud kepada-Nya. Maka seketika itu pula Imam Ahmad berkata: “Jauhilah dia!” (Ibnul Jauzi, Talbis Iblis, Darul Fikri, 1368H, hal 168-169).

Kapan awal munculnya tasawuf

Tentang kapan awal munculnya tasawuf, Ibnul Jauzi mengemuka­kan, yang pasti, istilah sufi muncul sebelum tahun 200H. Ketika pertama kali muncul, banyak orang yang membicarakannya dengan berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka meru­pakan latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akherat.

Begitulah yang terjadi pada diri orang-orang yang pertama kali memunculkannya. Lalu datang talbis Iblis (tipuan mencampur adukkan yang haq dengan yang batil hingga yang batil dianggap haq) terhadap mereka (orang sufi) dalam berbagai hal. Lalu Iblis memperdayai orang-orang setelah itu daripada pengikut mereka. Setiapkali lewat satu kurun waktu, maka ketamakan Iblis untuk memperdayai mereka semakin menjadi-jadi. Begitu seterusnya hingga mereka yang datang belakangan telah berada dalam talbis Iblis.

Talbis Iblis yang pertama kali terhadap mereka adalah mengha­langi mereka mencari ilmu. Ia menampakkan kepada mereka bahwa maksud ilmu adalah amal. Ketika pelita ilmu yang ada di dekat mereka dipadamkan, mereka pun menjadi linglung dalam kegelapan.

Di antara mereka ada yang diperdaya Iblis, bahwa maksud yang harus digapai adalah meninggalkan dunia secara total. Mereka pun menolak hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi badan, mereka menyerupakan harta dengan kalajengking, mereka berlebih-lebihan dalam membebani diri, bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak mau menelentangkan badannya, terlebih lagi tidur.

Sebenarnya tujuan mereka itu bagus. Hanya saja mereka meniti jalan yang tidak benar dan diantara mereka ada yang karena minim­nya ilmu, lalu berbuat berdasarkan hadits-hadits maudhu` (palsu), sementara dia tidak mengetahuinya.

Syari’at dianggap ilmu lahir hingga aqidahnya rusak

Kemudian datang suatu golongan yang lebih banyak berbicara tentang rasa lapar, kemiskinan, bisikan-bisikan hati dan hal-hal yang melintas di dalam sanubari, lalu mereka membukukan hal-hal itu, seperti yang dilakukan Al-Harits Al-Muhasibi (meninggal 857M). Ada pula golongan lain yang mengikuti jalan tasawuf, menyendiri dengan ciri-ciri tertentu, seperti mengenakan pakaian tambal-tambalan, suka mendengarkan syair-syair, memukul rebana, tepuk tangan dan sangat berlebih-lebihan dalam masalah thaharahdan kebersihan. Masalah ini semakin lama semakin menjadi-jadi, karena para syaikh menciptakan topik-topik tertentu, berkata menurut pandangannya dan sepakat untuk menjauhkan diri dari ulama. Memang mereka masih tetap menggeluti ilmu, tetapi mereka menamakannya ilmu batin, dan mereka menyebut ilmu syari’at seba­gai ilmu dhahir. Karena rasa lapar yang mendera perut, mereka pun membuat khayalan-khayalan yang musykil, mereka menganggap rasa lapar itu sebagai suatu kenikmatan dan kebenaran. Mereka memba­yangkan sosok yang bagus rupanya, yang menjadi teman tidur mere­ka. Mereka itu berada di antara kufur dan bid’ah.

Kemudian muncul beberapa golongan lain yang mempunyai jalan sendiri-sendiri, dan akhirnya aqidah mereka jadi rusak. Di antara mereka ada yang berpendapat tentang adanya inkarnasi/hulul (penitisan) yaitu Allah menyusup ke dalam diri makhluk dan ada yang menyatakan Allah menyatu dengan makhluk/ ittihad. Iblis senantiasa menjerat mereka dengan berbagai macam bid’ah, sehingga mereka membuat sunnah tersendiri bagi mereka. (ibid, hal 164).

Perintis tasawuf tak diketahui pasti

Abdur Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus Shufi fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara tepat siapa yang pertama kali menjadi sufi di kalangan ummat Islam. Imam Syafi’i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, “Kami ting­galkan kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng; aliran yang tidak percaya kepada Tuhan, berasal dari Persia; orang yang menyelundup ke dalam Islam, berpura-pura –menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu yang baru yang mereka namakan assama’ (nyanyian).

Kaum zindiq yang dimaksud Imam Syafi’i adalah orang-orang sufi. Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian yang mereka dendangkan. Sebagaimana dimaklumi, Imam Syafi’i masuk Mesir tahun 199H.

Perkataan Imam Syafi’i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya, Imam Syafi’i sering berbicara tentang mereka di antaranya beliau mengatakan:

“Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu.”

Dia (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis Iblis, hal 371).

Semua ini, menurut Abdur Rahman Abdul Khaliq, menunjukkan bahwa sebelum berakhirnya abad kedua Hijriyah terdapat satu kelompok yang di kalangan ulama Islam dikenal dengan sebutan Zanadiqoh (kaum zindiq), dan terkadang dengan sebutan mutashawwi­fah (kaum sufi).

Imam Ahmad (780-855M) hidup sezaman dengan Imam Syafi’i (767-820M), dan pada mulanya berguru kepada Imam Syafi’i. Perkataan Imam Ahmad tentang keharusan menjauhi orang-orang tertentu yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang. Di antara­nya ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa ten­tang perkataan Al-Harits Al-Muhasibi (tokoh sufi, meninggal 857M). Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

“Aku nasihatkan kepadamu, janganlah duduk bersama mereka (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi)”.

Imam Ahmad memberi nasihat seperti itu karena beliau telah melihat majlis Al-Harits Al-Muhasibi. Dalam majlis itu para peserta duduk dan menangis –menurut mereka– untuk mengoreksi diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang jahat. (Perlu kita cermati, kini ada kalangan-kalangan muda yang mengadakan daurah/penataran atau halaqah /pengajian, lalu mengadakan muhasabatun nafsi/ mengoreksi diri, atau mengadakan apa yang mereka sebut renungan, dan mereka menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang meraung-raung. Apakah perbuatan mereka itu ada dalam sunnah Rasulullah saw? Ataukah memang mengikuti kaum sufi itu?).

Abad III H Sufi mulai berani, semua tokohnya dari Parsi

Tampaknya, Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu`anhu mengucapkan perkataan tersebut pada awal abad ketiga Hijriyah. Namun sebelum abad ketiga berakhir, tasawuf telah muncul dalam hakikat yang sebenarnya, kemudian tersebar luas di tengah-tengah umat, dan kaum sufi telah berani mengatakan sesuatu yang sebelumnya mereka sembunyikan.

Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal perkembangannya hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan keempat Hijriyah berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat agama Majusi, kemusyrikan yang menyembah api, kemudian menjadi pusat Agama Syi’ah), tidak ada yang berasal dari Arab.

Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah dan hukum, pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain bin Manshur Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan pengua­sa, yakni dia menyatakan bahwa Allah menyatu dengan dirinya, sehingga para ulama yang semasa dengannya menyatakan bahwa dia telah kafir dan harus dibunuh.

Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap Husain bin Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian, sufisme tetap menyebar di negeri Parsi, bahkan kemudian berkembang di Irak.

Abad keempat mulai muncul thariqat/ tarekat

Tersebarnya sufisme didukung oleh Abu Sa`id Al-Muhani. Ia mendirikan tempat-tempat penginapan yang dikelola secara khusus yang selanjutnya ia ubah menjadi markas sufisme. Cara penyebaran sufisme seperti itu diikuti oleh para tokoh Sufi lainnya sehingga pada pertengahan abad keempat Hijriyah berkembanglah cikal bakal thariqat/ tarekat sufiyah, kemudian secara cepat tersebar di Irak, Mesir, dan Maghrib (Maroko).

Pada abad keenam Hijriyah muncul beberapa tokoh tasawuf, mas­ing-masing mengaku bahwa dirinya keturunan Rasulullah SAW, kemud­ian mendirikan tempat thariqat sufiyah dengan pengikutnya yang tertentu. Di Irak muncul thariqat sufiyah Ar-Rifa`i (Rifa’iyah); di Mesir muncul Al-Badawi, yang tidak diketahui siapa ibunya, siapa bapaknya, dan siapa keluarganya; demikian juga Asy-Syadzali

(Syadzaliyah/ Syadziliyah) yang muncul di Mesir. Dari thariqat-thariqat tersebut muncul banyak cabang thariqat sufiyah.

Abad ke-6,7, & 8 puncak fitnah shufi

Pada abad keenam, ketujuh, dan kedelapan Hijriyah fitnah sufisme mencapai puncaknya. Kaum Sufi mendirikan kelompok-kelompok khusus, kemudian di berbagai tempat dibangun kubah-kubah di atas kuburan. Semua itu terjadi setelah tegaknya Daulah Fathi­miyah (kebatinan) di Mesir, dan setelah perluasan kekuasaan ke wilayah-wilayah dunia Islam. Lalu, kuburan-kuburan palsu muncul, seperti kuburan Husain bin Ali radliyallahu `anhuma di Mesir, dan kuburan Sayyidah Zainab. Setelah itu, mereka mengadakan peringatan maulid Nabi, mereka melakukan bid`ah-bid`ah dan khufarat-khufarat. Pada akhirnya mereka meng-ilahkan (menuhankan) Al-Hakim Bi-Amrillah Al-Fathimi Al-Abidi.

Propaganda yang dilakukan oleh Daulah Fathimiyah tersebut berawal dari Maghrib (Maroko), mereka menggatikan kekuasaan Abbasiyah yang Sunni. Daulah Fathimiyah berhasil menggerakkan kelompok Sufi untuk memerangi dunia Islam. Pasukan-pasukan kebat­inan tersebut kemudian menjadi penyebab utama berkuasanya pasukan salib (Kristen Eropa) di wilayah-wilayah Islam.

Pada abad kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas Hijriyah, telah muncul berpuluh-puluh thariqat sufiyah, kemudian aqidah dan syari`at Sufi tersebar di tengah-tengah umat. Keadaan yang merata berlanjut sampai masa kebangkitan Islam baru.

Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya memerangi shufi

Sesungguhnya kebangkitan Islam sudah mulai tampak pada akhir abad ketujuh dan awal abad kedelapan Hijriyah, yaitu tatkala Imam Mujahid Ahmad bin Abdul-Hakim Ibnu Taimiyyah (1263-1328M) meme­rangi seluruh aqidah yang menyimpang melalui pena dan lisannya, di antara yang diperangi adalah aqidah kaum Sufi.

Setelah itu, perjuangan beliau dilanjutkan oleh murid-muridnya, seperti Ibnul-Qayyim (Damaskus 1292-1350M), Ibnu-Katsir (wafat 774H), Al-Hafizh Adz-Dzahabi, dan Ibnu Abdil-Hadi.

Meskipun mendapat serangan, tasawuf, dan aqidah-aqidah batil terus mengakar, hingga berhasil menguasai umat. Namun, pada abad kedua belas hijriyah Allah mempersiapkan Imam Muhammad bin Abdul-Wahhab untuk umat Islam. Ia mempelajari buku-buku Syaikh Ibnu Taimiyyah, kemudian bangkit memberantas dan memerangi kebatilan. Dengan sebab upaya beliau, Allah merealisasikan kemunculan ke­bangkitan Islam baru.

Da`wah Muhammad bin Abdul-Wahhab disambut oleh orang-orang mukhlis di seluruh penjuru dunia Islam. Namun, daulah sufisme tetap memiliki kekuatan di berbagai wilayah dunia Islam, dan simbol-simbol tasawuf masih tetap ada. Simbol-simbol tasawuf yang dimaksudkan adalah kuburan-kuburan, syaikh-syaikh atau guru-guru sesat, dan aqidah-aqidah yang rusak dan batil (lihat: Al-Fikrush-Shufi fi Dhau`il-Kitab was Sunnah,oleh Abdur-Rahman Abdul-Khaliq, halaman 49-53, dikutip Laila binti Abdillah dalam As-Shufiyyah `Aqidah wa Ahdaf, Darul Wathan Riyad, I, 1410H, hal 13-17).

dikutip dari buku Tasawuf Belitan Iblis
karya H Hartono Ahmad Jaiz -
http://www.pakdenono.com
http://www.swaramuslim.net

Sufi, Benarkah Itu Ajaran Nabi?

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan da’i yang menyeru kepada jalan Allah dengan ilmu dan keterangan.

Amma ba’du. Saudara-saudaraku sekalian kaum muslimin -semoga Allah semakin mempererat tali persaudaraan kita karena-Nya- perjalanan hidup kita di alam dunia merupakan sebuah proses perjuangan untuk menggapai keridhaan-Nya. Kita hidup bukan untuk berhura-hura atau memuaskan hawa nafsu tanpa kendali agama. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah menumbuhkan kecintaan yang dalam di dalam hati kita kepada al-Qur’an, as-Sunnah dan para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum- sebagaimana kita sadari bersama bahwa agama Islam adalah ajaran yang sempurna. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak paham dan orang yang menyombongkan dirinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah mencurahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita untuk meniti jalan yang lurus dan tidak berpaling darinya- Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk terang benderang baginya dan dia malah mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing di dalam kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dirinya ke dalam neraka jahannam. Dan sungguh jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)

Bagi kita ajaran atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari kehancuran dan mata air yang akan mengalirkan kesejukan iman. Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah/ajaranku dan ajaran para khalifah yang berpetunjuk lagi lurus sesudahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham serta jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), sebab setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi menilai hadits ini hasan)

Oleh karena itu sudah semestinya kita -sebagai orang yang mengaku beriman- untuk mengembalikan segala bentuk perselisihan kepada Hakim yang paling bijaksana yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah), hal itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Mujahid dan para ulama salaf yang lainnya menafsirkan perintah kembali kepada Allah dan rasul yang terdapat dalam ayat ini dengan mengatakan yaitu kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla yang menunjukkan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan orang -dalam hal pokok agama maupun cabang-cabangnya- maka perselisihan itu harus diselesaikan dengan merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apa saja perkara yang kalian perselisihkan maka keputusannya dikembalikan kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10). Maka apa pun yang telah diputuskan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah serta didukung oleh dalil yang benar dari keduanya itulah kebenaran, “dan tiada lagi sesudah kebenaran melainkan kesesatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 250).

Di hadapan kita terdapat persoalan yang telah membuat lisan sebagian orang melontarkan tuduhan-tuduhan yang tak pantas kepada Ahlus Sunnah dan dakwahnya, bahkan saking getolnya memuja keyakinan sufi yang dianggapnya benar maka dia pun tidak segan melontarkan ucapan-ucapan aneh yang menunjukkan kerancuan aqidah yang tertancap di dalam dadanya.

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Kita berasal dari Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Allah ada di mana-mana. Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh dunia ini terjadi [karena] Campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri kita ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada Allah.” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Akan tetapi Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya…” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi…” ?!

Baiklah, memang pahit di lidah dan panas di telinga, namun terpaksa kalimat-kalimat ini kami sebutkan di sini demi menerangkan kebenaran dan membantah kebatilan, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bersatu di atas kebenaran, Allahul musta’aan.

Sebagai jalan untuk memecahkan persoalan ini maka akan saya kutip ucapan indah dari orang yang sama yang telah mengucapkan kalimat-kalimat di atas. Orang tersebut -semoga Allah menambahkan hidayah kepada-Nya- mengatakan dengan jujur dan tulus, “Maka sebaiknya kita tanya dulu kepada Orang yang lebih tahu daripada Kita, Karena di atas langit masih ada langit.” Alangkah bagus ucapannya sebab bersesuaian dengan sebuah firman Allah yang mulia (yang artinya), “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui suatu perkara, dengan dasar keterangan dan kitab-kitab…” (QS.An-Nahl: 43-44). Tentu saja tempat kita bertanya adalah para ulama yang mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Insya Allah ucapan dan keterangan mereka akan kami sebutkan untuk menenangkan hati dan pikiran kita.

Sebelum lebih jauh menanggapi hal ini, dengan memohon taufik dari-Nya maka kami perlu kemukakan beberapa hal di sini agar duduk perkaranya menjadi jelas dan tidak terjadi kesalahpahaman.

Saudaraku sekalian -semoga Allah mengokohkan kita di atas kebenaran, bukan di atas kebatilan- ajaran Sufi yang populer dan kata orang mengajarkan penyucian jiwa, pendekatan diri kepada Allah serta membuang jauh-jauh ketergantungan hati kepada dunia serta mengikatkan hati manusia hanya kepada Allah, kita telah akrab dengan istilah ini. Meskipun demikian, sebagai muslim yang baik tentunya kita tidak akan berbicara dan bersikap kecuali dengan landasan dalil dari Allah ta’ala. Allah berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Saudaraku sekalian, sesungguhnya perkara penyucian jiwa, melembutkan hati dan pendekatan diri kepada Allah serta melepaskan ketergantungan hati kepada dunia dan mengikatkan hati manusia kepada Rabbnya merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa kita ragukan barang sedikit pun. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah mengaruniakan nikmat bagi orang-orang yang beriman ketika mengutus rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al Hikmah (As-Sunnah) padahal sebelumnya mereka dulu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164). Maka tugas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membacakan dan menerangkan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia dari berbagai kotoran dosa dan kesyirikan, dan mengajarkan Al-Kitab dan As-Sunnah kepada mereka.

Oleh karena itulah apabila kita membuka kitab-kitab hadits akan kita jumpai di sana sebuah bab khusus yang menyebutkan riwayat-riwayat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan penyucian jiwa dan melembutkan hati. Contohnya di dalam Sahih Bukhari, Al-Bukhari rahimahullah menulis Kitab Ar-Riqaaq (hal-hal yang dapat melembutkan hati), di sana beliau membawakan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkait dengan hal ini sebanyak seratus hadits lebih, yaitu hadits no. 6412-6593 (lihat Sahih Bukhari cet. Maktabah Al-Iman, halaman. 1306-1332)

Demikian juga murid Al-Bukhari yaitu Muslim rahimahullah membuat Kitab Ar-Riqaaq, Kitab At-Taubah, Kitab Shifatul Munafiqin wa ahkamuhum, Kitab Shifatul qiyamah wal jannah wan naar, dan lain sebagainya hingga Kitab Az-Zuhd wa raqaa’iq yang mencantumkan dua ratus hadits lebih tentang penyucian jiwa dan hal-hal yang terkait dengannya di dalam Sahihnya (lihat Sahih Muslim yang dicetak bersama Syarah Nawawi, hal. 5-259). Demikian pula di antara para ulama ada yang menyusun kitab khusus tentangnya seperti Adz-Dzahabi yang menulis kitab Al-Kaba’ir tentang dosa-dosa besar. An-Nawawi yang menulis Riyadhush Shalihin yang mencakup berbagai pembahasan tentang penempaan diri dan penyucian jiwa. Shifatu Shafwah dan Al-Latha’if karya Ibnul Jauzi. Bahkan banyak kitab hadits yang dinamakan dengan kitab Az-Zuhd, seperti Az-Zuhd karya Abu Hatim Ar-Razi, Az-Zuhd karya Abu Dawud, Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain, semoga Allah merahmati mereka semua. Bukankah dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian riwayat-riwayat hadits sahih serta penjelasan ulama yang ada di dalam kitab-kitab tersebut kita dapat mempelajari bagaimanakah menyucikan jiwa, bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan bagaimana melepaskan ketergantungan hati kepada selain-Nya…

Inilah pelajaran-pelajaran akhlak dan penyucian jiwa yang disampaikan oleh para ulama kepada kita. Sehingga kalau yang dimaksud sufi adalah itu semua (penyucian jiwa dsb) maka akan kita katakan bahwa itulah yang diajarkan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah alias manhaj salaf kepada umat manusia. Oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata mengenai salah satu sifat Ahlus Sunnah, “Mereka memerintahkan untuk sabar ketika tertimpa musibah, bersyukur ketika lapang, serta merasa ridha dengan ketetapan takdir yang terasa pahit. Mereka juga menyeru kepada kemuliaan akhlak dan amal-amal yang baik, mereka meyakini makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.’…” (Aqidah Wasithiyah, hal. 87). Kalau ajaran menyucikan diri dan menggantungkan hati hanya kepada Allah -sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabat- disebut sufi maka saksikanlah bahwa saya adalah seorang sufi!

Namun, ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- kalau kita cermati lebih jauh ajaran sufi atau tasawuf dan berbagai macam tarekat yang dinisbatkan ke dalamnya beserta tetek bengek ajaran dan lontaran-lontaran aneh yang mereka angkat, niscaya akan teranglah bagi kita bahwa sebenarnya ajaran Sufi yang berkembang hingga hari ini -di dunia secara umum ataupun dinegeri kita secara khusus- telah banyak menyeleweng dari rambu-rambu Al-Kitab dan As-Sunnah. Sebagaimana pernah disinggung oleh Buya HAMKA rahimahullah di dalam pidatonya dalam acara penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Mesir pada tanggal 21 Januari 1958 -lima puluh tahun yang silam-, beliau mengatakan, “Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah daripada syirik dan bid’ah dan ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.” (Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7)

Inilah ucapan yang adil dan bijak dari orang besar seperti beliau. Berikut ini akan kami kutip penjelasan yang diberikan oleh Bapak Hartono Ahmad Jaiz -semoga Allah membalas kebaikannya- yang telah memaparkan mengenai sejarah ajaran sufi ini di dalam bukunya ‘Tasawuf Belitan Iblis’. Beliau mengatakan: “Abdur Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus Shufi fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara tepat siapa yang pertama kali menjadi sufi di kalangan ummat Islam. Imam Syafi’i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, “Kami tinggalkan kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (aliran yang menyeleweng, aliran yang tidak percaya kepada Tuhan, berasal dari Persia, orang yang menyelundup ke dalam Islam, berpura-pura –menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu yang baru yang mereka namakan assama’ (nyanyian).

Kaum zindiq yang dimaksud Imam Syafi’i adalah orang-orang sufi. Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian yang mereka dendangkan. Sebagaimana dimaklumi, Imam Syafi’i masuk Mesir tahun 199H. Perkataan Imam Syafi’i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya, Imam Syafi’i sering berbicara tentang mereka, di antaranya beliau mengatakan: “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum zhuhur ia menjadi orang yang dungu.” Dia (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis Iblis, hal 371). Sekian nukilan kami dari Tasawuf Belitan Iblis.

Pembaca sekalian, dari keterangan di atas kita mengetahui bahwa Imam Syafi’i rahimahullah sendiri termasuk ulama yang mengecam kaum sufi dan ajaran tasawufnya yang menyimpang. Agar tidak terlalu berpanjang-lebar, maka baiklah untuk membuktikan penyimpangan mereka akan kita akan kutip kembali pendapat dan keyakinan mereka beserta komentar atas kerancuan yang ada di dalamnya, Allahlah pemberi petunjuk dan pertolongan kepada kita.

Pertama:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Kita berasal dari Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.”

Tanggapan:

Yang menjadi masalah di sini adalah ucapannya “(kita) Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.” Apakah maksud dari ucapan ini? Apakah artinya manusia adalah bagian dari Allah sebagaimana makna yang bisa secara langsung ditangkap dari ucapannya ataukah yang lainnya? Kalau yang dimaksud adalah yang pertama, maka sangat jelas kebatilannya. Allah bukan hamba dan hamba bukan Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah, alias hamba dan bukan tuhan atau bagian dari tuhan!

Kalau ada orang yang meyakini demikian -dirinya adalah Allah- maka dia telah kafir. Lantas kalau yang dimaksud adalah makna yang lain, kita akan bertanya apa maknanya? Kalau pun maksud yang mereka inginkan benar, maka kita katakan bahwa ucapan-ucapan semacam ini adalah ucapan yang tidak pada tempatnya bahkan bid’ah! Adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan demikian? Adakah para sahabat, imam yang empat mengajarkan demikian? Bacalah kitab-kitab tafsir dan hadits… Wajarlah apabila Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelumz dhuhur ia menjadi orang yang dungu.” Cobalah kaum sufi itu berguru kepada Imam Syafi’i. Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku beriman kepada Allah serta apa yang datang dari Allah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah serta apa yang disampaikan oleh Rasulullah sebagaimana yang diinginkan oleh Rasulullah.” (lihat Lum’at Al-I’tiqad). Apakah Allah atau Rasul-Nya mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah bagian dari-Nya? Kita hidup dan mati di dalam diri-Nya? Allah Maha suci dari ucapan mereka.

Kedua:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Allah ada di mana-mana. Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh dunia ini terjadi [karena] Campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri kita ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada Allah.”

Tanggapan:

Aneh bin ajaib! Menurutnya Allah di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana. Di dalam diri kita -katanya- ada Tuhan… [?] Maha suci Allah… Ucapan semacam inilah yang membuat orang semakin bertambah dungu -sebagaimana disinggung oleh Imam Syafi’i di atas-, adakah orang berakal yang mengucapkan perkataan seperti ini, “Allah ada di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana” Allahu akbar! Apakah ada anak kecil yang mengatakan, “Saya laki-laki tapi bukan laki-laki” [?]

Padahal Allah ta’ala sendiri berfirman tentang diri-Nya (yang artinya), “Ar-Rahman menetap tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jalan yang selamat dalam hal ini adalah jalan ulama salaf yaitu memberlakukannya sebagaimana adanya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa membagaimanakan, tanpa menyelewengkan, tanpa menolak, dan tanpa menyerupakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 5 hal. 202). Apakah ayat ini menunjukkan bahwa Allah membutuhkan Arsy sebagaimana sangkaan sebagian orang? Sama sekali tidak. Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah di dalam kitab Aqidah Thahawiyahnya, yang menjadi rujukan ulama dari keempat madzhab mengatakan, “Dan Dia (Allah) tidak membutuhkan Arsy dan apa pun yang berada di bawahnya, Allah meliputi segala sesuatu dan Dia berada di atasnya…” (dinukil dari Syarah Ibnu Abil ‘Izz dengan tahqiq Al-Albani, hal. 280)

Dikisahkan bahwa Abu Hanifah rahimahullah pernah ditanya mengenai orang yang mengatakan, “Aku tidak mengetahui apakah Rabbku di atas langit atau di bumi.” Maka beliau menjawab bahwa orang yang mengucapkan itu telah kafir, sebab Allah telah berfirman (yang artinya), “Ar-Rahman menetap tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5). Sedangkan Arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit-Nya.” Kemudian ditanyakan lagi kepadanya bagaimana kalau dia mengatakan, “Allah berada di atas Arsy, tapi aku tidak tahu apakah Arsy itu di atas langit atau di bumi.” Maka Abu Hanifah berkata, “Dia juga kafir. Sebab dia telah mengingkari Allah berada di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari Allah berada di atas langit maka dia kafir.” (Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 288). (Akan tetapi dalam prakteknya sekarang tentunya kita tidak begitu saja mengatakan kafir apabila bertemu orang yang berkata seperti di atas, karena untuk mengafirkan masih ada syarat-syarat lain yang harus dipenuhi -ed)

Ketiga:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Akan tetapi Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya…”

Tanggapan:

Subhanallah, tidak henti-hentinya kaum sufi ini berdusta dan mempermainkan kata-kata semaunya. Apakah Al-Qur’an dan As-Sunnah menyatakan bahwa Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia, karena sebegitu dekatnya? Sekali lagi inilah bukti bahwa orang-orang sufi telah meninggalkan ilmu dan terpedaya dengan akal mereka yang rusak. Untuk menanggapi ucapan semacam ini cukuplah kami kutip fakta sejarah yang dibawakan oleh penulis buku Tasawuf Belitan Iblis berikut ini:

“Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal perkembangannya hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan keempat Hijriyah berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat agama Majusi, kemusyrikan yang menyembah api, kemudian menjadi pusat Agama Syi’ah), tidak ada yang berasal dari Arab.

Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah dan hukum, pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain bin Manshur Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan penguasa, yakni dia menyatakan bahwa Allah menyatu dengan dirinya, sehingga para ulama yang semasa dengannya menyatakan bahwa dia telah kafir dan harus dibunuh. Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap Husain bin Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian, sufisme tetap menyebar di negeri Parsi, bahkan kemudian berkembang di Irak.” (Sekian nukilan kami)

Kalau mereka mengatakan bahwa Allah bisa menyatu dalam diri mereka, lantas buat apa mereka beribadah, lantas untuk apa mereka menyembah, kalau semua orang mengaku dirinya adalah Allah maka siapakah yang akan disembah? Maha suci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar! Kemudian, kalau mereka maksudkan dengan ucapan-ucapan itu makna yang lain, maka akan kita katakan bahwa ucapan ini adalah bid’ah dan tidak dikenal oleh para ulama salaf. Kalau ucapan-ucapan semacam ini dibiarkan maka syariat Islam akan berantakan. Ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada orang tua mempelai perempuan, “Saya terima nikahnya Fulanah binti Fulan.” Kemudian setelah itu dia akan berkata kepada si mertua “Saya terima nikahnya tapi tidak menerima nikahnya.” Lah, bagaimana ini? Sejak kapan orang-orang itu menjadi kehilangan akalnya? Rumah sakit jiwa lebih layak bagi orang-orang semacam itu daripada masjid.

Keempat:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi..”

Tanggapan:

Saudaraku, kalau memang ajaran sufi dengan berbagai macam aliran tarekatnya adalah benar dan para imam madzhab mengikutinya apa alasan kami untuk tidak mengikuti kalian? Namun yang menjadi masalah adalah ajaran-ajaran sufi telah jelas terbukti penyimpangannya. Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan para ulama yang lain telah memaparkan kepada kita tentang kesesatan ajaran mereka. Al-Qur’an dan As-Sunnah bagi orang sufi sekedar kata-kata yang bisa dipermainkan ke sana kemari. Allah ta’ala mengatakan bahwa Allah itu esa (Qul Huwallahu Ahad). Sementara orang-orang sufi mengatakan Allah menyatu dalam diri hamba-hambaNya, padahal hamba Allah itu banyak. Allah mengatakan bahwa diri-Nya tinggi berada di atas Arsy-Nya, sementara orang-orang sufi mengatakan Allah di mana-mana tapi juga tidak di mana-mana. Allahul musta’an, kalau memang boleh mengatakan demikian maka kita juga akan mengatakan “Semua Imam Madzhab pada akhirnya kembali kepada Wahabi. Kecuali sufi.” Allahu yahdik.

Saudaraku, kami tidak bermaksud untuk mencaci maki siapa pun, kami hanya ingin saudara kami kembali ke jalan yang benar, itu saja. Syaikh Ihsan Ilahi Zahir -rahimahullah- dalam kitabnya: Tashawwuf Al-Mansya’ Walmashdar (Tasawuf, Asal Muasal dan Sumber-Sumbernya) [halaman 28] berkata: “Jika kita amati ajaran-ajaran tasawuf dari generasi pertama hingga akhir serta ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa di sana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasawuf dengan ajaran-ajaran al-Quran dan as-Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya dalam sirah (sejarah) Rasulullah serta para sahabatnya yang mulia yang merupakan makhluk-makhluk pilihan Allah. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual Yahudi dan kezuhudan Buda” (sebagaimana dikutip oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah -salah seorang ulama besar Saudi Arabia- dalam bukunya Hakikat Tasawuf [terjemah], hal. 20)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Orang yang meniti jalan kefakiran, tasawuf, zuhud dan ibadah; apabila dia tidak berjalan dengan bekal ilmu yang sesuai dengan syariat maka akibat tanpa bimbingan ilmu itulah yang membuatnya tersesat di jalan, dan dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Sedangkan orang yang meniti jalan fikih, ilmu, pengkajian dan kalam; apabila dia tidak mengikuti aturan syariat dan tidak beramal dengan ilmunya, maka akibatnya akan menjerumuskan dia menjadi orang yang fajir (berdosa) dan tersesat di jalan. Inilah prinsip yang wajib dipegang oleh setiap muslim. Adapun sikap fanatik untuk membela suatu urusan apa saja tanpa landasan petunjuk dari Allah maka hal itu termasuk perbuatan kaum jahiliyah.” (Majmu’ Fatawa, juz 2 hal. 444. Asy-Syamilah)

Sebelum menutup tulisan ini, perlu kiranya kita ingat bersama dampak yang timbul akibat merebaknya ajaran sufi ini di masyarakat -khususnya di negeri kita ini- sebagaimana yang pernah kami saksikan sendiri bahkan kami dahulu termasuk di antara mereka -dengan taufik dari Allahlah kami meninggalkannya dan menemukan manhaj salaf yang mulia ini-, perhatikanlah dengan mata yang jernih dan pikiran yang tenang… bukankah tersebarnya pemujaan kubur-kubur wali dan orang-orang salih -yang notabene adalah syirik dan bid’ah- di negeri ini timbul karena dakwah dan ajaran sufi? Cermatilah wahai saudaraku yang cerdas… betapa ramainya kubur para wali dikunjungi dan dijadikan tempat untuk mencari berkah, berdoa, beristighotsah dan bertawassul dengan orang-orang yang sudah mati. Dimanakah gerangan itu terjadi?, apakah di pusat-pusat dakwah salafiyah -yang hakiki- ataukah di pusat-pusat dakwah salafiyah yang sebenarnya lebih layak untuk disebut sufi? Padahal, kita semua mestinya sudah mengerti bahwa dosa kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik itu bagi orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Sebagaimana pula kebid’ahan bukan semakin menambah pelakunya dekat dengan Allah, namun justru semakin dekat dengan syaitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini salah satu lafazh Muslim). Simaklah keterangan Ibnu Hajar dan An-Nawawi berikut ini… semoga hati kita menjadi semakin mantap mengikuti kebenaran…. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini tergolong pokok ajaran Islam dan salah satu kaidahnya. Makna dari hadits ini adalah; barangsiapa yang mereka-reka sesuatu dalam urusan agama yang tidak didukung dengan dalil di antara dalil-dalil agama yang ada maka hal itu tidak diakui.” (Fath Al-Bari, 5/341, lihat juga keterangan serupa oleh An-Nawawi dalam Syarh Muslim, 6/295). An-Nawawi rahimahullah berkata, “Di dalamnya terkandung bantahan bagi segala bentuk perkara yang baru (dalam agama), sama saja apakah yang menciptakan itu adalah pelakunya atau ada orang lain yang lebih dulu membuatnya.” (Syarh Muslim, 6/295). Itulah ucapan yang adil dan bijak dari dua orang ulama besar penganut madzhab Syafi’i…

Sungguh bijak ucapan buya HAMKA rahimahullah yang mengatakan, “Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah dari syirik, bid’ah dan ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.” (Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7. Buku ini dapat didownload di perpustakaanislam.com).

Semoga Allah berkenan memberikan taufik kepada saudara-saudara kami yang meninggalkan jalan yang lurus agar mereka kembali menuju jalan yang lurus itu kembali. Alangkah senangnya hati kami jika saudara-saudara kami mendapatkan hidayah, sebagaimana kami juga meminta kepada-Nya dengan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang maha tinggi untuk mewafatkan kita di atas jalan yang lurus itu dalam keadaan Allah meridhai kita dan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Kasyf, Khurafat dari Shufi

Kasyf, Khurafat dari Shufi

Tingkatan atau derajat tinggi yang diklaim oleh orang shufi ada pula yang mereka namakan kasyf (tersingkapnya tabir).

Kasyf, menurut kaum shufi adalah melihat hal yang ghaib dan menyaksikannya dengan tegas. Dengan demikian mereka mengaku atau meyakini, kalau sampai pada derajat kasyf itu maka mereka dapat mengetahui hal-hal yang gelap, rahasia-rahasia yang tersembunyi, dan memecahkan segala soal-soal yang pelik. (lihat HSA Al-Hamda­ni, Sanggahan terhadap Tashawuf dan Ahli Sufi, PT Al-Ma’arif

Bandung, cet. kedua, 1972, hal. 16).

Di antaranya ialah kepandaian membedakan hadits yang shahih dari yang dha’if (lemah). Maksud tujuannya ialah memperkuat madzhab dan kepercayaannya dengan hadits-hadits yang dibikin-bikin dan hadits-hadits yang dha’if, lalu dianggap sebagai hadits shahih dengan perantaraan kasyf itu. (ibid, hal 16).

Orang-orang yang meyakini kasyf membantah ulama yang tidak mau menjadikan lintasan-lintasan hati kaum shufi dan ilham-ilham mereka sebagai hujjah dalam hukum Islam. Karena kaum shufi meyak­ini bahwa ilham-ilham, lintasan-lintasan hati shufi, dan kasyfnya itu tidak mungkin akan salah. Hingga seorang pengarang kitab Fawatihur rahamaut syarah musallamits tsubut di dalam ushul fiqh, dan dia termasuk salah seorang yang memiliki kecenderungan shufi yang dhahir, menyanggah Al-Allamah Ibnul Hammam Al-Hanafi, yang menafikan atau menolak ilham sama sekali sebagai hujjah. Penga­rang kitab Fawatih (yang shufi itu) mengatakan:

“Sesungguhnya ilham tidak akan terjadi kecuali disertai penciptaan ilmu dharuri (ilmu yang ada dengan sendirinya) yang datang dari sisi Allah SWT, atau dari ruh Muhammady (ruh Nabi Muhammad). Maka pada saat itu tidak akan ada keraguan yang timbul akibat adanya kesalahan padanya (ilham). Ilmu seperti ini dera­jatnya lebih tinggi dibanding ilmu yang dihasilkan dengan dalil-dalil yang tidak qoth’i (tidak pasti). Maka aneh sekali, seorang syeikh seperti Al-Allamah Ibnul Hammam Al Hanafy menolak salah satu bejana ilmu. Barangkali beliau beranggapan bahwasanya ilham itu adalah sesuatu yang terjadi di dalam hati yang berasal dari

lintasan-lintasan hati, padahal bukan demikian. Apakah kamu belum mendengar atau mengetahui apa yang telah ditulis oleh Syaikh Quthbu Waqtihi (wali quthub pada zamannya) yaitu Abu Yazid Al-Bustamy -semoga Allah mensucikan kerahasiaannya yang mulia- terhadap sebagian ahli hadits: ‘Kamu mengambil ilmu dari yang telah menjadi mayit, kemudian kalian kaitkan kepada Rasulullah saw, sedangkan kami mengambil ilmu dari Yang Maha Hidup dan Tidak

Pernah Akan Mati (Allah)!’ (kitab Fawatihur Rahamaut, dicetak menjadi satu dengan kitab Al Mustashfa karya Imam Ghazaly: 2/372, seperti dikutip Dr Yusuf Al-Qardhawy dalam Mawaqiful Islam minal Ilham wal Kasyf….. diterjemahkan menjadi Sifat Islam terhadap Ilham, Kasyf, Mimpi, Jimat, Perdukunan, dan Jampi, Bina Tsaqafah Jakarta, cet I, 1417H/ 1997, hal 79-80).

Kemudian Dr Yusuf Al-Qardhawi menukil bantahan dari Ibnu Taimiyah terhadap klaim ilham dan kasyf yang dianggap ma’shum (terjaga dari kesalahan) itu sebagai berikut:

“Umat ini tidak membutuhkan kepada muhaddatsun dan mulhamun disebabkan telah sempurnanya risalah nabi umat ini dan telah sempurnanya syari’at beliau saw. Oleh karena itu bentuk lafadz (shighoh) hadits tersebut:

“Fain yakun fii ummatii ahadun fa ‘umar”

“Jika ada di antara umatku seseorang (seperti mereka) maka Umar-lah orangnya.”

Sedangkan apa yang disebutkan oleh pengarang kitab Al Fawatih merupakan pendapat subyektif dan tidak ilmiah, dan semata-mata merupakan klaim-klaim yang menyimpang tanpa ada buktinya. Dia telah mencampur adukkan di dalam nama-nama yang telah dia kumpul­kan itu, antara orang-orang yang bodoh dan orang-orang yang cer­das, antara ahlus sunnah dan ahli bid’ah, antara orang yang bertauhid dan orang yang berfaham hululi (kepercayaan bahwa Tuhan dapat menitis ke dalam makhluk) serta ittihady (kepercayaan bahwa dunia dan seisinya adalah Tuhan). Dan yang lebih mengherankan mengapa hal seperti ini ditulis dalam ilmu ushul (fiqh), padahal ilmu ushul merupakan timbangan akal dan logika manqul (penalaran yang masuk akal dan berdasarkan dalil-dalil naqli)!

Apa yang dikatakan oleh pengarang kitab Al-Fawatih ini dan orang-orang yang seperti dia, mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum syi’ah tentang imam-imam mereka, padahal perkataan seperti ini amat sangat diingkari oleh ahlus sunnah.

Pendapat kaum syi’ah itsna ‘asyariyah telah sampai kepada puncaknya dengan menyatakan kema’shuman ilham para imam mereka yang dua belas. Maka, apa saja yang diilhamkan kepada mereka (para imam yang 12) tidak mungkin akan berlaku padanya kemungki­nan salah, karena apa yang diilhamkan kepada mereka bukan tumbuh dari hasil ijtihad, seperti hasil ijtihadnya para imam madzhab fiqh, yang kemungkinan benar dan kemungkinan salah, sehingga yang benar diberikan pahala dengan dua pahala, dan yang salah diberi satu pahala. Sesungguhnya ilham mereka adalah ilham yang datang dari Allah untuk seorang imam, dimana Allah akan menyingkapkan baginya dengan ilham tersebut perkara yang gaib bagi orang lain, dan ilham tersebut pasti benar, baik berupa kabar ataupun hukum. Jika berupa kabar maka pasti benar dan jika berupa hukum maka pasti adil dan tidak perlu dibantah lagi!

Dengan keyakinan seperti ini mereka pada hakekatnya telah menetapkan sifat ‘Isham (suci dari kesalahan) kepada selain Rasulullah saw dan juga berarti telah mewajibkan ketaatan kepada selain Allah dan Rasul-Nya, yang mana keyakinan demikian tentu bertolak belakang dengan apa yang telah diputuskan oleh hukum-hukum yang sudah jelas (muhkamat) di dalam al-Quranul Karim, dan penjelasan-penjelasan hadits yang mulia.

Kemudian Ibnu Taimiyah seperti dikutip Dr Yusuf Al-Qardhawi menegaskan bahwa tidak ada yang suci dari kesalahan (Ishmah) selain Al-Quran dan As-Sunnah. Penjelasannya sebagai berikut:

Di antara kewajiban yang mesti kami putuskan di sini dengan sejelas-jelasnya dan seyakin-yakinnya, yang tidak tercampuri oleh keraguan adalah: Bahwasanya tidak ada yang suci dari kesalahan (‘ishmah) selain sesuatu yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Dan setiap orang setelah itu perkataannya (pendapatnya) bisa diambil (diterima) dan bisa ditolak. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita untuk merujuk kepada kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya dalam rangka mengetahui hukum-hukum syari’at-Nya. Allah swt berfirman:

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS 7:3).

Dan Allah berfirman: “Katakanlah” ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul…” (QS 24:54).

Dan Allah berfirman: “Dan jika kamu taat kepadanya (Rasul), niscaya kamu pasti akan mendapat petunjuk…” (QS 24:54).

Dan Allah berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS 59:7).

Dan Allah berfrman: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS 24:63).

Dan Allah berfirman: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (Sunnah­nya).” (QS 4:59).

Selanjutnya, Ibnu Taimiyah seperti dikutip Al-Qardhawi mene­gaskan: Dan Allah swt tidak memerintahkan kepada kita untuk merujuk (kembali) kepada hati-hati kita, atau perasaan batin kita (dzauq), atau kepada lintasan-lintasan hati kita, serta perkara gaib yang tersingkap bagi kita. Karena sesuatu yang berasal dari hal demikian itu tidak ada jaminan suci dari kesalahan baginya, karena suatu saat bisa benar dan pada saat yang lain bisa salah.

Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily mengatakan:

“Sungguh telah ada bagi kita jaminan ‘ishmah (suci dari kesala­han) dalam hal yang datang dari Al-Kitab (Al-Quran) dan As-Snnah, dan tidak ada bagi kita jaminan ‘ishmah (suci dari kesalahan) dalam hal kasyf dan ilham.” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil dari Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili di dalam fatwa-fatwanya (Al-Hikam), Majmu’ul Fatawa: 2/91, dikutip oleh Dr Yusuf Al-Qardhawy, Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyf… hal 82-84).

Tentang keyakinan shufi mengenai kasyf itu di antaranya dije­laskan oleh Ibnu ‘Arabi dalam kitab Futuhatnya dan Al-Jili dalam Insanul Kamil-nya. Sedangkan al-Ghazali sendiri telah mengakui bahwa ia tidak memperoleh keyakinan sesudah dihinggapi syak dan kesangsian kecuali dengan perantaraan kasyf. Yaitu setelah ia beri’tikaf beberapa tahun di menara Masjid Damaskus dan di Masjid Baitul Maqdis. (Lihat kitab Al-Ghazali, Al-Munqidzu minaddholaal, dan Al-lamus Syamikh hal. 370, dan Akhlaq, hal. 42, seperti dikutip HSA Al-Hamdani dalam Sanggahan terhadap tashawuf… hal 16).

Kasyf Syaithani dan Kasyf Haqiqi

Sorotan yang tajam terhadap batilnya kasyf ini juga ditulis oleh Al Allamah Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar. Dr Yusuf Al-Qardhawi mengutipnya sebagai berikut:

Bahwa ilham atau kasyf semata-mata merupakan salah satu contoh dari pengetahuan jiwa yang berbicara, tidak tetap (baku) dan tidak teratur. Dan bukan merupakan pengetahuan yang berlandaskan kepada akal dan tidak pula bersandarkan kepada dalil syar’i, akan tetapi cuma merupakan pengetahuan yang kurang, yang terkadang salah terkadang benar, dan sebab-sebabnya yang alamiah pun mudah untuk diketahui. Sebagian ada yang bersifat bawaan (fithry), sebagian ada yang diperoleh dengan usaha (kasby) dan sebagian lagi hasil ciptaan (shina’i), seperti hipnotis yang dikenal di abad ini, dan apa yang mereka namakan dengan membaca fikiran, komunikasi fikiran, dan yang mereka serupakan dengan transfer berita lewat kawat listrik maupun transfer berita tanpa kawat listrik.

Pengetahuan seperti ini tentu bisa dikuasai oleh orang mu’min maupun orang kafir, orang yang baik maupun orang yang jahat, sebagaimana diakui oleh para shufi muslim bahwa pengetahuan semacam ini dikuasai pula oleh shufi beragama hindu. Para shufi muslim mengakui bahwa pengetahuan yang dikuasai oleh mereka bercampur aduk dengan pengelabuan syetan, dan sedikit sekali orang yang mempunyai kemampuan untuk membedakan antara kasyf syaithani (kasyf yang berasal dari syetan) dan kasyf haqiqi (sesungguhnya), dan tidaklah boleh dinamakan kasyf haqiqi kecuali jika bersesuaian dengan nash yang qoth’i (nash/ teks ayat atau hadits yang pasti).

Di antara berbagai bukti kesalahan dan kepalsuan serta khaya­lan yang ada pada kasyf mereka, yang biasa mereka namakan dengan An-Nurany (yang berkilauan), dan apa yang mereka sebutkan di dalam kasyf mereka berupa pengetahuan mereka yang bermacam-macam, berdasarkan keberagaman pengetahuan mereka tentang seni, kekhura­fatan dan syari’ah adalah terjadinya pertentangan para ahlinya dan saling salah menyalahkan satu sama lain dalam hal ini. Oleh karena itu, anda akan mengetahui sebagian dari mereka menyebutkan di dalam kasyfnya Jabal Qof (gunung qof) yang mengelilingi bumi!

Dan Al hayyah (ular) yang mengelilinginya! Sebagaimana dapat anda ketahui dalam biografi Asy Sya’rani oleh Syaikh Abu Madyan, yang isinya merupakan kekhurafatan-kekhurafatan yang tidak ada hake­katnya.

Di antara mereka ada pula yang menyebutkan di dalam kasyfnya bintang-bintang dan tempat peredarannya dengan cara Yunani yang batil. Dan kebanyakan mereka menyebutkan di dalam ksyf mereka hadits-hadits yang maudhu’ (palsu), walaupun mereka dan orang-orang yang terfitnah dengan kasyf mereka ditentang oleh ulama

hadits. Mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya sebuah hadits terkadang dianggap shahih dalam kasyf kami, walaupun hadits tersebut tidak shahih menurut riwayat-riwayat kalian (ahli hadits), dan kasyf kamilah yang lebih benar, karena kasyf kami berasal dari ilmul yaqin sedangkan ilmu kalian berasal dari dugaan (dhon)!’

Kesimpulannya adalah, bahwa kasyf ini adalah urusannya sendiri dan urusan para ahlinya, jika sah bagi kita untuk membenarkannya tentu ketika tidak terjadi pertentangan dengan syari’at, aqidah-aqidahnya serta hukum-hukumnya. Maka tidak dibenarkan bagi orang yang beriman kepada kitabullah dan sunnah rasul-Nya membenarkan sebagian dari kasyf yang jelas-jelas bertentangan dengan Al-Quran

dan Sunnah. Dan tidak dibenarkan pula menetapkan kasyf dengan didasari perintah dari alam gaib selama tidak ditetapkan oleh Al-Quran dan Sunnah. lagi pula kita tidak membutuhkan semua ini (kasyf seperti ini). (Tafsir Al-Manar oleh Al Allamah Muhammad Rasyid Ridha, Jilid 11/447, cetakan keempat, seperti dikutip Dr Yusuf Al-Qardhawi, Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyf… hal. 86-87).

Penjelasan-penjelasan tersebut sangat gamblang bahwa kasyf shufi itu batil. Orang mu’min maupun kafir bisa memperolehnya, orang jahat maupun shalih dapat juga, sebagaimana hasil kasyf itu ada yang dari syaitan, dan ada yang mengandung kebenaran, tidak ada patokannya. Maka ketika ungkapan semacam ini saya ajukan
kepada guru besar tasawwuf dengan ungkapan bahwa Joyoboyo yang bukan Islam pun bisa mendapatkan kasyf itu; ternyata Pak Guru Besar Tasawwuf itu marah, dan tidak ada jawaban pasti, seperti sudah kami kemukakan di atas. Masihkah mereka mau mengklaim kebenaran kasyf dengan cara lain lagi selain marah-marah dan bicara ngaco (tidak teratur)?

Dan dari sinilah bisa kita fahami, kenapa orang-orang Syi’ah, sekuler, dan pengacau Islam kini justru ramai-ramai menjajakan tasawwuf. Ternyata, dalam hal kepercayaan/ aqidah maupun sikap mereka terhadap hadits adalah sama-sama, yaitu mengacaukan. Hingga ketatnya aqidah dalam Islam ini jelas-jelas mereka tabrak, sedang ketatnya pembatasan tentang keshahihan hadits pun terang-terang mereka tabrak pula. Bila aqidah, suatu fondasi tempat berdirinya Islam, telah mereka kacaukan, dan hadits sebagai landasan utama yang kedua setelah Al-Quran telah mereka halalkan untuk dipalsukan dengan cara mengklaim ke-kasyf-an untuk mensha­hihkan kepalsuan, maka hancurlah Islam ini. Masih pula ditambahi dengan tabiat shufi yang tunduk patuh bahkan sering mendukung kepada penguasa dhalim –walaupun menghancurkan Islam– maka sempurnalah konspirasi dan konvigurasi mereka (shufi, syi’ah, sekluer, munafiqin, kafirin, musyrikin, pengacau agama, dukun, paranormal, ahli bid’ah, politikus licik anti Islam, dan penguasa dhalim) dalam menghancurkan Islam dengan wajah yang pura-pura teduh karena berkedok main batin. Maka waspadalah wahai saudara-saudaraku Ummat Islam, jangan sampai tertipu oleh permainan mereka yang sudah dibabat oleh para ulama pada awal abad keempat Hijriyah dengan dibunuh dan disalibnya dedengkot shufi bernama Al-Hallaj, namun kemudian digali dan dihidup-hidupkan lagi oleh para orientalis Barat antek penjajah anti Islam, kemudian dikem­bangkan lagi oleh antek-antek orientalis di mana-mana sampai kini lewat aneka sarana. Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada para pengamal Islam dan penyerunya yang setia dan istiqomah hingga mampu menghancurkan kebatilan mereka yang mengancam Islam itu.
Amien.

dikutip dari buku Tasawuf Belitan Iblis
karya H Hartono Ahmad Jaiz -
http://www.pakdenono.com
http://www.swaramuslim.net

SEJARAH DAN FITNAH TASAWUF

SEJARAH DAN FITNAH TASAWUF

Orang-orang  sufi  pada  periode-periode  pertama  menetapkan untuk  merujuk (kembali) kepada Al-Quran  dan  As-Sunnah,  namun kemudian Iblis memperdayai mereka karena ilmu mereka yang sedikit sekali.

Ibnul Jauzi (wafat 597H) yang terkenal dengan bukunya  Talbis Iblis menyebutkan contoh,  Al-Junaid  (tokoh  sufi) berkata, “Madzhab  kami ini terikat dengan dasar, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah.”

Dia  (Al-Junaid) juga berkata, “Kami tidak  mengambil  tasawuf dari perkataan orang ini dan itu, tetapi dari rasa lapar, mening­galkan dunia, meninggalkan kebiasan sehari-hari dan hal-hal  yang dianggap baik. Sebab tasawuf itu berasal dari kesucian  mu’amalah (pergaulan) dengan Allah dan dasarnya adalah memisahkan diri dari dunia.”

Komentar  Ibnul  Jauzi, jika seperti ini  yang  dikatakan  para syeikh  mereka, maka dari syeikh-syeikh yang lain  muncul banyak kesalahan  dan penyimpangan, karena mereka menjauhkan  diri  dari ilmu.

Jika memang begitu keadaannya, lanjut Ibnul Jauzi, maka  mereka harus disanggah, karena tidak perlu ada sikap manis  muka  dalam menegakkan  kebenaran.  Jika tidak benar, maka kita  tetap  harus waspada terhadap perkataan yang keluar dari golongan mereka.

Dicontohkan  suatu  kasus, Imam Ahmad  bin  Hanbal  (780-855M) pernah berkata tentang diri Sary As-Saqathy, “Dia seorang  syeikh yang  dikenal  karena suka menjamu makanan.”  Kemudian  ada  yang mengabarinya  bahwa dia berkata, bahwa tatkala Allah  menciptakan huruf-huruf,  maka huruf ba’ sujud kepada-Nya. Maka seketika  itu pula  Imam Ahmad berkata: “Jauhilah dia!” (Ibnul  Jauzi,  Talbis Iblis, Darul Fikri, 1368H, hal 168-169).

Kapan awal munculnya tasawuf

Tentang  kapan awal munculnya tasawuf, Ibnul Jauzi  mengemuka­kan,  yang pasti, istilah sufi muncul sebelum tahun 200H.  Ketika pertama  kali  muncul, banyak orang yang  membicarakannya  dengan berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka  meru­pakan  latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akherat.

Begitulah yang terjadi pada diri orang-orang yang pertama kali memunculkannya. Lalu datang talbis Iblis (tipuan mencampur  adukkan  yang haq dengan yang batil hingga yang batil dianggap haq) terhadap mereka (orang sufi) dalam berbagai hal. Lalu Iblis  memperdayai  orang-orang setelah itu daripada pengikut  mereka. Setiapkali  lewat  satu  kurun waktu, maka  ketamakan  Iblis  untuk memperdayai mereka semakin menjadi-jadi. Begitu seterusnya hingga mereka yang datang belakangan telah berada dalam talbis Iblis.

Talbis Iblis yang pertama kali terhadap mereka adalah  mengha­langi  mereka mencari ilmu. Ia menampakkan kepada  mereka  bahwa maksud  ilmu  adalah amal. Ketika pelita ilmu yang ada  di  dekat mereka  dipadamkan, mereka pun menjadi linglung dalam  kegelapan.

Di  antara  mereka ada yang diperdaya Iblis,  bahwa  maksud  yang harus digapai adalah meninggalkan dunia secara total. Mereka  pun menolak hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi badan, mereka menyerupakan  harta dengan kalajengking, mereka  berlebih-lebihan dalam  membebani  diri,  bahkan di antara mereka  ada  yang  sama sekali tidak mau menelentangkan badannya, terlebih lagi tidur.

Sebenarnya  tujuan mereka itu bagus. Hanya saja mereka  meniti jalan yang tidak benar dan diantara mereka ada yang karena minim­nya ilmu, lalu berbuat berdasarkan hadits-hadits maudhu` (palsu), sementara dia tidak mengetahuinya.

Syari’at dianggap ilmu lahir hingga aqidahnya rusak

Kemudian  datang  suatu golongan yang lebih  banyak  berbicara tentang rasa lapar, kemiskinan, bisikan-bisikan hati dan  hal-hal yang  melintas di dalam sanubari, lalu mereka membukukan  hal-hal itu,  seperti  yang dilakukan  Al-Harits  Al-Muhasibi (meninggal 857M). Ada pula golongan lain yang mengikuti jalan tasawuf, menyendiri  dengan  ciri-ciri tertentu,  seperti  mengenakan  pakaian tambal-tambalan,  suka mendengarkan syair-syair, memukul  rebana, tepuk  tangan dan sangat berlebih-lebihan dalam masalah  thaharahdan  kebersihan. Masalah ini semakin lama  semakin  menjadi-jadi, karena para syaikh menciptakan topik-topik tertentu,  berkata menurut  pandangannya  dan  sepakat untuk  menjauhkan  diri dari ulama.  Memang mereka masih tetap menggeluti ilmu, tetapi  mereka menamakannya ilmu batin, dan mereka menyebut ilmu syari’at  seba­gai ilmu dhahir. Karena rasa lapar yang mendera perut, mereka pun membuat  khayalan-khayalan yang musykil, mereka  menganggap  rasa lapar  itu sebagai suatu kenikmatan dan kebenaran. Mereka  memba­yangkan sosok yang bagus rupanya, yang menjadi teman tidur  mere­ka. Mereka itu berada di antara kufur dan bid’ah.

Kemudian  muncul beberapa golongan lain yang  mempunyai  jalan sendiri-sendiri, dan akhirnya aqidah mereka jadi rusak. Di antara mereka  ada  yang  berpendapat tentang  adanya  inkarnasi/hulul (penitisan)  yaitu Allah menyusup ke dalam diri makhluk  dan  ada yang  menyatakan  Allah menyatu dengan  makhluk/ ittihad. Iblis senantiasa menjerat mereka dengan berbagai macam bid’ah, sehingga mereka membuat sunnah tersendiri bagi mereka. (ibid, hal 164).

Perintis tasawuf tak diketahui pasti

Abdur  Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus  Shufi  fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara  tepat siapa  yang  pertama kali menjadi sufi di kalangan  ummat  Islam. Imam  Syafi’i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, “Kami  ting­galkan  kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng; aliran  yang  tidak percaya kepada Tuhan,  berasal  dari  Persia; orang  yang  menyelundup ke dalam Islam,  berpura-pura  –menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu  yang  baru yang mereka namakan assama’  (nyanyian).

Kaum  zindiq  yang dimaksud Imam Syafi’i  adalah  orang-orang sufi. Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian  yang mereka  dendangkan. Sebagaimana  dimaklumi, Imam  Syafi’i  masuk Mesir tahun 199H.

Perkataan Imam Syafi’i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal  sebelum  itu. Alasannya, Imam Syafi’i  sering  berbicara tentang mereka di antaranya beliau mengatakan:

“Seandainya  seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka  siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu.”

Dia  (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu  akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis  Iblis, hal 371).

Semua  ini,  menurut Abdur Rahman Abdul  Khaliq,  menunjukkan bahwa  sebelum berakhirnya  abad kedua  Hijriyah  terdapat  satu kelompok  yang  di kalangan ulama Islam  dikenal  dengan  sebutan Zanadiqoh (kaum zindiq), dan terkadang dengan sebutan mutashawwi­fah (kaum sufi).

Imam Ahmad (780-855M) hidup sezaman dengan Imam Syafi’i  (767-820M),  dan pada mulanya berguru kepada Imam  Syafi’i.  Perkataan Imam  Ahmad tentang keharusan menjauhi orang-orang tertentu  yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang. Di  antara­nya  ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa  ten­tang  perkataan  Al-Harits  Al-Muhasibi  (tokoh  sufi, meninggal 857M). Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

“Aku  nasihatkan  kepadamu,  janganlah  duduk  bersama  mereka (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi)”.

Imam  Ahmad  memberi nasihat seperti itu karena  beliau  telah melihat  majlis  Al-Harits  Al-Muhasibi. Dalam  majlis  itu  para peserta  duduk dan menangis –menurut mereka–  untuk  mengoreksi diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang jahat. (Perlu kita  cermati,  kini ada kalangan-kalangan muda  yang mengadakan daurah/penataran atau halaqah /pengajian, lalu mengadakan muhasabatun  nafsi/ mengoreksi diri, atau mengadakan apa yang  mereka sebut renungan, dan mereka menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang meraung-raung. Apakah  perbuatan mereka itu  ada  dalam   sunnah Rasulullah saw? Ataukah memang mengikuti kaum sufi itu?).

Abad III H Sufi mulai berani, semua tokohnya dari Parsi

Tampaknya, Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu`anhu mengucapkan perkataan tersebut pada awal abad ketiga Hijriyah. Namun  sebelum abad  ketiga  berakhir, tasawuf telah muncul dalam  hakikat  yang sebenarnya,  kemudian tersebar luas di tengah-tengah  umat,  dan kaum sufi telah berani mengatakan sesuatu yang sebelumnya  mereka sembunyikan.

Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal  perkembangannya hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa  seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan  keempat Hijriyah berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat  agama Majusi,  kemusyrikan yang menyembah api, kemudian  menjadi  pusat Agama Syi’ah), tidak ada yang berasal dari Arab.

Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah  dan hukum, pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain  bin Manshur Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan pengua­sa,  yakni  dia menyatakan bahwa Allah menyatu  dengan  dirinya, sehingga  para ulama yang semasa dengannya menyatakan  bahwa  dia telah kafir dan harus dibunuh.

Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap  Husain bin  Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian,  sufisme tetap  menyebar  di negeri Parsi, bahkan kemudian  berkembang  di Irak.

Abad keempat mulai muncul thariqat/ tarekat

Tersebarnya  sufisme  didukung oleh Abu Sa`id  Al-Muhani.  Ia mendirikan tempat-tempat penginapan yang dikelola secara  khusus yang selanjutnya ia ubah menjadi markas sufisme. Cara  penyebaran sufisme seperti itu diikuti oleh para tokoh Sufi lainnya sehingga pada pertengahan abad keempat Hijriyah berkembanglah cikal  bakal thariqat/  tarekat sufiyah, kemudian secara  cepat tersebar di Irak, Mesir, dan Maghrib (Maroko).

Pada abad keenam Hijriyah muncul beberapa tokoh tasawuf,  mas­ing-masing mengaku bahwa dirinya keturunan Rasulullah SAW, kemud­ian  mendirikan tempat thariqat sufiyah dengan  pengikutnya  yang tertentu. Di Irak muncul thariqat sufiyah Ar-Rifa`i  (Rifa’iyah); di  Mesir  muncul Al-Badawi, yang tidak diketahui siapa  ibunya, siapa bapaknya, dan siapa keluarganya; demikian juga Asy-Syadzali

(Syadzaliyah/  Syadziliyah) yang muncul di Mesir. Dari  thariqat-thariqat tersebut muncul banyak cabang thariqat sufiyah.

Abad ke-6,7, & 8 puncak fitnah shufi

Pada  abad  keenam,  ketujuh, dan  kedelapan  Hijriyah  fitnah sufisme  mencapai puncaknya.  Kaum  Sufi  mendirikan   kelompok-kelompok khusus, kemudian di berbagai tempat dibangun kubah-kubah di atas kuburan. Semua itu terjadi setelah tegaknya Daulah Fathi­miyah  (kebatinan) di Mesir, dan setelah perluasan kekuasaan  ke wilayah-wilayah dunia Islam. Lalu, kuburan-kuburan palsu  muncul, seperti kuburan Husain bin Ali radliyallahu `anhuma di Mesir, dan kuburan Sayyidah Zainab. Setelah itu, mereka mengadakan peringatan  maulid  Nabi, mereka melakukan bid`ah-bid`ah  dan  khufarat-khufarat. Pada akhirnya mereka meng-ilahkan (menuhankan) Al-Hakim Bi-Amrillah Al-Fathimi Al-Abidi.

Propaganda  yang  dilakukan oleh  Daulah  Fathimiyah  tersebut berawal  dari Maghrib  (Maroko),  mereka  menggatikan kekuasaan Abbasiyah  yang  Sunni. Daulah Fathimiyah  berhasil  menggerakkan kelompok Sufi untuk memerangi dunia Islam. Pasukan-pasukan kebat­inan tersebut kemudian menjadi penyebab utama berkuasanya pasukan salib (Kristen Eropa) di wilayah-wilayah Islam.

Pada abad kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas Hijriyah, telah muncul  berpuluh-puluh  thariqat  sufiyah,  kemudian  aqidah  dan syari`at Sufi tersebar di tengah-tengah umat. Keadaan yang merata berlanjut sampai masa kebangkitan Islam baru.

Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya memerangi shufi

Sesungguhnya kebangkitan Islam sudah mulai tampak pada akhir abad ketujuh dan awal abad kedelapan Hijriyah, yaitu tatkala Imam Mujahid Ahmad bin Abdul-Hakim Ibnu Taimiyyah (1263-1328M) meme­rangi seluruh aqidah yang menyimpang melalui pena dan lisannya, di antara yang diperangi adalah aqidah kaum Sufi.

Setelah itu, perjuangan beliau dilanjutkan oleh murid-muridnya, seperti Ibnul-Qayyim (Damaskus 1292-1350M), Ibnu-Katsir (wafat 774H), Al-Hafizh Adz-Dzahabi, dan Ibnu Abdil-Hadi.

Meskipun  mendapat serangan, tasawuf, dan aqidah-aqidah  batil terus mengakar, hingga berhasil menguasai umat. Namun, pada  abad kedua belas hijriyah Allah mempersiapkan Imam Muhammad bin Abdul-Wahhab untuk umat Islam. Ia mempelajari buku-buku Syaikh Ibnu Taimiyyah, kemudian bangkit memberantas dan memerangi kebatilan. Dengan  sebab upaya beliau, Allah merealisasikan kemunculan  ke­bangkitan Islam baru.

Da`wah  Muhammad  bin Abdul-Wahhab disambut  oleh  orang-orang mukhlis  di seluruh penjuru dunia Islam. Namun,  daulah  sufisme tetap  memiliki  kekuatan di berbagai wilayah  dunia  Islam,  dan simbol-simbol tasawuf masih tetap ada. Simbol-simbol tasawuf yang dimaksudkan adalah kuburan-kuburan, syaikh-syaikh atau  guru-guru sesat, dan aqidah-aqidah yang rusak dan batil  (lihat: Al-Fikrush-Shufi fi Dhau`il-Kitab was Sunnah,oleh Abdur-Rahman Abdul-Khaliq, halaman 49-53, dikutip Laila binti Abdillah dalam As-Shufiyyah `Aqidah wa Ahdaf, Darul Wathan Riyad, I, 1410H, hal 13-17).

dikutip dari buku Tasawuf Belitan Iblis
karya H Hartono Ahmad Jaiz -
http://www.pakdenono.com
http://www.swaramuslim.net

SOROTAN TERHADAP TASAWUF

SOROTAN TERHADAP TASAWUF

Beberapa  komentar  tentang tasawwuf  akan  menjelaskan  bahwa sebenarnya tasawwuf  itu berasal dari luar  Islam.  Berikut  ini komentar para ulama dan ilmuwan yang menyoroti tasawwuf.

Syaikh Ihsan Ilahi Dhahir rahimahullah menulis:

“Ketika  kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran  sufi yang  pertama dan terakhir, serta pendapat-pendapat yang  dikutip dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab sufi, baik yang  lama maupun  yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas  perbedaan yang jauh antara sufi dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Begitu  juga kita  tidak melihat adanya bibit-bibit sufi di  dalam  perjalanan hidup Nabi saw dan para sahabat beliau, yang mereka  itu  adalah (sebaik-baik)  pilihan Allah dari kalangan  makhluk-Nya. Tetapi kita  bisa melihat bahwa sufi diambil dari  percikan  kependetaan Nasrani,  Brahmana (Hindu), Yahudi, dan kezuhudan Agama  Budha.” (Ihsan Ilahi Dhahir, At-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashadir hal 27, seperti dikutip Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan,  Haqiqatut Tashawwuf / diterjemahkan menjadi Hakikat Tasawuf, Pustaka  As-Salaf, Cet I, 1998/ 1419H, hal 19).

Komentar  ilmuwan lainnya hampir sama.

“Jelas  bahwa tasawwuf memiliki pengaruh dari  kehidupan  para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba  dan berdiam  di biara-biara. Dan ini banyak sekali. Islam  memutuskan kebiasaan  ini  ketika  Islam membebaskan setiap  negeri  dengan tauhid.” (Dr Shobir Tho’imah, Ash-Shufiyyah Mu’taqadan wa  Masla­kan, Riyadh, Cet I, 1985M/ 1405H, hal 25, ibid hal 19).

Lebih jelas lagi, komentar berikut ini: “Sesungguhnya  tasaw­wuf  itu  adalah tipuan/ makar paling hina  dan  tercela.  Syetan telah  membuatnya  untuk menipu para hamba  Allah  dan  memerangi Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Sesungguhnya tasawwuf  adalah topeng   kaum Majusi agar ia terlihat sebagai orang yang  Rabbani (taat  pada  Tuhan),  bahkan juga topeng semua  musuh agama ini (Islam). Bila diteliti ke dalam akan ditemui di dalamnya  (ajaran kaum  sufi, ed) ada Brahmaisme, Budhisme, Zaratuisme,  Platoisme, Yahudisme, Nasranisme, dan Paganisme/ Berhalaisme.” (Syaikh Abdur Rahim  Al-Wakil rahimahullah, Mashra’ut Tashawwuf, hal  19,  ibid hal 19).

Syaikh  Al-Fauzan  menyimpulkan:

“Jelaslah  bahwa sufi adalah ajaran (dari) luar yang  menyusup ke  dalam  Islam. Hal itu tampak  dari  kebiasaan-kebiasaan  yang dinisbatkan kepadanya. Sufi adalah suatu ajaran yang asing (aneh) di dalam Islam dan jauh dari petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Yang  dimaksud  dengan kalangan sufi  yang  belakangan  adalah mereka  yang sudah banyak berisi dengan kebohongan.  Adapun  sufi yang dahulu, mereka masih berada di dalam keadaan netral, seperti Al-Fudhail  bin  ‘Iyadh, Al-Junaid, Ibrahim bin Adham  dan  lain-lain.” (Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, terjemah Hakikat Tasawwuf, hal 20).

Ucapan-ucapan Orang Shufi Sangat Tidak Layak

Ibnul Jauzi (w 597H) dalam Kitabnya, Talbis Iblis mencontohkan betapa ekstrimnya bualan orang sufi, hingga melewati batas dan menentang Allah SWT.
Karena orang-orang sufi jauh dari ilmu, ungkap Ibnul Jauzi, maka perhatian mereka tertuju kepada amal, lalu mereka sepakat menunjukkan kelemahlembutan yang menyerupai karamah, lalu  mereka mengeluarkan berbagai macam bualan.

Diriwayatkan, Abu Yazid Al-Busthamy (tokoh sufi) berkata, “Aku ingin  andaikata saja hari Kiamat sudah tiba, sehingga  aku  bisa memancangkan kemah di Neraka Jahannam.”

“Mengapa begitu wahai Abu Yazid?” tanya seseorang.

Dia  menjawab, “Sebab aku tahu bahwa jika Jahannam  melihatku, maka apinya akan padam, sehingga aku bisa menolong orang lain.”

Abu Musa As-Syibli berkata, saya mendengar Abu Yazid  berkata: “Apabila  telah ada hari Kiamat dan Dia memasukkan ahli surga  ke surga  dan ahli neraka ke neraka, maka mintakanlah padaNya  untuk memasukkanku  ke  neraka. Lalu ditanyakan  padanya  (Abu  Yazid), kenapa? Dia berkata: “Sehingga para makhluk tahu bahwa  kebaikan­-Nya  dan kelemahlembutanNya di dalam neraka menyertai para  wali­-Nya.”

Komentar Ibnul Jauzi: “Benar-benar perkataan yang sangat menji­jikkan,  karena dia telah menghinakan apa yang diagungkan  Allah, yaitu  perintah-Nya kepada Neraka. Padahal Allah juga telah  pan­jang lebar menjelaskan masalah Neraka ini, seperti firman-Nya:

”Maka  peliharalah  diri kalian dari api  neraka,  yang  bahan bakarnya manusia dan batu.” (Al-Baqarah: 24).

“Apabila  Neraka  itu melihat mereka dari  tempat  yang  jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.” (QS Al-Furqan/25:12).

Dari  Abu Hurairah ra, dia berkata,
“Rasulullah saw  bersabda: “Sesungguhnya neraka  kalian ini, yang  dinyalakan  dengan  Bani Adam,  merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian  dari  panas Jahannam.”

Para sahabat berkata, “Demi Allah, itu benar-benar sudah cukup wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda,
“Jahannam itu dilebihkan enam puluh  tujuh bagian, yang semuanya seperti itu panasnya.” (Diriwayatkan  Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi saw, beliau bersabda:
Yu’taa  bijahannama yaumaidzin lahaa sab’uuna  alfa  zimaamin ma’a kulli zimaamin sab’uuna alfa malakin yajurruunahaa.”

“Jahannam  didatangkan pada hari itu ia memiliki  tujuh  puluh ribu belenggu, serta setiap belenggu dijaga 70.000 malaikat yang menyeretnya.” (HR Muslim). (Talbis Iblis, hal 341-342).

Dari Al-Junaid bin Muhammad, dia berkata, “Kemarin ada seseorang yang ingin bertemu denganku, yang berasal dari Bustham. Dia bercerita tentang Abu Yazid Al-Busthami yang pernah berkata,  “Ya Allah,  seandainya  sudah ada dalam pengetahuan-Mu  bahwa  Engkau akan  mengadzab seseorang dari hamba-Mu dengan api  neraka,  maka agungkanlah  penciptaanku, agar dengan keberadaanku Engkau  tidak mengadzab selainku.”

Komentar Ibnul Jauzi,  “Dari semua  pernyataannya  ini  bisa dilihat  secara jelas bagaimana keburukan  perangainya.  Terutama bualannya  yang  terakhir, sangat nyata kesalahannya,  yang  bisa dilihat dari tiga segi:

1. Tentang perkataannya, “Seandainya sudah ada dalam  pengetahuan-Mu”, kita sudah tahu bahwa Allah pasti akan mengadzab  makhluk dengan api neraka, dan Allah telah menyebutkan sebagian nama-nama  makhluk itu, seperti Fir’aun dan Abu Lahab. Maka  bagaimana mungkin  dikatakan  “Seandainya”, jika sudah  ada  kepastian  dan keputusan?

2.  Tentang perkataannya, “Maka agungkanlah penciptaanku, agar dengan keberadaanku Engkau tidak mengadzab selainku”, berarti dia juga berbelas kasihan terhadap orang-orang kafir. Masih mendingan jika  dia berkata, “Agar aku dapat membela  orang-orang  Mukmin.” Yang  pasti, bualannya itu merupakan kelancangan terhadap  rahmat Allah.

3.  Dia  tidak tahu ketetapan Allah terhadap api  neraka  atau terlalu  merasa yakin terhadap kesabaran dirinya. Padahal  kedua-duanya tidak ada dalam dirinya. (Talbis Iblis, hal 246,  terjema­hannya  –Perangkap Syetan– Pustaka Al-Kautsar Jakarta, cet  I, hal 288).

Ibnul  Jauzi mencontohkan bualan sufi lain lagi sebagai  beri­kut:

Ibnu  Aqil  pernah menuturkan dari  Asy-Syibli  (tokoh  sufi), bahwa dia berkata, sesungguhnya Allah telah berfirman:

“Dan kelak Rabbmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” (Ad-Dhuha: 5). Demi Allah, Muhammad saw tidak ridha karena di dalam neraka ada seorang dari ummatnya.”

Kemudian  dia  (Asy-Syibli)  berkata,  “Sesungguhnya   Muhammad memintakan syafa’at bagi ummatnya, lalu aku memintakan  syafa’at setelah  beliau, bagi orang-orang yang ada di dalam  neraka,  se­hingga di sana tidak menyisa seorangpun.”

Ibnu  Aqil berkata, “Anggapan Asy-Syibli yang  pertama  tentang Rasulullah  saw (tidak ridha karena di dalam neraka
ada  seorang dari  ummatnya) adalah dusta, karena beliau ridha terhadap  adzab yang dijatuhkan kepada orang-orang yang jahat. Dalam  hubungannya dengan  khamr (minuman keras) saja beliau sudah melaknat  sepuluh orang.  Maka  bagaimana mungkin ada anggapan bahwa  beliau tidak ridha  terhadap adzab yang dijatuhkan kepada orang-orang  dzalim? Tentu saja  ini anggapan yang salah  dan  menunjukkan  kebodohan (tokoh sufi tersebut) terhadap syari’at.

Bualannya  (Asy-Syibli-tokoh sufi) bahwa dia  bisa  memintakan syafa’at bagi semua orang, yang berarti melampaui Rasulullah saw, jelas merupakan kekafiran. Sebab selagi orang memastikan  dirinya termasuk penghuni surga, maka dia justru menjadi penghuni neraka.

Lalu bagaimana mungkin dia membual dan memberikan kesaksian  atas dirinya, bahwa  kedudukannya lebih tinggi  daripada  kedududukan Nabi  dan bahkan melebihi kapasitas seorang Nabi yang  memintakan syafa’at?

Ibnu Aqil berkata, yang mungkin aku punyai untuk melibas  para ahli  bid’ah adalah mulutku dan hatiku.  Seandainya  kemampuanku meluas  ke  dalam  pedang pastilah aku aliri  bumi  dengan  darah orang. (Talbis Iblis, hal 248, terjemahannya hal 290).

Diriwayatkan  dari  Abul Abbas bin Atha’,  dia  berkata,  “Aku membaca  Al-Quran, namun tidak kutemukan keterangan
di dalamnya bahwa Allah menyebutkan seorang hamba, memujinya dan  menimpakan cobaan kepadanya. Maka aku memohon kepada Allah agar Dia menimpakan cobaan kepadaku. Tak seberapa lama setelah itu, aku kehilangan duapuluh orang anggota keluarga, semuanya meninggal dunia.”

Bahkan, menurut kisahnya, hartanya juga ludes, tak  seorangpun keluarganya  yang masih hidup dan dia menjadi gila.  Ketika  dia sudah  sembuh, yang pertama kali dia ucapkan adalah:  “Benar  apa yang  kukatakan. Rupanya Engkau (Allah) telah menimpakan  cobaan kepadaku  secara  semena-mena. Aku harus  menanggung kehendakMu. Namun sangat mencengangkan, karena aku masih bisa bersabar.”

Ibnul  Jauzi berkomentar, “Karena kebodohanlah yang  mendorong Abul Abbas (orang sufi) memohon cobaan atas dirinya. Berarti  dia merasa  hebat dan kuat. Yang seperti ini merupakan tindakan  yang amat buruk. Apa yang dia katakan terhadap Allah sama sekali tidak layak.”

Abul  Hasan  Ali bin Ibrahim Al-Hushri (orang  sufi)  berkata: “Sejak  lama  aku tidak berlindung dari syetan  jika  aku  hendak membaca  Al-Quran. Karena siapakah syetan yang  berani  mendekati firman Allah?”

Komentar Ibnul Jauzi, “Tentu saja perkataannya ini  bertentangan dengan firman Allah yang memerintahkan:

“Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindun­gan kepada Allah dari syetan yang terkutuk.” (An-Nahl: ayat 98).” (Talbis Iblis, hal 249, terjemahannya, hal 290).

Demikianlah sebagian dari bualan orang sufi yang diriwayatkan dan  dikomentarai oleh Ibnul Jauzi, yang pada teks aslinya  diri­wayatkan  dengan  nama-nama periwayatnya sebagaimana  yang  biasa diterapkan dalam periwayatan hadits yang disebut sanad.

Problema di masyarakat, nyleneh pun dianggap saleh

Kata-kata orang sufi itu secara sekilas menunjukkan  kekhusyu­’an, keikhlasan, ketawadhu’an; namun hakekatnya justru  merupakan bualan yang sangat jauh dari ajaran Islam, bahkan menentang ayat-ayat  Allah SWT. Di sinilah salah satu bentuk kerancuan  sufisme yang menjauhkan Islam dari pemahaman yang benar, namun sekaligus menjerat  orang untuk tercebur dalam kesesatannya  tanpa  terasa, bahkan menganggap bahwa mereka telah masuk pada tahapan kesalehan. Celakanya, label kesalehan itupun disandangkan kepada  orang sufi, sehingga orang sufi diidentikkan dengan orang saleh, lantas tahap  lebih  atasnya lagi adalah wali,  yang kadang  tingkahnya aneh-aneh, atau nyleneh, atau bahkan sangat melanggar syari’at pun tetap mereka anggap saleh. Karena wali telah mereka anggap di luar jangkauan orang awam, hingga keanehannya itu justru menandakan kewaliannya, menurut mereka.

Kesesatan telah mereka warisi dari generasi ke generasi, hingga kadang-kadang menyeret orang intelek, yang akibatnya  akan lebih menyeret banyak orang lagi. Contoh nyata, seorang  profesor bernama  Dawam  Rahardjo mengatakan bahwa Gus  Dur  (Abdurrahman Wahid) adalah wali dan sangat brilliant sekali. Ungkapan Profesor Dawam  Rahardjo itu bukan hanya diucapkan di  kalangan  terbatas, namun  disiarkan secara nasional, karena disiarkan oleh  televisi swasta yang mewawancarainya, yakni ANteve, Selasa pagi 26 Oktober 1999M/  16 Rajab 1420H. Dalam wawancara itu, Profesor  Dawam  Ra­hardjo selaku mantan atasan Gus Dur, menurut pewawancara  ANteve, ditanya atau dimintai komentar-komentarnya dengan adanya Gus  Dur terpilih  sebagai  presiden Indonesia yang ke-empat,  pekan  lalu (20/10  1999),  yang  kemudian siang itu (26/10  1999)  akan ada pengumuman tentang susunan kabinet dari Presiden Gus Dur.

Kenapa ungkapan Prof Dawam Rahardjo –bahwa Gus Dur itu wali– di sini dipersoalkan?
Ini  sekadar contoh soal, bahwa orang yang  berbicara  tentang Al-Quran dengan sangat ngawur seperti Gus Dur, ternyata  dinyata­kan  secara terang-terangan oleh seorang profesor,  sebagai  wali dan sangat brilliant sekali.

Apa alasan Profesor Dawam rahardjo menggelari Gus Dur  sebagai wali?
Di antaranya Profesor Dawam Rahardjo beralasan,  Gus Dur  belajar  Bahasa Inggeris cepat sekali, dan pidatonya  dengan  bahasa Inggeris bagus sekali.

Apa kaitannya antara bagusnya pidato bahasa Inggeris seseorang denga kewalian? Hanya profesor Dawamlah yang mungkin bisa  menjawab.  Mestinya,  kewalian yang disandangkannya itu  lebih  pantas dikaitkan  dengan  bagaimana orang yang digelari wali  itu  dalam memahami  dan mengamalkan Al-Quran. Coba kita simak, satu  bukti nyata sebagai berikut:

Abdurrahman  Wahid  alias Gus Dur Ketua  Umum  PBNU  (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) menulis artikel berjudul Antara Asas Islam dan Asas Pancasila di koran Media Indonesia, Rabu 17 Maret  1999, halaman 6.

Di antaranya Abdurrahman Wahid menulis: “Bahkan, Allah  memerintahkan manusia untuk beragam agama, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (lakum dienukum wa liya dien). Bahkan, dalam hal perbedaan  agama, kita diperintahkan berbeda keyakinan,  tetapi  boleh bersama-sama dalam hal perbuatan. “Bagi kami amal perbuatan  kami bagi  kamu amal  perbuatan kamu.”  (Walanaa  a’maalunaa walakum a’maalukum).”

Demikian  petikan tulisan Abdurrahman Wahid/ Gus Dur.  Tulisan itu mari kita cermati, apakah memang Gus Dur pantas digelari wali dari segi kealimannya tentang ayat-ayat Al-Quran.

Tentang  lakum  dienukum wa liya dien, (bagimu  agamamu,  dan bagiku agamaku);  apakah benar itu suruhan Allah  untuk  beragam agama?  Kalau cara memahaminya begitu, seperti pemahaman Gus  Dur itu, maka berarti orang-orang kafir pun akan masuk surga,  karena mengikuti perintah Allah untuk beragam agama.

Kemudian  Gus Dur juga menyamarkan ayat 139 Surat  Al-Baqarah, “Wa lanaa a’maalunaa wa lakum a’maalukum (bagi kami amal  perbuatan  kami,  dan bagi kamu amal perbuatan kamu)  dengan  semaunya, dengan  ungkapan: “Kita diperintahkan berbeda  keyakinan,  tetapi boleh bersama-sama dalam hal perbuatan.”

Benarkah surat Al-Baqarah ayat 139 itu merupakan perintah agar berbeda keyakinan, tetapi boleh bersama-sama dalam perbuatan?

Kita simak Tafsir Ibnu Katsir:

“Lanaa a’maalunaa wa lakum a’maalukum” (Bagi kami amalan  kami dan bagi kamu amalan kamu” artinya kami berlepas diri dari  kamu sekalian (barooun minkum) dan dari apa yang kalian sembah, sedang kalian  lepas-diri dari kami. Sebagaimana Allah  berfirman  dalam ayat yang lain –QS Yunus/ 10:41– (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid  I, halaman  235), sebagaimana firman Allah Ta’ala  –QS  Al-Kafirun/ 109: 1-6). Juga QS Al-Mumtahanah/ 60:4:

“Sesungguhnya kami berlepas-diri dari kamu dan dari  apa yang kamu  sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu  dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat  selama-lamanya sampai  kamu  beriman  kepada Allah saja.” (QS Al-Mumtahanah/ 60:4) (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2, halaman 509).

Betapa  jelasnya keterangan Ibnu Katsir, mufassir yang diakui Dunia Islam itu dalam masalah ini, dan betapa jauhnya penyamaran yang  dilakukan Abdurrahman Wahid yang pernah jadi juri Festival Film Indonesia itu. (Lihat: Hartono Ahmad Jaiz, Bahaya Pemikiran Gus  Dur, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, cetakan kelima,  Mei 1999, halaman 41-44).

Pantaskah  seorang Profesor Dawam Rahardjo menjuluki  Gus  Dur yang telah menafsiri Al-Quran dengan ro’yu (pendapat) yang sangat melenceng –ditimbang dengan tafsir yang diakui Dunia Islam– itu sebagai wali yang brilliant (sangat cerdas) sekali?

Untuk mengatakan bahwa seseorang itu brilliant sekali atau cerdas  sekali, bila yang mengatakan itu seorang profesor,  sebenarnya  sudah layak dipercaya. Tetapi, berhubung perkataan sang profesor yang menggelari Gus Dur sebagai wali itu terbukti  hanya kata-kata tak bermakna, maka kini perlu dibuktikan pula, benarkah Gus  Dur  itu brilliant sekali seperti  yang  dikatakan  Profesor Dawam Rahardjo?

Dalam  kasus  yang berkaitan dengan kondisi dan  situasi  saat sang  profesor  itu diwawancarai (26/10  1999),  tersebar  berita bahwa Gus Dur pada awal pemerintahannya, sebagai presiden Indone­sia,  ia mengatakan akan membuka hubungan ekonomi dengan  Israel. Sedang untuk hubungan diplomatik, belum dibuka hubungan.

Dalam  kondisi  ekonomi dan keamanan yang masih  sangat  belum mantap, istilahnya masih krisis, ditambah hubungan antar agama di Indonesia sendiri terjadi bunuh-bunuhan antara Muslimin dan orang Kristen  ataupun  Katolik seperti di Ambon dan  Maluku  Tenggara, bahkan  di  Jakarta seperti kasus Ketapang Jakarta Pusat,  masih merupakan  dengan  Israel. Semua orang tahu, Israel itu musuh orang Islam  sedunia,  karena Israel  masih mengangkangi Masjidil Aqsha, tempat  suci  ke-tiga bagi ummat Islam sedunia. Juga Israel adalah pembantai yang  amat sadis  terhadap ummat Islam, baik di dalam masjid  sedang  shalat maupun  di luar, penjajah yang sangat licik, dan pencaplok  wila­yah-wilayah  Palestina.  Dalam  hal  berdagang  atau  berhubungan dengan  masyarakat Islam, Israel itu sangat curang  sambil  meme­rangi Islam.

Kita simak bukti dari pengamatan seorang yang cukup terpercaya dalam kasus ini sebagai berikut:

Dr Hidayat Noer Wahid pengamat Timur Tengah mencontohkan  ting­kah  Yahudi Israel. Dengan dibukanya kedutaan Israel  di  Mesir, ternyata Yahudi bisa menekan hingga mampu menghapus ayat-ayat Al-Quran  yang mengecam Yahudi  di pelajaran sekolah. Menghapus  peta Palestina, hingga adanya hanya Israel. Yahudi mendukung penggala­kan  turisme, namun turis Yahudi yang datang  (ke  Mesir) hanya gembel,  hingga  tak menambah pendapatan bagi Mesir.  Malahan 52 orang Yahudi yang ketahuan masuk ke Mesir memakai paspor  Belanda terbukti semuanya mengidap AIDS.

Dari  segi  pertanian, Israel menjual pupuk  ke  Mesir,  namun tahu-tahu  akibatnya tanah  jadi tandus. Itu  di  samping  sampo Israel yang bikin botak rambut, dan tanaman yang didatangkan dari Israel menyebarkan hama. (H Hartono Ahmad Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, 1994, halaman 99-100).

Untuk  memberi gambaran latar belakang, bagaimana sikap  ummat Islam Indonesia berhadapan dengan orang-orang tertentu yang  pro Zionis  Israel, kita simak kasus film propaganda Yahudi  –Zionis Israel– berjudul Schindler’s List tahun 1994 yang ditolak  keras oleh para tokoh Islam, namun ada orang-orang tertentu yang membe­la film Zionis Yahudi Israel itu, sebagai berikut:

Contoh  kecil, dalam kasus pro kontra tentang film  propaganda Yahudi, Schindler’s List, tercatat nama-nama pembela film  Zionis itu.  Setidaknya,  yang  telah menyuara  setuju  untuk  diedarkan adalah  Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Umar Khayam  (dua  budayawan ini diwawancarai ANteve di rumah sakit, Abdurrahman Wahid dioper­asi  matanya namun sempat menyuarakan persetujuan)  dan  Profesor Dawam Rahardjo yang dimuat Republika. Mereka itu dinilai oleh KH Hasan  Basri (Ketua Umum MUI –Majelis Ulama  Indonesia)  sebagai orang-orang yang berpikiran bebas, sampai pendapat yang aneh-aneh sekalipun. (Ibid, 1994, hal 96-97).

Pembaca  bisa  menilai, seberapa brilliant-nya Gus Dur yang kini mempresideni penduduk Indonesia yang berjumlah 210 jutaan jiwa yang hampir 90% Muslim ini. Apakah pupuk Israel yang bikin tandus tanah, sampo Israel yang bikin botak kepala, dan tanaman-tanaman yang diekspor dari Israel dengan menyebarkan hama, serta turis-turis  gembel dari Israel yang semuanya  ternyata  mengidap penyakit paling berbahaya dan tak bisa disembuhkan yakni AIDS itu merupakan barang-barang dagangan yang sangat diperlukan oleh  210 juta  penduduk  Indonesia yang mayoritas Muslim ini?  Belum  lagi upaya  menghapus ayat-ayat Al-Quran dari kurikulum  sekolah  yang Zionis tekankan. Brilliant sekalikah orang yang awal-awal kebija­kannya justru tidak punya pertimbangan pasar sama sekali itu?

Dari  sisi lain, mari kita cermati sosok Gus Dur yang dia  itu presiden,  kiai, dan orang terkenal secara  internasional.  Dalam hal  memandang  Israel yang menjajah dan  mencaplok  tanah-tanah Palestina,  Gus  Dur selaku presiden mesti merujuk pada  undang-undang  dasar  dan perundangan serta peraturan  yang  dipakai  di Indonesia. Di antaranya ditegaskan dalam Mukaddimah Undang-undang Dasar 1945 bahwa “segala bentuk penjajahan harus dihapuskan.”

Orang yang faham betul tentang kepenjajahan Israel terhadap Palestina  dan tentang sikap Indonesia seharusnya,  di  antaranya adalah Menteri Luar Negeri Ali Al-Atas yang lalu. Bisa kita simak sikapnya  sebagai  penanggung jawab politik  luar  negeri sampai menjelang kepemimpinan Gus Dur, sebagai berikut:

Dalam  acara  dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI,  5  Juli 1999,  Menlu  Ali Al-Atas menegaskan, Indonesia  menolak  membuka hubungan  diplomatik  dengan Israel.  Alasannya,  negara  Israel merupakan negara kolonial, sehingga pembukaan hubungan diplomatik dengan  Israel  merupakan pelanggaran  terhadap  konstitusi (UUD 1945).  (Adian  Husaini, Menimbang  Hubungan  Dagang  RI-Israel, Harian Republika,  Jakarta, Jum’at 29 Oktober  1999M/ 19 Rajab 1420H, halaman 6).

Lantas,  bagaimana  seharusnya sebagai figur kiai  atau  tokoh Islam.  Kita  simak ayat-ayat Al-Quran  dan  hadits-hadits  yang sangat banyak mengecam Yahudi Bani Israel karena tingkahnya  yang jahat, curang, paling loba sedunia, sombong, berkhianat,  berbuat makar  dan sebagainya. Dan kita lihat sejarah Nabi Muhammad  SAW, bagaimana Nabi SAW memperlakukan Yahudi Bani Israel. Nabi SAW mau berjanji  damai  dengan Yahudi, hingga ada  ikatan  janji antara Yahudi  dan Muslimin. Namun kemudian orang-orang Yahudi  berkhia­nat,  bahkan tetap memusuhi Muslimin, maka Nabi  SAW  mengadakan pengusiran  terhadap Yahudi Bani Qainuqa’ (setelah perang Badr  2 H),  pengusiran  Yahudi  Bani Nadhir setelah  perang  Uhud  3  H.

Selanjutnya,  pengkhianatan  dan  permusuhan  yang  paling  parah dilakukan oleh Yahudi Bani Quraidhah, maka seluruh lelaki  dewasa Yahudi  Bani  Quraidhah selain anak-anak  dan  perempuan  dihukum bunuh semua/ potong leher, akibat ganasnya pengkhianatan terhadap Muslimin dan penyerangan terhadap Muslimin secara khianat. Keber­angkatan untuk menyerbu Bani Quraidah (th 5 H) itu sendiri langsung  dibangkitkan  dan dikomandoi oleh  Malaikat  Jibril  dengan barisan malaikat, ketika Nabi SAW baru saja  meletakkan  senjata dari Madinah. Peristiwa itu setelah perang Khandaq.

Ada peristiwa terkenal dalam keberangkatan untuk menyerbu Bani Quraidhah yang kemudian Muslimin mengepungnya sampai 15  hari, hingga  Yahudi khianat itu menyerah. Dalam  perjalanan,  Malaikat Jibril  berjalan  dalam sebuah prosesi para malaikat,  sementara Rasulullah   Saw  membuntuti di belakangnya  beserta  orang-orang Muhajirin dan Anshar. Saat itu beliau bersabda kepada para  saha­bat:

“Laa yusholliyanna ahadukumul ‘ashro illaa fii Banii Quraidhata”

“Janganlah  sekali-kali seseorang di antara kalian shalat  ashar kecuali  di Bani Quraidhah.” (HR Al-Bukhari /946 dari Ibnu  Umar, Muslim, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, shahih).

Seketika itu pula mereka memenuhi perintah beliau dan  bangkit menuju  Bani Quraidhah. Mereka masuk waktu ashar ketika masih  di perjalanan.  Sebagian ada yang berkata, “Kami tidak  akan  shalat ashar kecuali setelah tiba di Bani Quraidhah seperti yang  diper­intahkan  kepada kita.” Sehingga mereka mengerjakan shalat  ashar itu setelah shalat isya’.

Sementara  yang lain ada yang berkata, “Yang beliau  maksudkan dari  kita bukan itu tetapi agar kita segera keluar,  karena  itu mereka melakukan shalat ashar di tengah perjalanan, tetapi beliau tidak menegur satupun di antara dua golongan ini.

Para fuqaha’ saling berbeda pendapat antara dua golongan  ini. Golongan pertama berkata, mereka yang mengakhirkannya adalah yang benar. Sekiranya kami bersama mereka, tentu kami akan  mengakhir­kannya seperti yang mereka lakukan dan kami tidak akan  mengerja­kan  shalat ashar kecuali setelah tiba di Bani Quraidhah,  karena patuh kepada perintah beliau dan meninggalkan ta’wil yang berten­tangan dengan dhahir.

Golongan lain berkata, “Mereka yang shalat ashar pada waktunya di  tengah jalan dan yang lebih dahulu pergi  adalah  orang-orang yang mendapatkan fadhilah. Mereka bersegera melaksanakan perintah beliau  dan  segera mencari keridhaan Allah  dengan  shalat  pada waktunya,  kemudian  mereka  bersegera  menghadapi  musuh.  Jadi, mereka mendapatkan fadhilah jihad, fadhilah shalat pada waktunya, dan memahami apa yang dimaksudkan dari perintah tersebut.”  (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Zaadul Ma’aad, jilid III, halaman 118-120).

Setelah pengepungan terhadap benteng Bani Quraidhah  berlang­sung  15 hari, dan Nabi SAW menawarkan 3 syarat namun  tidak  ada yang  dimaui oleh Bani Quraidhah, kemudian kaum Yahudi  Bani  Qu­raidhah yang sangat jahat permusuhannya terhadap Islam ini  meny­erah.  Ekskusi  pun dilakukan, diserahkan Rasulullah  SAW  kepada Sa’d  bin  Mu’adz, yaitu hukuman bunuh/ dipenggal lehernya  bagi setiap  laki-laki Bani Quraidhah, sedangkan anak-anak dan  wanita dijadikan  tawanan, dan harta benda mereka dibagi. Lalu nabi  SAW bersabda kepada  Sa’d, “Engkau telah  memutuskan  tentang  diri mereka  dengan hukum Allah dari atas langit yang tujuh.”  (Zaadul Ma’aad, jilid III, halaman 122).

Sebelum  eksekusi,  ada beberapa orang di antara  mereka  yang masuk Islam, sedangkan Amr bin Sa’d, salah seorang pemimpin  Bani Quraidhah  melarikan diri dan tidak diketahui ke  mana  perginya. Sebelumnya  ia tidak mau bergabung dengan mereka untuk  melanggar perjanjian.  Rasulullah SAW memerintahkan untuk  membunuh  setiap lelaki  (dewasa) yang pisau cukur telah ditarik atas (kumis)nya, adapun  yang  belum tumbuh (kumis), maka dimasukkan  ke  golongan anak-anak  (tidak  dibunuh).  Lalu  digalilah  parit-parit  untuk mereka  di  pasar Madinah, dan dipenggallah  leher-leher  mereka, jumlahnya  antara 700 sampai 900 orang. Tidak ada seorang  perem­puan  pun yang dibunuh kecuali satu wanita yang dipenggal  leher­nya,  karena dia pernah melemparkan batu penggilingan  ke  kepala Suwaid bin Ash-Shamit hingga meninggal dunia. Mereka digiring  ke parit-parit serombongan-serombongan… (Zaadul  Ma’aad,  halaman 123).

Perang  (pengusiran  terhadap Yahudi)  Bani  Qainuqa’  terjadi setelah  perang Badr, perang (pengusiran terhadap Yahudi)  Bani Nadhir setelah perang Uhud, dan perang (pembunuhan seluruh lelaki dewasa Yahudi pengkhianat) Bani Quraidhah setelah perang Khandaq.

Permusuhan Yahudi terhadap ummat Islam dari awal sangat kerasnya,  hingga Nabi SAW langsung dikomandoi oleh  malaikat  Jibril dalam keberangkatannya menuju ke Bani Quraidhah.

Hadits tentang perang terhadap orang-orang Yahudi Bani Quraid­hah dan penawanan para wanita serta anak-anak mereka,  diriwayat­kan  oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi (Fathul  Bari,  7/475 no.  4122)  dan Muslim dalam bab Hukum orang yang  memerangi dan mengingkari  janji,  dari  Aisyah,  (nomor 1154 Mukhtashar  Al-Mundziri), dikeluarkan  pula oleh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam Zaadul Ma’aad (3/ 129).

Dalam  masa  sekarang pun, menghadapi  Israel  yang  menjajah, membantai,  dan mencaplok tanah-tanah Palestina,  dan  menguasai Masjidil Aqsha tempat suci yang ketiga setelah Makkah dan Madinah bagi Muslimin sedunia itu telah difatwakan oleh para ulama secara internasional.  Bahkan  pemerintah Indonesia  sendiri  ikut pula memfatwakan masalah Israel dalam kaitannya dengan Palestina  itu. Kita simak bukti berikut:

Profesor Ibrahim Hosen (kini Ketua Komisi Fatwa MUI  –Majelis Ulama Indonesia) selaku wakil menteri agama Indonesia menandatan­gani  Fatwa  Ulama Internasional tentang  haramnya  mengakui  dan berdamai dengan Yahudi Israel.

Tandatangan utusan Indonesia itu terpampang paling jelas dalam dokumen  yang dibukukan dengan judul Fatwa  ‘Ulama’  Al-Muslimin bitahriimit Tanaazuli ‘an ayyi juz’in min Falasthien yang diterbitkan  oleh Jam’iyyah Al-Ishlah Al-Ijtima’iyyah, Kuwait  1410H/ 1990M.

Fatwa haramnya berdamai dengan Yahudi dan  larangan mengakui Yahudi  Israel itu disepakati oleh ulama pada Konferensi  Negara-negara Islam di Pakistan 1968.

Alasan  haramnya  berdamai dengan Israel, menurut  fatwa  ini, karena  Yahudi Israel itu merampas dan menyerang,  maka  berdamai dengan perampas itu dilarang syari’at Islam. Sebab berarti menga­kui bolehnya perampas itu merampas, dan mengakui hasil  rampasan­nya  itu milik perampas. Maka tidak boleh orang  Muslim berdamai dengan Yahudi yang melanggar hak itu. Dan hal itu akan memungkin­kan tetapnya mereka menjadi negara di bumi Muslimin yang  disucikan. Bahkan wajib atas Muslimin semuanya untuk berjuang memboikot kekuatan mereka demi membebaskan negeri-negeri Palestina dan Arab dan  menyelamatkan Masjidil Aqsha serta tempat-temat  suci  Islam lainnya  dari  tangan perampas. Seluruh Muslimin  wajib  berjihad untuk  mengembalikan  negeri-negeri itu  dari perampas.”(Fatwa Ulama’ Al-Muslimin…, hal 71, dan copian teks aslinya di halaman 73)  (Lihat Harian Pelita, Jakarta, Selasa 21 Februari  1995/ 21 Ramadhan 1415H, halaman 5).

Fatwa-fatwa  lainnya, di antaranya dikeluarkan  oleh  Muktamar Ulama Palestina yang pertama, Januari 1935, mengharamkan  penjua­lan tanah Palestina kepada Israel, karena sama dengan  memperlan­car  pengusiran ummat Islam oleh Israel. Maka penjual  tanah  itu dihukumi tidak boleh dishalati dan dikubur di pekuburan Muslimin, dan selama hidupnya wajib diboikot. (Al-Quds, 20 Syawal 1353H/ 26 Desember 1935M, tertanda  Muhammad Amin Al-Husaini, Mufti Al-Quds dan Ketua Majlis Tinggi Islam, disertai 7 mufti lainnya dan hampir seratusan hakim agama).

Fatwa-fatwa lainnya, di antaranya fatwa  Ulama  Najd,  fatwa Syeikh  Rasyid Ridha, fatwa Lajnah Fatwa al-Azhar  1956  tentang haramnya  berdamai  dengan Israel dan wajib berjihad.  Dan  Fatwa Syeikh Al-Azhar Hasan Ma’mun, intinya:

“Bertemanan  dan  saling mengadakan hubungan  perjanjian  yang diadakan orang-orang Muslimin dengan negara-negara lain yang  non Islam  itu  boleh dari segi syari’ah apabila  untuk  kemaslahatan kaum  Muslimin. Adapun kalau hal itu untuk mendukung negara  yang memusuhi  negeri  Islam seperti Yahudi yang  memusuhi Palestina, maka itu menguatkan bagi musuh, mengakibatkan berlanjutnya  dalam permusuhan terhadapnya (negeri Islam), dan barangkali  (melanjut­kan)  dalam memperluas  di dalam (wilayah)nya  pula.  Maka  yang demikian itu tidak boleh secara syari’at (Islam).” (Hasan Ma’mun, Syeikh  Universitas  Al-Azhar, Mufti Diyar Mesir, Fatwa  ‘Ulama’ Muslimin, hal 63-66).

Segi yang lain, Gus Dur sebagai tokoh yang hubungannya  dengan internasional, tentunya perlu mempertimbangkan data  dan  fakta. Seperti  yang  ditulis Adian Husaini, ditegaskan:  “Dengan  Kasat mata, Israel memang masih menjadi negara penjajah, karena  menca­plok  wilayah  Palestina dan masih belum  memenuhi resolusi  PBB (Perserikatan  Bangsa-Bangsa)  242  dan  338  yang  memerintahkan Israel keluar dari wilayah Pendudukan tahun 1967. Karena  itulah, maka  Indonesia tidak membuka hubungan diplomatik dengan  Israel. (Republika, 29/10 1999).

Semuanya  itu  sebenarnya sudah  jelas,  seharusnya  bagaimana sikap  yang  harus diambil. Namun jauh-jauh  hari  sebelum  jadi presiden, Gus Dur ketika diadakan dialog di TPI (Televisi Pendidikan  Indonesia)  24  Mei 1999, Gus  Dur  selaku deklarator  PKB (Partai  Kebangkitan  Bangsa) dan Ketua  Tanfidziyah  (eksekutif) Jami’iyah NU (Nahdlatul Ulama –satu organisasi Islam yang sering disebut tradisional) menegaskan, Indonesia perlu membuka hubungan diplomatik  dengan Israel.  Alasannya,  Indonesia  mengakui  Uni Soviet (Rusia) dan RRC sebagai negara. Padahal, kedua negara itu  menganut  atheisme. “Israel itu masih mengakui Tuhan, Anda  tidak mau mengakui. Siapa yang bodoh,” kata Gus Dur bersemangat, ketika itu. (Adian Husaini, Menimbang Hubungan Dagang RI-Israel, Republika, 29/10 1999, hal 6).

Ungkapan Gus Dur yang –kalau tak salah– telah dua kali disi­arkan  TPI (karena siarannya diulang lagi waktu itu) dan  dikutip Adian  ini ketika Gus Dur jabarkan sekarang dengan  akan  membuka hubungan  ekonomi  dengan Israel, dalam bahasa ndeso (desa)nya namanya ucapan gebyah uyah (menyama ratakan,  semua  garam itu asin).  Bahasa kotanya mungkin menggeneralisir dan rancu,  bahasa mantiq (logika)nya mungkin menarik natijah/ konklusi/kesimpulan dengan qodhiyah/ unsur yang kurang syarat, hingga sekilas seperti benar,  padahal  salah dan rancu. Bahasa ushul fiqhnya,  ia  akan menarik garis dengan cara qiyas aulawi (ini yang begini  saja boleh apalagi itu yang begitu maka lebih boleh lagi) namun qiyas/ perbandingan  (analogi)nya  itu kurang syarat alias qiyas  ma’al fariq alias qiyas batil.
Kenapa?
Karena, hubungan antar manusia atau antar negara itu bukan sekadar: apakah yang akan dihubungi itu mempercayai  Tuhan  atau tidak. Tetapi ada kaitan-kaitan lainnya. Yang jelas-jelas anti Tuhan pun, kalau itu tidak memusuhi Islam, maka ummat Islam boleh berhubungan secara manusiawi seperti berdagang dan sebagainya, dan perlu adil, namun dilarang mengangkat mereka  sebagai  teman akrab,  apalagi  pemimpin.  Bahkan kalau mereka  yang  kafir  itu tunduk  dalam kekuasan  Islam, isitilahnya  kafir  dzimmi,  maka dilindungi. Sampai Nabi SAW bersabda:

Man aadzaa dzimmiyyan  faqod aadzaani wa  man  aadzaanii  faqod aadzallaah. (Rowahut Thobroni).

Barangsiapa  mengganggu/menyakiti dzimmi (non  Muslim yang tunduk  pada kekuasaan Islam) maka sungguh ia mengganggu saya (Muhammad), dan siapa mengganggu saya maka sungguh ia  mengganggu Allah.” (Diriwayatkan oleh at-Thabrani).

Sebaliknya, kalau orang yang kafir atau atheis itu memusuhi Islam, maka namanya kafir harbi, yaitu orang  kafir dan musuh Islam. Itu hitungannya bukan karena sakadar kekafirannya terhadap Tuhan, namun karena memusuhi itu.

Perlu diketahui, orang muslim sendiri, bahkan sahabat Nabi SAW, yang pada dasarnya sebagai orang beriman dan memang ta’at, namun  suatu  ketika wajib diboikot oleh  ummat  Islam. Terkenal dalam  ayat Al-Quran, al-hadits, dan sejarah Islam tentang  kasus Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin  Rabi’ yang diboikot oleh Nabi SAW beserta seluruh sahabat, termasuk  keluar­ganya  pun tak boleh melayaninya; gara-gara Ka’ab bin  Malik  dkk ini tidak ikut perang jihad (saat itu Perang Tabuk) padahal dalam keadaan  segar bugar tanpa halangan. 50 hari mereka itu  diboikot hingga menangis tiap hari, terasa bumi ini sesak, karena salamnya pun  tidak  boleh  dijawab oleh ummat Islam.  Setelah  tobat  dan penderitaannya  memuncak dan berlangsung 50 hari,  barulah  Allah SWT  membolehkan  tegur sapa dan bergaul kepada  Ka’ab  dkk  itu. (Lihat tafsir QS At-Taubah ayat 118.)

Jadi, persoalan pokok boleh tidaknya berhubungan antar manu­sia, antar bangsa, atau antar negara, itu bukan sekadar memperca­yai Tuhan atau tidaknya. Memang tentang kepercayaan atau  keyaki­nannya itu menjadi salah satu unsur yang diperhitungkan, tetapi tidak langsung hantam kromo atau menggebyah uyah seperti yang dikatakan Gus Dur itu.

Setelah jelas bahwa logika Gus Dur itu jauh dari kebenaran, lalu dalam kenyataan, masih pula ia jauh lagi dalam hal perencanaan  teknisnya. Yaitu, untuk membuka hubungan diplomatik  dengan Israel, kini belum, tetapi untuk hubungan ekonomi, ya dibukalah.

Kilah yang keluar dari mulutnya, di antaranya, karena tidak semua Yahudi  Israel itu jahat. Dicontohkan, dia  sendiri  mendirikan lembaga  Shimon Peres, dan punya teman-teman orang  Yahudi,  yang dia anggap baik-baik.

Kilah Gus Dur itu sangat naif. Bisa diambil contoh, di dalam Islam, khamr (minuman keras) dan judi itu ada manfaatnya, tetapi mudharatnya/dosa besarnya lebih besar dibanding manfaatnya. (lihat  QS Al-Baqarah: 219). Maka hukum finalnya, khamr dan  judi itu  haram,  keji, dan termasuk perbuatan syetan,  wajib dijauhi (lihat QS Al-Maa’idah/ 5:90-91). Bahkan Nabi  SAW  melaknat 10 orang yang berhubungan dengan khamr.

La’anan  Nabiyyu SAW fil khomri ‘asyarotan: ‘Aashirohaa  wa  mu’tashirohaa wa syaaribahaa wa haamilahaa wal mahmuulata ilaihi  wa saaqiyahaa wa baai’ahaa wa aakila tsamanihaa wal musytariya lahaa wal musytaroota lahaa.

“Rasulullah Saw melaknat tentang khamr, sepuluh golongan: 1 yang memerasnya, 2 yang minta diperaskannya, 3 yang meminumnya, 4 yang membawanya, 5 yangminta diantarinya, 6 yang menuangkannya, 7 yang menjualnya, 8 yangmakan harganya, 9 yang membelinya, dan 10  yang minta dibelikannya.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bahkan lagi, orang yang menjual buah anggur kepada  pihak  yang sudah  diketahui membuat khamr pun dilarang.

Man habasal ‘inaba ayyaamal qithoofi hattaa yabii’ahu min  Yahuu­diyyin  aw nashrooniyyin aw mimman yattakhidzuhu  khomron  faqod takhohhaman naaro ‘alaa bashiirotin.

“Barangsiapa menahan buah anggurnya pada musim-musim  memetik­nya, kemudian  dijual kepada seorang Yahudi  atau  Nasrani  atau kepada  tukang membuat arak, maka sungguh jelas dia  akan  masuk neraka.” (HR At-Thabarani dalam Al-Awsath).

(Itu Gus Dur bisa dipastikan telah faham). Lantas, bagaimana kalau Gus Dur membuka hubungan dagang  antar Indonesia dengan Israel itu akan mengayakan Israel, yang dengan kekayaannya itu akan lebih gila lagi dalam menggencet Palestina khususnya, dan ummat  Islam sedunia pada umumnya? Bukankah hal itu lebih buruk ketimbang  sekadar  menjual buah anggur  kepada  produser  khamr? Bukankah  itu berarti mempersenjatai musuh Islam untuk  memerangi Islam?

Kita bandingkan dengan kehidupan sehari-hari saja, biar agak mudah persoalannya. Kita ambil misal, seorang “anak gaul”  (perilakunya  bebas) telah dilarang oleh orang tuanya, “jangan sampai kamu kawin dengan gadis “Pojokan” (rumahnya di pojokan, misalnya) itu. Karena dia itu anak perampas tanah-tanah orang Islam, pembu­nuh,  penipu,  perampas masjid ummat Islam, masih  mengidap  AIDS lagi. Dan dia itu terlibat dalam semua kasus itu.”

Lalu si “anak gaul” ini tetap bersikap cengengesan, dan  tetap akan mengadakan hubungan dengan gadis “Pojokan” tersebut.  Ketika orang  tuanya marah-marah, maka si “anak gaul” ini  bilang:  “Kan saya  hanya  bertemanan, Pak. Kalau untuk kawin sih,  belum.  Ini hanya  bertemanan, masa’ nggak boleh? Apakah kalau orang serumah itu menjadi perampok, tidak ada yang tidak merampok? Bayi-bayinya kan belum merampok? Jadi kita berhubungan dengan  para  perampok seisi  rumah  itu karena di sana masih ada bayi-bayi  yang  belum jadi  perampok.  Dan pula kita bergaul dengan perampok  itu  agar mereka tidak merampok kita, setelah kita nasehati.”

Sebagai  orang  tua  yang baik, tentu  wajib  mengambil  sikap terhadap  anaknya yang  sikapnya cengengesan  dan  ngotot  untuk bergaul dengan perampok itu. Sebaliknya, kalau orang tua itu diam saja,  atau  bahkan mengiyakan, itu justru perlu  dipertanyakan. Mungkin  si  orang tua ini sendiri memang  tidak  lurus, mungkin takut  terhadap  keganasan anaknya kalau mengamuk,  atau  mungkin punya utang (harta atau budi) dengan si perampok tersebut, dll.

Walhasil,  dari berbagai segi, tokoh terutama Presiden  Abdur­rahman  wahid dan Menteri Luar Negeri Dr Alwi Shihab  yang  ingin menyelenggarakan  hubungan ekonomi dengan  Israel  itu  terbukti sangat  dangkal cara berfikir ataupun menimbang suatu  persoalan.

(Tentang dangkalnya pendapat Dr Alwi Shihab di samping  ungkapan­ nya mengaburkan  ajaran Islam dan menyakiti  ummat  Islam,  bisa dibaca  dalam  buku Di Bawah  Bayang-bayang  Soekarno  Soeharto, Tragedi Politik Islam Indonesia dari Orde Lama hingga Orde  Baru, Darul  Falah  Jakarta,  1999, halaman  150-155).

Maka  batallah julukan  wali, brilliant sekali dsb.nya itu,  kalau  tidak  mau menyebut  sebagai  sebaliknya. Hanya  saja,  karena  bagaimanapun beliau  itu adalah orang yang berpengaruh, apalagi telah  menjadi presiden,  maka seorang dari kelompok yang sangat keras  sikapnya terhadap Israel yaitu Mas Mutammimul Ula SH, setelah jadi anggota DPR,  Meskipun demikian,  masih  agak mendingan sedikit ketimbang  Pak  Zarkasih Noer  dari PPP (Partai Persatuan  Pembangunan)  yang  sama-sama diwawancarai pagi itu, yang memang siang harinya kemudian  Zarkasih Noer termasuk yang diumumkan sebagai menteri (tentu pagi itu ia  sudah tahu bahwa dirinya akan diumumkan jadi menteri),  yakni menteri  koperasi,  dalam jajaran kabinet yang  disebut  “Kabinet Persatuan  Nasional”. Zaman Presiden Habibi kabinet  itu  disebut “Kabinet Reformasi”,  sedang  zaman  Soeharto  disebut  “Kabinet Pembangunan”,  yang terakhir  kabinet masa  Soeharto  itu  hanya berumur 70 hari karena Soehartonya didemo para mahasiswa berhari-hari  hingga turun dari jabatan kepresidenan yang ia  istilahkan lengser keprabon, dan diserahkan kepada wakilnya, BJ Habibie.

Masalah kurang kerasnya Mas Tamim dalam menggenjot gagasan Gus Dur tentang mau mengadakan hubungan dagang/ ekonomi dengan Israel ini sangat beda dengan seniornya dalam pergaulan seperti H  Ahmad Sumargono.  Sekalipun juga  jadi anggota DPR  namun  Bang  Gogon (Sumargono) dari awal tampak masih agak lantang dalam kasus  akan adanya  hubungan ekonomi dengan Israel itu. (Maaf Mas Tamim,  ini sekadar ngitik-itik/ mengkilik-kilik,  tapi boleh juga dipikirkan).  Dan kemudian  alhamdulillah,  setelah  agak  ramai penolakan dan protes terhadap kemauan keras Gus Dur itu,  khabarnya Mas Tamim bangkit pula menentang ketidakbijakan Presiden Gus Dur dan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab tersebut.

Kembali  kepada persoalan awal, ada profesor  yang  menggelari tokoh  dengan gelar wali dan dipuji karena  dianggap brilliant sekali, itu pantas sekali dipertanyakan dan diragukan ungkapannya itu.

Kalau  profesornya saja seperti itu cara  berfikirnya,  dan orang  yang digelari wali yang sangat brilliant saja seperti itu cara berfikir dan kebijaksanaannya,  bisa kita bayangkan,  bagaimana  orang awamnya yang model mereka. Makanya  tak mengherankan bila  ajaran shufi yang sangat jauh dari Islam pun  dengan  mudah menyebar  dan  dipegangi oleh orang awam  secara  turun  temurun, bahkan menjangkiti orang-orang yang disebut atau menyebut dirinya sebagai  intelektual Muslim. Hal yang sangat dimaklumi adanya, sekaligus  sebagai keadaan yang sangat perlu dihadapi dengan hikmah dan mau’idhah hasanah.

Barangkali ada yang langsung bergumam dengan mengatakan, tulisan ini sendiri tidak menempuh jalan dengan hikmah dan mau’idhah hasanah, buktinya langsung menunjuk nama  Profesor  Dawam Rahardjo dan Gus Dur.

Maaf, mereka berdua itu telah menyampaikan  pendapat-pendapat tersebut  di media massa umum, bahkan kemungkinan  sekali  jangkauannya  lebih luas dari buku ini, yakni koran harian umum, dan televisi swasta yang menjangkau se Indonesia. Sehingga, kebatilan yang  mereka  umumkan  lewat media massa secara luas  itu  perlu diumumkan  pula  kebatilannya,  agar orang umum  tahu  bahwa  itu batil. Dan sebaliknya, bila apa yang saya (penulis) kemukakan ini batil,  maka  saya pun akan menerima kebenaran, bila  ada  yang menjelaskannya dengan bukti-bukti/dalil bahwa pendapat saya  ini batil, dan bahkan saya akan berterimakasih, karena kebatilan yang tersebar –akibat aneka kelemahan saya– bisa terhapus. Di samping  itu, penyebutan nama-nama tersebut adalah untuk  membuktikan secara ilmiah  tentang adanya kasus itu, hingga  tidak  berkadar sebagai  karangan  fiksi/ khayalan belaka. Karena, masalah ini adalah  masalah  yang menyangkut agama Islam,  satu  ajaran  yang harus dipertanggung jawabkan di dunia dan bahkan sampai di akherat kelak.

dikutip dari buku Tasawuf Belitan Iblis
karya H Hartono Ahmad Jaiz -
http://www.pakdenono.com
http://www.swaramuslim.net

Pemurtadan dan Cara Menghadapinya

Pemurtadan dan Cara Menghadapinya

Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl/ 16: 106, 107, 108, 109:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.

Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.” (terjemah QS An-Nahl/ 16: 106, 107, 108, 109).

Al-Hafidh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhiem menjelaskan:  Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang yang kafir kepada-Nya setelah beriman dan mengetahui kebenaran, namun hati mereka memilih kekafiran dan merasa tenang dengan kekafirannya itu. Maka Allah benar-benar marah kepada mereka, karena mereka mengetahui keimanan, kemudian berpaling darinya. Mereka itu akan mendapatkan siksa yang sangat berat di akherat. Karena mereka lebih mementingkan kehidupan dunia daripada akherat. Mereka pun lebih mendahulukan kemurtadan hanya untuk dunia. Allah tidak memberi petunjuk kepada hati mereka, dan tidak meneguhkan mereka pada agama yang benar. Maka Dia  mencap hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui sama sekali sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Dan Dia mengunci pendengaran dan penglihatan mereka, sehingga mereka tidak dapat menggunakannya. Mereka adalah orang yang lalai dari apa yang mereka harapkan.

“Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.” Artinya, mereka murugikan diri sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat.

“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman”. Ini adalah pengecualian yaitu orang yang berbuat kafir pakai lisannya, dan menyetujui orang-orang musyrik dalam ucapan secara terpaksa, karena pukulan dan siksaan, sedangkan hatinya menolak apa yang dia ucapkannya itu, dan dia tenang dengan beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Al-’Ufi dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ammar bin Yasir, ketika orang-orang musyrik menyiksanya, sehingga dia mengucapkan kata-kata kekafiran terhadap Muhammad saw. Maka dia (Ammar) sama dengan mereka disebabkan itu, secara terpaksa, dan dia datang kepada Nabi saw untuk minta  udzur, lalu Allah menurunkan ayat ini. Maka dari itu para ‘ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa atas kekafiran, diperbolehkan baginya menerimanya (dengan ucapan lisan saja) untuk mempertahankan perjuangannya. Dan diperbolehkan baginya untuk menolak (kekafiran/ kemusyrikan) sebagaimana Bilal ra menolak ajakan orang-orang Quraisy, padahal mereka melakukan apa saja (siksaan) terhadapnya, bahkan batu besarpun diletakkan di atas dadanya pada saat yang sangat panas (di padang pasir), dan mereka memerintahkannya untuk berbuat musyrik kepada Allah. Bilal pun menolak dengan berkata: Ahad, Ahad (Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Esa) dan berkata: Demi Allah, seandainya aku mengetahui kalimat yang lebih pedas dari kalimat itu untukmu, tentu aku sudah mengucapkannya.

Mudah-mudahan Allah meridhoinya dan membuatnya ridho.

Ali ra membakar orang-orang murtad

Imam Ahmad berkata, diriwayatkan dari Ikrimah: Sesungguhnya Ali ra  membakar beberapa orang yang keluar dari Islam (para pengikut Abdullah bin Saba’, pen). Lalu khabar itu sampai kepada Ibnu Abbas, maka Ibnu Abbas berkata: Kalau aku, tidak akan membakar mereka dengan api. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Laa tu’adzdzibuu bi’adzaabillaah” (janganlah kamu sekalian menyiksa dengan siksaan Allah), dan aku  pernah membunuh mereka (yang murtad) karena  sabda Rasulullah saw : “Man baddala diinahu faqtuluuhu” (Barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia)”. Lalu khabar (ucapan Ibnu Abbas) itu sampai kepada Ali ra, maka ia berkata: waih (celaka, tapi ucapan ini tidak dimaksudkan sebagai do’a celaka ataupun kata-kata kasar, hanya ucapan biasa di Arab) ibu Ibnu Abbas.[1]

Imam Ahmad juga berkata, dari Abu Bardah, ia berkata: Mu’adz bin Jabal datang kepada Abu Musa di Yaman, maka dia dapati ada orang laki-laki di situ, kemudian Mu’adz berkata: Apa ini? Abu Musa menjawab: Orang ini dulunya beragama Yahudi, kemudian masuk Islam, kemudian kembali ke agama Yahudi lagi, dan kami menginginkannya untuk tetap Islam, sejak (ia katakan, saya kira) dua bulan. Maka Mu’adz berkata: Demi Allah! Saya tidak akan duduk sehingga kamu semua memotong lehernya, maka saya potong lehernya, maka Mu’adz berkata: “Allah dan Rasul-Nya telah memberi keputusan, bahwa sesungguhnya orang yang keluar dari agamanya bunuhlah dia”. Dan riwayat ini dalam Kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dengan lafadh yang berbeda.

Gigihnya Nasrani memurtadkan Muslimin

Yang paling afdhal dan mulia, hendaklah seorang Muslim tetap pada agamanya, walaupun dia diancam dengan pembunuhan, seperti yang telah disebutkan oleh Al-Hafidh bin Asakir dalam riwayat hidup Abdullah bin Hudzafah as-Sahmy, salah seorang sahabat Nabi saw: Bahwa sesungguhnya dia ditawan oleh tentara Romawi. Kemudian dia dibawa ke raja mereka, maka berkatalah raja itu:

“ Masuklah kamu ke agama Nasrani, aku akan bagikan untukmu sebagian kerajaanku, dan aku nikahkan kamu dengan anak puteriku.”

Maka ia (Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy) berkata kepada raja itu:

“Seandainya kamu memberiku semua yang kamu miliki, dan semua yang dimiliki orang-orang Arab, agar aku keluar dari agama Muhammad saw sekejap mata saja, aku tidak akan melakukannya.”

Kemudian raja berkata: “Kalau begitu aku akan membunuhmu!”

Maka ia menjawab: Engkau (bisa memilih ini dan) itu.

Al-Hafidh (yang meriwayatkan kisah ini) berkata, maka raja memerintahkan agar ia (Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy) disalib, dan raja memerintahkan pasukan panah, maka mereka memanahnya dekat kedua tangan dan kedua kakinya, sedangkan raja menawarinya dengan agama Nasrani. Maka ia (Abdullah As-Sahmy) menolak. Kemudian raja memerintahkan agar ia diturunkan. Lalu raja memerintahkan agar didatangkan panci –dalam riwayat lain disebutkan, bejana besar dari tembaga– kemudian dipanasi, kemudian salah seorang tawanan dari kaum Muslimin didatangkan dan dilemparkan ke dalamnya, ia (Abdullah As-Sahmy) pun melihatnya, maka (Muslim yang dilemparkan ke bejana panas itu kemudian) tinggallah tulang-tulang. Raja tetap menawar Abdullah, dan ia pun menolak. Maka raja memerintahkan agar ia dilemparkan ke dalam bejana itu, akan tetapi diundur sampai esok hari. Lalu menangislah ia (Abdullah As-Sahmy). Maka raja mengira bahwa ada harapan darinya, lalu raja memanggilnya. Maka ia (Abdullah) berkata:

“Sesungguhnya aku menangis hanyalah karena menyesali kenapa jiwaku hanya satu, yang akan dilempar ke bejana ini. Dalam waktu sesaat aku akan bertemu Allah, maka aku lebih senang kalau setiap rambut di tubuhku dihitung satu jiwa, yang disiksa dengan siksaan seperti ini dalam rangka memperjuangkan agama Allah.”

Dan di sebagian riwayat, bahwa raja memasukkannya dalam penjara, dan tidak memberinya makan dan minum berhari-hari, kemudian ia dikirimi arak (khamr) dan daging babi, namun ia (Abdullah) tidak mau mendekatinya. Kemudian raja memanggilnya, dan bertanya kepadanya: “Apa yang melarangmu untuk makan?”

Maka ia (Abdullah) menjawab: “Kalaupun makanan itu telah dibolehkan untukku, akan tetapi aku tidak mau menyenangkan kamu.”

Raja berkata kepadanya: “Kalau begitu ciumlah kepalaku, nanti akan aku bebaskan kamu.”

Lalu ia (Abdullah) berkata: “Dan kamu juga harus membebaskan tawanan-tawanan Muslim seluruhnya.”

Maka raja menjawab: “Ya”. Maka ia (Abdullah) mencium kepala raja, kemudian Abdullah dibebaskan dan juga tawanan-tawanan muslim semuanya. Dan ketika telah pulang (dari Romawi ke Madinah, pen), Umar bin Al-Khatthab berkata:

“Setiap Muslim berhak untuk  mencium kepala Abdullah bin Hudzafah, dan aku orang yang memulainya, maka dia berdiri dan mencium kepalanya. Mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya.[2]

Aneh, berkasih-kasihan dengan kafirin, musyrikin, Yahudi, dan Nashrani

Dalam sejarah yang otentik/ murni seperti tersebut telah terjadi aneka kekejaman orang-orang kafir, musyrik, Yahudi, dan Nasrani terhadap Muslimin di mana-mana. Sampai-sampai tawanan Muslim dilemparkan ke panggangan api hingga tinggal tulang belulang, dan masih pula untuk menakut-nakuti Muslimin untuk dimurtadkan. Namun anehnya, kini sebagian orang-orang yang mengaku dirinya Muslim, terutama ahli bid’ah, khurofat, takhayyul, perdukunan, dan yang sok modern dengan gaya toleran, humanis, dan bahkan pluralis (emnganggap semua agama sama), mereka itu berjilat-jilatan dengan musyrikin, kafirin, Yahudi, dan Nasrani yang dimurkai Allah, yang sesat, dan bahkan dalam memusuhi Islam mereka jadi  komplotan syetan iblis itu.

Bahkan yang sangat tidak bisa diterima akal sehat, ada organisasi yang masih berlabel keislaman, sebagian orang-orangnya digerakkan untuk mengabdi jadi centeng (tukang pukul) di gereja-gereja ketika musyrikin dan kafirin –menurut istilah Al-Qur’an– itu sedang merayakan hari kekafiran dan kemusyrikan mereka. Lalu keadaan yang sangat merugikan Islam itu disorot dan disiarkan pula di televisi. Sehingga, tampak benar hinanya centeng-centeng itu, baik dari segi keduniaan maupun apalagi dari segi aqidah. Tetapi, seolah-olah orang-orang yang keblinger itu justru bangga atas kesesatannya itu. Entah lantaran sudah terkecoh oleh syetan yang berlabel toleransi atau kesatuan dan persatuan atau nasionalisme yang semuanya memusuhi Islam dengan cara mengecilkan dan melangkahi Islam, sehingga pandangan mereka sudah jauh sama sekali dari ajaran Al-Qur’an maupun peristiwa-peristiwa yang dialami muslimin teladan masa lalu.

Allah SWT  memberikan pelajaran kepada kita, di antaranya dengan ayat-ayat-Nya, di samping tidak sedikit peristiwa-peristiwa nyata. Peristiwa-peristiwa nyata itu ada yang menjadi pelajaran tentang betapa teguhnya keimanan mereka, dan sebaliknya ada pula yang menjadi pelajaran agar sangat dihindari, dan jadi peringatan karena betapa buruknya lakon mereka.

Sahabat Nabi saw yang ditawan oleh Raja Nasrani Romawi tersebut betapa teguhnya keimanan yang ada di dalam dadanya.  Sebaliknya, peristiwa anak-anak muda di Indonesia dari organisasi Islam tertentu yang menjual dirinya menjadi centeng di gereja-gereja waktu natalan, itu betapa buruknya.

Kita tinggal pilih, kebaikan sudah jelas petunjuk-petunjuknya. Sedang kesesatan sudah jelas betapa buruknya, maka wajib dihindari, agar tidak terjerumus ke dalam neraka. Dan lebih buruk lagi kalau sudah lakonnya buruk tetapi ketika diingatkan orang justru marah, mengancam, sesumbar, dan bahkan akan menghabisi orang yang mengingatkan. Itulah yang sudah habis-habisan buruknya. Kalau sekalian murtad, hukumnya adalah bunuh. Tetapi kalau plintat-plintut seperti itu? Ya dibunuh diam-diam, kalau memang merugikan dan merusak Islam serta mengejeknya. Maka semestinya mereka bertobatlah, sebelum ada barisan orang-orang yang berjibaku menghabisinya atau pun Malakul Maut utusan Allah datang membetot nyawa mereka dengan tiba-tiba.

——————————————————————————–

[1] (HR Al-Bukhari).

[2]  (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhiem, Darul Fikr, Beirut,  1412H/ 1992M, jilid II, halaman 715-716).

dikutip dari buku Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
karya H Hartono Ahmad Jaiz -
http://www.pakdenono.com
http://www.swaramuslim.net

Membentengi Ummat dari Sekulerisasi dan Penyimpangan Pemikiran

Membentengi Ummat dari Sekulerisasi dan Penyimpangan Pemikiran

Di dalam sebuah Hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud diriwayatkan:

عن خذيفة بن اليمن رضي الله عنه قال: كان التاس يسألون رسول الله ص م عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت، يا رسول الله، إنا كنا في جاهلية وشر، فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير من شر؟ قال: نعم، وفيه دخن . قلت: وما دخنه؟ قال: قوم يهدون بغير هديي.—وفي رواية: قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي.–  تعرف منهم وتنكر. قلت: فهل بعد ذالك الخير من شر؟ قال: نعم، دعاة على أبواب جهنم، من أجابهم إليها قذفوه فيها. قلت: يا رسول الله، صفهم لنا. قال: هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا. قلت: فما تأمرني إن أدركني ذلك؟  قال: تلزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك. (رواه البخاري).

Artinya:

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman ra, ia berkata; “Adalah orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw dari hal kebaikan, tetapi aku bertanya kepadanya dari hal kejahatan, –karena— khawatir apabila kejahatan itu akan menjangkauku, maka aku berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya kami dulu dalam kejahiliyahan dan keburukan. Lalu Allah mendatangkan  kebaikan ini (iman-Islam) kepada kami, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”

Beliau bersabda: “Ya, “

Aku bertanya: “Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan (lagi)?”

Beliau menjawab: “Ya, dan di dalamnya ada kekeruhan.”

Aku bertanya: “Dan apa kekeruhannya?”
Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mengambil petunjuk kepada selain petunjukku.”—Dan ada suatu riwayat—Suatu kaum yang mengambil sunnah/ perbuatan kepada selain sunnahku dan mengambil petunjuk kepada selain petunjukku–. Engkau kenal mereka itu dan engkau ingkari.”

Aku bertanya: “Maka apakah setelah kebaikan itu ada keburukan (lagi)?”

Beliau menjawab: “Ya. Juru-juru da’wah/ penyeru-penyeru   ada di atas pintu-pintu jahannam, barangsiapa yang menjawab seruan mereka itu, maka mereka lemparkan dia ke dalam jahannam.”

Aku berkata: “Ya Rasulallah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.”

Beliau menjawab: “Mereka itu dari kulit kita dan mereka berbicara dengan bahasa-bahasa kita.”

Aku bertanya: “Maka apa yang engkau perintahkan kepadaku apabila aku menjumpai yang demikian itu?”

Beliau bersabda: “Kamu tetaplah berada di jama’ah muslimin dan imamnya.”

Aku bertanya: “Apabila mereka (Muslimin) tidak memiliki jama’ah dan tidak punya imam?”

Beliau bersabda: “Maka kamu singkirilah kelompok-kelompok (firqah-firqah) itu seluruhnya walau kamu (harus) menggigit akar pohon sampai kamu menemui kematian dan kamu (tetap) atas yang demikian itu.”[1]

Dari hadits yang panjang itu, Prof Ahmad Muhammad Jamal (almarhum) guru besar kebudayaan Islam pada Universitas Ummul Qura Makkah, mengutip sebagiannya, untuk dijadikan landasan dalam pendahuluan kitabnya yang berjudul Muftaroyaat ‘alal Islaam (Kebohongan-kebohongan terhadap Islam) yang diIndonesiakan menjadi Membuka Tabir Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam. Potongan Hadits yang ia kutip adalah: Bahwa sahabat Hudzaifah ibnu Al-Yamani pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:

“Wahai Rasulullah, apakah sesudah kebaikan ini akan ada masa keburukan?” Jawab Rasulullah:  “Ya., yaitu munculnya kaum yang mengajak orang lain ke neraka jahannam. Barangsiapa memenuhi ajakannya berarti telah menyiapkan dirinya untuk masuk neraka.” Aku berkata: “Terangkanlah ciri-ciri mereka itu, wahai Rasulullah!” Jawab Rasul,  “Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka bicara dengan bahasa kita.”

Beliau mengemukakan Hadits tersebut, karena menyesalkan sekali adanya orang-orang yang bersikap kebarat-baratan justru dari kalangan kita sendiri, warna kulitnya sejenis dengan kita, bahasanya sama dengan kita, bahkan semboyannya pun seperti semboyan kita. Namun mereka membelakangi sumber-sumber ajaran Islam berupa Al-Quran, Hadits, dan Sejarah Islam. Sebaliknya mereka hadapkan wajah dan hati mereka kepada sumber-sumber Barat. Kemudian mereka menuduh dan membohongkan Islam seperti yang diperbuat orang Barat.

Menurut Syeikh Ahmad Jamal, pengaruh itu masuk ke orang Islam lantaran salah satu dari 3 hal:

1. Karena mereka belajar di perguruan tinggi Barat, Eropa atau Amerika.

2. Karena mereka belajar di bawah asuhan orang-orang Barat di perguruan tinggi di dalam negeri mereka sendiri, atau

3. Karena mereka hanya membaca sumber-sumber dari Barat di luar tempat-tempat pendidikan formal dengan mengenyampingkan sumber-sumber Islami, karena tidak tahu atau karena ingin menyombongkan diri, yakni menganggap remeh terhadap sumber-sumber Islam.

Kalau sudah demikian, tanggung jawab siapa?

Kembali Syeikh Ahmad Jamal mengulasnya, bahwa itu adalah tenggung jawab kita –ummat Islam– juga. Kenapa? Karena, kitalah yang mengirim mereka ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Barat dengan aneka alasan. Pengiriman mahasiswa itu tanpa membekali antisipasi untuk mencegah keraguan-raguan yang ditanamkan guru-guru Barat, dan kita tidak menyediakan untuk mahasiswa itu citra dan syiar Islam serta bentuk rumah tangga dan negara yang benar-benar Islami. Hingga kita tidak bisa meluruskan mereka ketika bengkok.

“Ya, kita mengirim mereka ke perguruan-perguruan Barat, namun kita tidak membangun rumah Islam buat mereka yang dapat melindungi mereka dari panah dan hembusan beracun orang-orang Barat.” tulis Ahmad Muhammad Jamal.

Dengan tandas, Ustadz itu mengemukakan bahwa di samping bahaya tersebut, masih pula kita mendatangkan tenaga-tenaga pengajar dari Barat untuk memberikan pelajaran di perguruan-perguruan dan universitas-universitas kita. Dapat dipastikan, tenaga-tenaga Barat itu menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka sebagaimana yang dilakukan rekan-rekan mereka di negara Barat, yaitu meracuni dan menimbulkan rasa antipati terhadap Islam.

Faktor-faktor itu masih pula ditambah dengan kesalahan kita yaitu membuka pintu lebar-lebar untuk penyebaran kebudayaan Barat, sehingga orang kita begitu saja membenarkan apa-apa yang datang dari Barat dan menerimanya bula-bulat.

Akibat dari itu semua, Ustadz Ahmad Muhammad Jamal (68th) yang wafat di Kairo Mesir pada Hari Arafah 1413H itu mengemukakan peringatan yang cukup tandas:

“Dengan terjadinya hal-hal semacam itu maka juru da’wah Islam hanya dapat berteriak di lembah sunyi dan di padang yang lengang, bahkan mereka hanya dapat membacakan do’a kepada ahli kubur. Hanya sedikit pemuda Muslim yang diselamatkan oleh Allah. Yang sedikit inipun selalu dihalang-halangi kelompok jahat yang mayoritas itu dengan berbagai jalan. Setiap orang beriman ditekan, diintimidasi dan dirintangi dari menjalankan agama Alah.”

Menghancurkan Hukum Islam dan sistem Islam

Upaya Barat untuk menghancurkan Islam –setelah selama 6 abad orang Barat belajar kepada kaum Muslimin– mula-mula yang dihancurkan adalah hukum Islam. Hukum atau syari’at Islam telah berlangsung dan diterapkan sejak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sampai berkembangnya Islam ke berbagai negara di zaman kekhalifahan ataupun kesultanan.

Pada masa pemekaran Islam ke berbagai negara pada abad ketujuh, delapan, dan kesembilan Masehi, Hukum Positif Romawi mulai jatuh dan dilupakan orang, sejak munculnya Justinius pada abad keenam Masehi. Hukum positif itu tidak bisa diberlakukan lagi berabad-abad, kecuali pada abad ke sebelas oleh seorang murid yang sempat belajar hukum Islam di Andalus, yaitu Paus Jerbart seorang Prancis yang dikenal dengan nama Silvestre II (1024M). Ia menjadi murid orang-orang Islam Andalusia abad 11, kemudian kembali ke Prancis dan mengkaji hukum positif Romawi dengan memasukkan unsur-unsur syari’at Islam yang telah ia terima. Tetapi Paus Silvestre dan lainnya tidak berani mempublikasikan ajaran yang membawa pengaruh syari’at Islam itu di depan Gereja. Kemudian hukum positif Romawi yang dibawa oleh Paus dapat diterima oleh Gereja sebagai perkembangan hukum yang terselubung. [2]

Pada periode berikutnya, hukum Islam yang telah diberlakukan di berbagai negeri itu kemudian dipreteli (dilepas) diganti dengan hukum positif. Di saat hampir saja Inggris menduduki India (plus Pakistan dan Bangladesh) tahun 1791, Inggris sudah mengadakan gerakan untuk membatalkan syari’at Islam, kemudian orang Islam di sana mulai didesak untuk meninggalkan ajarannya dan menjalankan hukum mereka. Terjepitlah syari’at Islam pada saat itu, dan perstiwa inilah sebagai awal kemerosotan dunia Islam secara umum.

Di belahan lain di Mesir, berlangsung pula revolusi Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte hingga tahun 1798. Tiga tahun setelahnya (1801M) mereka keluar dari Mesir setelah di belakang mereka telah disiapkan adanya sejumlah pendukung, percetakan-percetakan dan pemuka-pemukanya termasuk para pemikirnya yang nantinya siap untuk menghembuskan pergolakan pemikiran yang “cemerlang”, seperti Muhammad Ali Basya yang menjadi agen Prancis dan mendapat dukungan dari semua warganya kecuali Raja Fuad (rahimahullah) hingga akhirnya Mesir menjadi negara bagian dari Eropa.

Gerakan mereka tidak lain hanyalah perlawanan terhadap kaum Muslimin di Jazirah Arab dan sebagai barisan oposisi gerakan pembaharuan Wahabi.

Adapun dengan Inggris dan Prancis mereka adalah agen-agennya, baik secara moral maupun intelektual. Di kalangan warga negaranya, Muhammad Ali Basya mewajibkan mereka untuk melaksanakan hukum Prancis pada th 1883, di Mesir. Dan ia mendirikan Mahkamah National sesuai dengan hukum Prancis. Tetapi setelah ia merasakan bahwa hukum itu kurang efektif dicabutlah dan diganti dengan hukum Belgia pada tahun 1887, dan setelah ia merasakan bahwa hal itu juga kurang efektif dicabutnya lagi dan diganti dengan hukum Itali pada tahun 1899, begitu seterusnya hingga dibentuk hukum positif Inggris yang berlaku untuk orang-orang Muslim India dan Sudan. Dan itulah yang menjadi hukum permanen di Mesir sebagaimana juga di empat bagian negara Eropa lainnya. Akan tetapi setelah Britania (Inggris) mulai melemah di Mesir, ditetapkan hukum Eropa di setiap lembaga pemerintahan di sana.

Kemudian pengaruh-pengaruh Barat menyeruak ke seluruh daerah-daerah besar lainnya sampai di Turki Utsmani.

Bangkitlah Kamal Ataturk pada tahun 1924M dan meruntuhkan kekhalifahan dan ia mengeluarkan momentum untuk menghapus Islam dengan segala bentuknya dan menegaskan agar seluruh manusia dapat meninggalkan aqidah dan syari’ah Islam.

Di sisi pemikiran lain, muncul dari kelompok mereka, Syeikh Ali Abdul Razik (Mesir), ia termasuk barisan partai Hizbul Ahrar Ad-Dusturiin dan pernah meninggalkan Hizbul Ummah (partai Inggris). Ia mempromosikan bukunya Al-Islam wa Ushulul Hukmi. [3]

Penyelewengan pemikiran dalam buku Ali Abdul Raziq

di antaranya:

1. Bahwa Syeikh Ali telah menjadikan syari’at Islam sebagai syari’at rohani semata-mata, tidak ada hubungannya dengan pemerintah dan pelaksanaan hukum dalam urusan duniawi.

2. Berkenaan dengan anggapannya bahwa agama tidak melarang perang jihad Nabi saw. demi mendapatkan kerajaan, bukan dalam rangka fi sabilillah, dan bukan untuk menyampaikan da’wah kepada seluruh alam.

Dia (Ali Abdul Raziq) menulis: “. dan jelaslah sejak pertama bahwa jihad itu tidak semata-mata untuk da’wah agama dan tidak untuk menganjurkan orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

3. Bahwa tatanan hukum di zaman Nabi saw. tidak jelas, meragukan, tidak stabil, tidak sempurna dan menimbulkan berbagai tanda tanya.

Katanya: “Sebenarnya kewalian Muhammad saw. atas segenap kaum mu’minin itu ialah wilayah risalah, tidak bercampur sedikitpun dengan hukum pemerintahan.”

Menurut sidang para ulama Al-Azhar yang menghakimi Syeikh Ali Abdul Raziq, cara yang ditempuh Syeikh Ali itu berbahaya, karena ia ingin melucuti Nabi saw. dari hukum pemerintahan. Sudah tentu anggapan Syeikh Ali itu bertentangan dengan bunyi tegas Al-Quranul Kariem yang menyatakan:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan  (membawa) kebenaran, supaya engkau menghukum antara manusia dengan apa yang diperlihatkan (diturunkan) Allah kepadamu itu.” (An-Nisaa’: 105).

4. Berkenaan dengan anggapannya bahwa tugas Nabi hanya menyampaikan syari’at lepas dari hukum pemerintahan dan pelaksanaannya.

Kalau anggapan itu benar tentunya ia merupakan penolakan terhadap semua ayat-ayat tentang pemerintahan hukum yang banyak terdapat di Al-Quran. Dan bertentangan juga dengan Sunnah Rasul saw. yang jelas dan tegas.

Masih banyak lagi penyimpangan pemikiran Ali Abdul Raziq, hingga ia diputuskan oleh forum alim ulama Al-Azhar dengan memecatnya dan mengeluarkan dari barisan ulama al-Azhar. Keputusan pemecatan itu dikeluarkan dalam persidangan terhadap Syeikh Ali Abdul Raziq yang dipimpin Abul Fadhal Al-Jizawi dengan anggota 24 ulama Al-Azhar tanggal 22 Muharram1344H/ 12 Agustus 1925M.

Ternyata harian “Leverpool Post” dari Inggris mengungkapkan keburukan dan kejahatan yang diatur oleh penjajah Inggris, dengan menggunakan Ali Abdul Raziq sebagai alat pelaksanaannya, dibantu oleh segerombolan orang dari Partai Hizbul Ahrar Ad-Dusturiin. Berita itu dimuat 13 Agustus 1925.[4]

Ummat kebingungan

Sejak terjadinya pemisahan antara penguasa dengan sumber-sumber hukum Islam di kalangan ummat Islam, di mana manusia merasa kebingungan karena diombang-ambingkan oleh hawa nafsunya; para ulama pun sudah tak mau peduli. Masing-masing sudah sibuk dengan urusannya sendiri dan mereka pandang itulah yang lebih aman dan selamat.

Ketika  terjadi kebangkitan Eropa baru, kondisi ummat sama sekali sudah tidak memiliki unsur-unsur kekuatan yang hakiki. Sebut saja akidahnya lemah dan tidak jelas lagi arahnya. Keyakinannya tidak mantap, akhlaqnya merosot, komitmennya hampir tak ada sama sekali. Pemikirannya jumud (beku), ijtihadnya macet total, kefaqihannya (kefahamannnya terhadap Islam) hilang, bid’ah merajalela, sunnah sudah diabaikan, kesadarannya menipis, sampai-sampai yang  namanya ummat tidak seperti ummat lagi. Maka orang Barat mengeksploitasi kesempatan tersebut dengan menjajah dan menguasai berbagai negeri dan menghabisi sisa-sisa unsur kekuatan pribadi ummat sampai keadaannya seperti apa yang kita rasakan sekarang. Penuh kehinaan tanpa memiliki wibawa sama sekali. Segala urusan kita berada di tangan musuh, dan nasib kita ditentukan oleh mereka para penjajah itu. Akhirnya kita minta bantuan kepada mereka untuk menyelesaikan segala problem yang timbulnya dari pribadi kita sendiri. [5]

Para penjajah benar-benar  memahami karakteristik ummat yang dijajahnya (yang keadaannya telah carut marut itu). Mereka memfokuskan perhatian pada pembentukan program pengajaran dan lembaga-lembaganya, dengan harapan dapat mengubah pemikiran-pemikiran kaum Muslimin sehingga siap untuk menerima pemikiran-pemikiran alam baru dan berusaha menyelaraskannya.

Para penjajah kafir tersebut beranggapan bahwa penerimaan kaum Muslimin terhadap realitas yang baru dapat mendorong mereka untuk mencapai kemajuan.

Hal itu mereka analogikan pada negara-negara Eropa yang tidak merencanakan programnya yang benar-benar mantap untuk mencapai suatu peradaban kecuali setelah melepaskan agamanya dan bebas dari belenggu gereja. Menurut mereka, semua agama hanya merupakan lembaga serta penghalang untuk mencapai tujuan.

Allah SWT berfirman:

كبرت ……….                                               إلا كذبا

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecualidusta.” (Al-Kahfi: 5).

Tuduhan-tuduhan mereka itu memang benar untuk agama mereka, namun sangat jauh untuk dikatakan benar terhadap dien Al-Islam. Karena, dengan Islam itu Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia dan terwujud segala keinginannya.[6]

Penjajah menekan sistem pengajaran Islam

Dalam rangka usaha untuk memisahkan ummat dari eksistensi dan kehidupannya yang Islami, para penjajah kafir melakukan tekanan-tekanan dan hambatan terhadap sistem pengajaran Islam. Mereka juga menghembuskan pemikiran-pemikiran yang dapat merendahkan kedudukan dan menghina pelajar-pelajaran Islam.

Sebagai kebalikannya, mereka memperhatikan dan membantu murid-murid yang memasuki sekolah-sekolah baru tempat pendidikan mereka (penjajah). Di hadapan mereka  dihadapkan pintu masa depan yang gilang-gemilang dan akhirnya posisi kepemimpinan ummat menjadi tergantung kepada mereka (yang diasuh penjajah itu, pen).

Begitulah tekanan-tekanan yang dilancarkan terhadap sistem pendidikan Islam dan bahasa Arab. Semua jalan yang menuju ke sana tertutup rapat. Murid-murid yang tetap tekun hanyalah sebagian kecil saja. Biasanya mereka banyak menghadapi tekanan tekanan yang seringkali mengakibatkan mereka berhenti dan macet di tengah jalan. Kalau tidak, maka mereka dihadapkan pada perlakuan yang berbeda, dengan para lulusan sekolah mereka (penjajah).[7]

Sistem itu masih dilanjutkan pula oleh pemerintahan baru setelah lepas dari jajahan. Walaupun para pemegang tampuk pemerintahan (baru yang sudah merdeka) mengaku dirinya Muslim, namun cara-cara penjajah tetap diterapkan bahkan lebih intensip. Baik itu mengenai sistem hukum/ peradilan dan pemerintahan, maupun sistem pendidikan dan penerimaan pegawai. Istilah lokal Jawa, Londo Ireng (Belanda Hitam alias pribumi, namun kejamnya dan liciknya dalam penerapan kekafiran lebih Belanda /lebih menjajah dibanding Belanda penjajah).

Akibatnya, di samping yang mendapatkan kesempatan memimpin itu orang-orang yang tidak tahu Islam karena pendidikannya ala kafirin, masih pula sikap mereka pun sudah menjadi orang yang sekuler tulen, dalam bentuk keturunan orang Islam. Pola pikirnya sekuler, gaya hidupnya sekuler, pergaulan hidupnya sekuler, penerapan hukum dan pembelaannya ke arah sekuler, anti Islam.

Membentengi ummat dari sekulerisasi dan penyimpangan pemikiran

Tiba gilirannya, kita harus memikirkan, bagaimana membentengi ummat dari penyimpangan pemikiran, dari sekulerisasi dan penjerumusan ke arah kekafiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam secara beramai-ramai, walau mereka ada yang mengaku dirinya Muslim.

Ibarat satu kampung, keadaannya sudah ditenggelamkan dalam air seperti kampung-kampung di sekitar Waduk Kedung Ombo di Sragen-Boyolali Jawa Tengah di saat ada pemaksaan dari pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun (1966-1997) pimpinan Soeharto tempo hari. Hanya saja penenggelaman dalam pembahasan ini adalah dari segi sistem hukum, sistem pendidikan, dan kebijakan-kebijakan yang menyingkirkan Islam. Maka yang masih tersisa tinggallah yang diselamatkan oleh Allah SWT.

Setelah tenggelam dalam pola pikir yang sekuler, yang tak Islami, lalu harus dibentengi dengan cara bagaimana?

Secara teori, kita harus menyingkirkan segala pemikiran yang tak sesuai dengan Islam. Ibarat air yang telah menggenangi, maka harus ditawu, dipompa untuk dibuang, dan dikuras. Jadi pola pikir sekuler itu harus dikikis, bahkan diperangi agar terkikis habis. Setelah itu diisi dengan pola pikir yang Islami.

Caranya?

Secara teori, sistem hukum dan sistem pendidikan harus dikembalikan ke Islam.

Caranya?

Para pemegang kekuasaan bidang hukum dan pendidikan terdiri dari orang-orang yang berpola pikir Islami. Tetapi itu hanya bisa ditempuh bila pemegang kendali kekuasaan adalah orang-orang yang berpola pikir Islami.

Untuk mencapai itu, mesti diadakan pendidikan yang intensip, yang secara herargis mencapai tingkatan sampai tinggi dan tetap punya komitmen yang tinggi terhadap pola pemikiran yang Islami.

Bukankah nantinya tetap kalah dalam bersaing, karena sistemnya tidak memungkinkan untuk merebut pasar kedudukan?

Di balik upaya manusia, dalam menegakkan kebenaran ini ada dukungan Allah SWT.

يأيها الذين أمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad/ 47:7).

Itu jaminan Allah SWT.

Di balik itu pula, Nabi SAW bersabda :

لينقضن عرا الإسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها وأولهن نقضا الحكم وأخرهن الصلاة. (رواه أحمد).

“Tali-tali Islam pasti akan putus satu tali demi satu tali. Maka setiapkali putus satu tali (lalu) manusia bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertama kali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah shalat.” [8]

Tali-tali hukum Islam ternyata telah diputus-putus oleh penjajah dan dilanjutkan oleh pemerintah pengganti penjajah, dan para tokoh maupun ilmuwan sekuler, musuh Islam, anti Islam, atau yang alergi Islam. Demikian pula tali-tali sistem pendidikan. Bahkan sistem budaya pula, mereka habisi dari Islam.

Kini hal yang jelas belum diputus adalah shalat (kecuali oleh kelompok sesat yang tak mewajibkan shalat, misalnya kelompok Isa Bugis ataupun Az-Zaitun yang punya sekolahan/ pesantren megah di Indramayu Jawa Barat yang tidak mewajibkan shalat, yang berarti telah menggerogoti Islam sampai batas terakhir), maka kita kembalikan apa yang putus-putus itu dengan membangun kembali shalat kita, dengan berjama’ah ke masjid-masjid dan meningkatkan kekhusyu’an. Dari situ, akan terbina insan-insan Muslim yang tangguh, yang mampu mengendalikan dirinya dari fahsya’ (kekejian) dan munkar. Karena Allah SWT berfirman:

إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر. (العنكبوت: 45).

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”. (QS Al-’Ankabuut 29:45).

Terwujudnya masyarakat yang bisa terhindar dari fahsya’ dan munkar itu hanyalah kalau diselenggarakan shalat berjama’ah di setiap kampung dan pemukiman, atau di mana saja Ummat Islam berada. Sebab, tanpa diselenggarakan shalat berjama’ah, maka Nabi saw memastikan masyarakat itu pasti dikuasai oleh syetan. Nabi saw bersabda:

ما من ثلاثة في قرية ولا بدو لا تقام فيهم صلاة الجماعة إلا استحوذ عليهم الشيطان فعليكم بالجماعة، فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية.

“Tidaklah dari tiga orang di dalam suatu desa dan tidak pula di pedusunan yang tidak didirikan di kalangan mereka itu shalat berjama’ah kecuali terhadap mereka itu syetan menguasainya. Maka wajib atas kalian berjama’ah, maka sesungguhnya serigala itu hanya memakan kambing yang terpencil (dari kawannya).” [9]

Masyarakat Muslim yang aktif melaksanakan shalat berjama’ah insya Allah tidak dikuasai syetan, dan mereka itulah yang insya Allah mampu menghindarkan diri dari perbuatan fakhsya’ dan munkar. Sebaliknya, masyarakat yang tidak menegakkan shalat berjama’ah maka sudah dijelaskan oleh Nabi saw, pasti mereka dikuasai oleh syetan. Itu kalau tingkat kampung atau pedusunan. Lha kalau tingkatnya itu nasional, satu bangsa, yang jumlahnya 200 juta jiwa lebih, dan mayoritas/ kebanyakan mengaku dirinya Muslim, lantas mereka tidak aktif berjama’ah shalat di masjid-masjid dan mushalla, maka mafhum mukhalafah (pengertian tersirat) dari Hadits tersebut adalah: masyarakat itu bisa-bisa dikuasai oleh raja syetan (bukan sekadar syetan desa). Sedang syetan itu menurut Al-Qur’an ada yang dari jenis jin dan ada yang dari jenis manusia. Masih mending kalau dari jenis jin kafir, apabila dibacakan ayat kursi dan lain-lain maka pasti takut. Tetapi kalau syetan yang dari jenis manusia, walaupun dibacakan surat kursi tetap saja mendenges (tidak mempan), tidak takut. Maka ada perintah jihad memerangi orang kafir, musyrik, murtad, orang sekuler (sebab menurut Syeikh Muhammad Al-Ghazali Mesir, orang sekuler itu hukumnya murtad), dan munafiq; soalnya mereka tidak mempan dengan bacaan-bacaan berupa ayat-ayat yang ditakuti oleh syetan. Jadi harus dilawan dengan jihad.

Masyarakat Islam yang taat berjama’ah shalat itulah yang sanggup berjihad melawan syetan-syetan berupa manusia. Dan dari situlah tercipta masyarakat Islam yang utuh, yakni secara rohani mereka sanggup mencegah diri dari fahsya’ dan munkar, sedang dari segi fisik mereka sanggup berjihad untuk meninggikan kalimah Allah SWT, melawan manusia-manusia kafir, durjana, munafik, musyrik, ataupun murtad.

Dengan tumbuhnya sosok-sosok pribadi muslimin yang mampu mengendalikan diri dari fahsya’ dan munkar dan berani berjihad itulah maka mereka akan memiliki bashirah (pandangan hati) yang tajam, yang mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Hanya saja semua itu harus dilandasi ilmu Islam yang memadai, sehingga bashirah yang tajam itu akan dibentengi oleh hujjah yang benar. Itulah pokok jalan keluarnya.

Al-hasil, jalan yang harus ditempuh adalah merestorasi pemahaman ummat dengan menanamkan aqidah shahihah, menegakkan shalat berjama’ah, mendisiplinkan da’wah Islamiyah, dan membentuk serta melaksanakan sistem pendidikan yang sesuai dengan Islam. Bila semua itu ditempuh maka pada masanya akan datang kebenaran ke dalam dada-dada Muslimin dan hancurlah kebathilan, tersingkir dari benak-benak Muslimin. Dari individu-individu Muslim, ke tingkat keluarga, ke tingkat kelompok, dan kemudian insya Allah akan ke tingkat yang lebih luas lagi, sehingga akan meratalah pemahaman yang benar tentang Islam. Kalau toh tidak sampai merata, insya Allah pribadi-pribadi yang terselamatkan itu sendiri berarti telah selamat dari kesesatan.

Semua itu harus dimulai. Ibda’ binafsik. Mulailah dengan dirimu sendiri lebih dulu. Mari.

Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan bashirah yang mampu mendeteksi bahwa yang bathil ataupun menyimpang itu tampak bathil, sehingga kita mampu menghindarinya. Amien.

——————————————————————————–

[1] (HR Al-Bukhari,  Muslim, dan Abu Daud, shahih).

[2] (Dr Abdul Halim Uwies, Al-Islaamu kamaa yanbaghi an nu’mina bih, diindonesiakan menjadi Koreksi terhadap Ummat Islam, Darul Ulum Press, Jakarta, cet pertama, 1989, hal 82).

[3] (ibid, hal 84).

[4]  (Dari Al-Milal wan Nihal oleh Asy Syahrastani, dikutip Fathi Yakan, Islam di tengah persekongkolan musuh abad 20, GIP cet 6, 1993, hal 113, lihat H Hartono A Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kutsar, 1994, hal 83-84).

[5] (Dr. Thoha Jabir Fayyadh al-’Ulwani, Adabul Ikhtilaf fil Islam/ Beda Pendapat bagaimana menurut Islam, GIP, 1991, hal 135).

[6]  (ibid, hal 139).

[7]  (ibid, 140).

[8] (Hadits riwayat Ahmad dari Abi Umamah).

[9] HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasaa’i, dan Al-Hakim, dan dia itu shahih.

dikutip dari buku Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
karya H Hartono Ahmad Jaiz -
http://www.pakdenono.com
http://www.swaramuslim.net

Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.

Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.

Akhirul Kalam

Setelah kita bicarakan tentang aneka bahaya yang mengintai dan berkeliaran di seputar kita, kita tersadarkan bahwa sebenarnya kondisi kita ini bagai berhadapan dengan jarum-jarum beracun bahkan mengandung narkoba (narkotika dan obat-obat terlarang) yang sifatnya mengancam keimanan dan keislaman. Kini tiba gilirannya untuk mengakhiri pembicaraan.

Pada intinya, betapa jauh antara ketinggian dan keteguhan manusia-manusia teladan pada periode awal Islam, yakni tiga generasi terbaik (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in) dalam memegangi Islam dan mengamalkannya, kalau dibandingkan dengan kondisi ummat Islam di zaman kita yang dikerubuti oleh aneka kesesatan, penyelewengan, dan pengaburan. Jauhnya perbedaan itu sering tidak kita sadari, sehingga tidak jarang di kalangan kita sekarang sering kita temui orang-orang yang seenak udelnya melontarkan tuduhan ataupun tudingan kepada para sahabat Nabi saw dengan asumsi bahwa mereka pun suka berdusta seperti halnya kita. Padahal, di antara sesama kita pun akan marah kalau dituduh sembarangan, walaupun akhlaq di kalangan kita relatif telah sangat longgar dari rasa malu.

Meskipun demikian,  dari secercah ketidak terimaan apabila dituduh sembarangan itu, sebenarnya di zaman kini pun masih bisa diharapkan adanya perbaikan dari berbagai seginya. Oleh karena itu, sebagai penutup pembahasan masalah-masalah yang mengancam bagi keimanan dan keislaman dalam buku ini mari kita tutup dengan mengaca diri. Kita bandingkan antara perilaku para sahabat Nabi saw dengan keberanian kita di masa kini dalam melanggar agama dan mempermain-mainkannya. Berikut ini gambaran singkatnya.

Wabah Kolusi ke Agama

Seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Aku lapar.” Maka Rasulullah kepada isteri-isterinya menanyakan makanan, tapi tidak ada, beliau bersabda: “Apakah tidak ada seorang yang mau menerima orang ini sebagai tamu malam ini? Ketahuilah bahwa orang yang mau menerima laki-laki ini sebagai tamu (dan memberi makan) malam ini, akan diberi rahmat oleh Allah.”

Berkata Abu Thalhah seorang dari golongan Anshar: “Saya ya Rasulullah”. Maka ia pergi menemui isterinya dan berkata, “Hormatilah tamu Rasulullah”.

Isterinya menjawab: “Demi Allah, tidak ada makanan kecuali makanan untuk anak-anak”.

Suaminya berkata: “Apabila anak-anak hendak makan malam, tidurkanlah mereka, padamkanlah lampu biarlah kita menahan lapar pada malam ini, agar kita dapat menerima tamu Rasulullah.” Maka hal itu dilakukan isterinya.

Pagi-pagi besoknya Abu Thalhah menghadap Rasulullah SAW menceritakan peristiwa malam itu dan beliau bersabda, “Allah SWT benar-benar kagum malam itu terhadap perbuatan suami-isteri tersebut .”[1]

Peristiwa itu merupakan salah satu sebab turunnya ayat 9 Surat Al-Hasyr/59:

والذين تبوءوا …………………………………………..         هم المفلحون.

Artinya:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) di atas diri mereka sendiri, sekaligus mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung   .”

Diriwayatkan pula oleh Al-Wahidi dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar bahwa seorang sahabat Rasulullah dari golongan Anshar diberi kepala kambing. Timbul pikirannya, “mungkin orang lain lebih memerlukan dari aku.” Seketika itu juga kepala kambing itu dikirimkan kepada kawannya, tetapi oleh kawannya itu dikirim pula kepada kawannya yang lain, sehingga kepala kambing itu berpindah-pindah pada tujuh rumah dan akhirnya kembali ke rumah orang yang pertama.

Sebegitu besar kesetiaan para sahabat Nabi kepada sesamanya dalam ukhuwah Islamiyah yang benar-benar terjalin antara hati dengan hati. Hingga mereka mendahulukan kepentingan kawannya dibanding kepentingan diri sendiri, sekalipun dirinya sendiri butuh dan bahkan dalam keadaan sempit.

Dalam kondisi ukhuwah Islamiyah yang sangat bertenggang rasa itu tidak ada pula yang menggunakan kesempatan, mumpung orang lagi mau berbaik-baik pada orang lain. Tidak. Mereka yang  sangat membutuhkan pertolongan orang lain pun tidak merengek-rengek, hingga tidak nampak bahwa mereka itu butuh. Sikap itu pun dihargai oleh Allah, sehingga langsung Allah membela mereka dengan firman-Nya:

للفقراء الذين………………………………………………..   فإن الله به عليم.

Artinya:

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya, karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifat mereka. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”. (Al Baqarah: 273).

)    Gejala Masa Kini dan jalan keluarnya

Betapa indahnya jalinan ukhuwah Islamiyah di kalangan para sahabat Nabi SAW. Namun, contoh yang baik itu kini tidak tampak di masyarakat Muslim. Mereka yang berkecukupan saat ini berhadapan sikap dengan yang miskin. Yang kaya boleh jadi serakah dan kikir, sedang yang miskin boleh jadi tama’ dan loba. Hingga tak ketemu antara keduanya.

Pada gilirannya, yang ketemu bahkan ikan di laut luas, di sela-sela karang, bahkan di sela-sela kaki buaya tetap dikejar-kejar dan ditangkap, dimasukkan di aquarium dan dipajang di etalase, diberi makan dengan menu khusus. Itulah ikan Arwana yang ditangkap dari sela-sela perut buaya di laut luas sana. Namun, rintihan dan jeritan orang miskin yang lapar dan sakit-sakitan di seberang rumah, mungkin tak ketangkap oleh hati kita. Ada pula perkutut di pucuk pohon di hutan belantara. Ia dikejar, ditangkap dan dimasukkan ke kurungan emas di rumah gedung indah, dipiara dengan pelayanan khusus. Tapi anak-anak yatim yang terlantar di seberang jalan tak tertangkap oleh mata dan matahati kita. (Lebih buruk lagi, bahkan ada penguasa yang sengaja membubarkan lembaga yang mengurusi panti-panti anak-anak yatim. Akibatnya panti-panti asuhan terutama yang Islam tidak mendapatkan jatah dana lagi setiap bulannya. Akibatnya lagi, pihak Nasrani yang punya dana kuat dan kemungkinan besar mendapatkan dana internasional lebih berleluasa untuk “menjarah” anak-anak yatim untuk dinasranikan. Jadi, diam-diam pembubaran lembaga tersebut oleh seorang penguasa yang diduga pro Yahudi dan Nasrani itu merupakan program besar nasranisasi di Indonesia yang penduduknya 210 juta mayoritas Islam ini). Ketidak pedulian kita terhadap orang lemah juga ditunjukkan dengan memelihara anjing-anjing dari seberang negeri, sengaja didatangkan untuk “menghiasi” rumah. Dilayani dan dimanjakan dengan penuh perhatian. Tapi, janda tua renta di belakang rumah yang menjerit kelaparan dan dililit utang, tak tertangkap aduhannya.

Astaghafirullahal ‘Adhiem, binatang-binatang di laut, di hutan, dan di seberang negeri itu makin langka karena banyak ditangkap, dan otomatis kemudian harganya mahal, namun tetap dikejar. Sedang orang-orang terlantar, anak-anak yatim dan miskin itu makin banyak dan berserakan, namun mereka tidak “tertangkap” oleh hati nurani insani yang telah “mati”. Lebih buruk lagi, bahkan anak-anak yatim dan orang-orang lemah itu sengaja dibiarkan bahkan diprogramkan agar “dimangsa” oleh para pemurtad-pemurtad yang siap sedia setiap saat untuk memurtadkan Muslimin yang lemah-lemah ekonomi dan imannya. Wabah apa ini?

Penyakit hati tak punya iba semacam itu di dalam Al-Quran dikecam sebagai tingkah mendustakan addien (agama, hari pembalasan/ akherat). Namun kini penyakit itu justru bisa bergabung dengan penyakit menjual agama, menjual Muslimin sebagai “mangsa” pemurtadan. Terjadilah kolusi antara pendusta agama dengan penjual agama, satu bentuk kolusi yang benar-benar gawat. Bagaimana bisa terjadi? Mudah saja. Pintu-pintu yang mengarah kepada kekuatan Muslimin ditutup erat-erat, sedang pintu-pintu yang menjurus kepada lalu lalangnya para pemangsa Muslimin untuk dimurtadkan maka dibuka lebar-lebar.

Dari sisi lain, ada model yang unik pula. Misalnya, di saat-saat peringatan 1000 hari matinya tokoh pendusta agama itu (peringatan kematian itu sendiri sebenarnya suatu bid’ah, karena tidak diajarkan dalam Islam) seorang penjual agama berpidato, misalnya:

Saudara-saudara yang kami muliakan. Jasa almarhum Tuan Anu yang kita peringati 1000 harinya ini tidak banyak orang tahu. Padahal, jasa itu cukup menonjol dalam agama. Beliau telah memberi jaminan makan terhadap anjingnya selama 10 tahun dengan daging rata-rata 0,5 kg per hari. Padahal, sekali memberi minum anjing yang kehausan saja, seorang pelacur telah diampuni dosanya, gara-gara menyayangi anjing yang kehausan itu. Lantas, kalau diukur, berapa kali lipat nilai pahala almarhum ini yang telah 10 tahun menyayangi anjingnya dengan aneka pelayanan. Maka cukuplah jasanya terhadap anjing itu akan menghantarkannya ke surga.

(Gambaran pidato itu sekadar suatu analogi dengan adanya seorang ahli tafsir lulusan Mesir yang pernah berpidato dalam upacara peringatan 40 hari / atau entah 100 hari meninggalnya isteri presiden masa orde baru, Ny Tien isteri Presiden Soeharto, di kediaman sang presiden Jl Cendana Jakarta. Di antara isi pidatonya adalah memuji-muji jasa mendiang, memprakarsai pembangunan museum yang disebut Baitul Qur’an di Taman Mini Indonesia Indah. Sedemikian drastisnya pemujian itu hingga dikaitkan dengan surga, seakan yang berpidato itu memberikan katabelece untuk masuk surga. Pidato itupun disiarkan langsung oleh televisi saat itu. –Sementara itu di kampung penulis ada berita yang beredar, tukang memandikan mayat di kampung penulis yang memandikan mayat Nyonya itu dijanjikan untuk naik haji gratis, namun ditunggu-tunggu sampai kini tidak pernah janji itu terwujudkan–. Sebaliknya, ternyata profesor yang pidato itu kemudian diangkat menjadi  menteri agama, namun baru 70 hari menduduki kursi tahu-tahu bossnya yakni sang presiden dilengserkan/ diturunkan ramai-ramai oleh demonstran secara massal yang terdiri dari puluhan ribu mahasiswa selama berhari-hari, akhirnya turun dari jabatan presiden, sedang yang pidato tadipun otomatis habis masa lakunya sebagai menteri/ pembantu presiden 1998).

Penjual agama dan pendusta agama (bukan mayat yang diperingati itu, tetapi orang yang masih hidup) telah berkolusi, diumumkan di depan khalayak ramai. Seolah penjual agama memberikan katabelece kepada mayat keluarga pendusta agama untuk masuk surga. Padahal masalah surga dan diterimanya amal adalah masalah ghaib, hanya Allah sajalah yang tahu. Namun karena adanya pidato seorang profesor yang seperti itu, maka orang awam agama (walau mungkin intelek) pun manggut-manggut, tidak faham bahwa itu semua adalah kata-kata dan tingkah dusta. Atau paling kurang adalah melangkahi hak dan wewenang Allah SWT.

Coba kita bandingkan dengan peristiwa di masa Nabi Muhammad saw berikut ini:

“Bahwa Utsman bin Madh’un ra, seorang sahabat pilihan, ketika wafat, sedang Rasul saw hadir di sisinya dan mendengar seorang sahabat besar perempuan (shahibyyah)  Ummu Al-‘Ala’, berkata: “Kesaksianku atasmu Abu As-Saib (Utsman bin Madh’un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasul SAW membantahnya dengan berkata:

وما يدريك أن الله قد أكرمه؟

“Wa maa yudriika annallooha qod akromahu?”

“Bagaimana kamu tahu bahwa Allah sungguh telah memuliakannya?”

Ini adalah peringatan yang besar dari Rasul SAW kepada sahabat wanita ini karena dia telah menetapkan hukum dengan hukum yang menyangkut kegaiban. Ini tidak boleh, karena tidak ada yang menjangkau hal gaib kecuali Allah SWT. Tetapi Shahabiyyah (sahabat wanita) ini membalas dengan berkata:

“Subhanallah, ya Rasulallah! Siapa (lagi) kah yang akan Allah muliakan kalau Dia tidak memuliakannya?”

Artinya, jika Utsman bin Madh’un ra tidak termasuk orang yang dimuliakan Allah SWT, maka siapa lagi yang masih tersisa pada kita yang akan dimuliakan Allah SWT. Ini jawaban yang sangat mengena dan signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul SAW menolaknya dengan ucapan yang lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:

والله إني لرسول الله لا أدري ما يفعل بي غدا.

“Walloohi innii larosuululloohi laa adrii maa yaf’alu bii ghodan.”

“ Demi Allah, saya ini benar-benar utusan Allah, (tetapi) saya tidak tahu apa yang Dia perbuat padaku esok.”

Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu orang yang dirahmati dan disalami oleh Allah, beliau wajib berhati-hati dan mengharap rahmat Allah. Dan di sinilah Ummu Al-‘Ala’ sampai pada hakekat syara’ yang besar, maka dia berkata:

“Demi Allah, setelah ini saya tidak akan menganggap suci terhadap seorang pun selama-lamanya.” [2]

Jelaslah bagi kita, betapa masalah ghaib adalah perkara besar, dan tidak diketahui oleh siapapun, sampai Nabi Muhammad SAW sekalipun, kecuali hanya Allah SWT. Lantas sahabat Nabi saw yang diberi keterangan demikian, dia terus berjanji untuk sangat bersikap hati-hati sekali.

Demikianlah di antara rambu-rambu yang ada di dalam Islam. Dalam berbagai hal, para sahabat Nabi saw mengamalkan perintah dan menjauhi larangan secara ikhlas, sesuai dengan aturan yang ada. Sedang apabila berkaitan dengan hubungan sesama manusia maka berbentuk ukhuwah Islamiyah yang saling menyayangi (ruhamaa’u bainahum), dan asyiddaa’u ‘alal kuffaar (bersikap tegas terhadap orang-orang kafir). Apabila bersalah atau keliru maka cepat-cepat bertobat dan kembali kepada kebenaran, serta tidak akan mengulanginya. Bukan malah ngotot.

Kalau dibandingkan dengan kondisi kita sekarang, kita temukan pemandangan yang kontras sekali. Kisah sahabat Nabi saw tersebut (di alenia awal tentang solidaritas Islam  yang sangat tinggi, dan juga pada riwayat Shahabiyyah Ummu Al-‘Ala’ tentang keharusan berhati-hati mengenai bicara agama terutama hal ghaib), mereka adalah jelas menegakkan dan mengamalkan agama dengan sangat teguh, sedang kisah kolusi dalam kehidupan masa kini itu adalah menyepelekan agama, sembrono, bahkan ada yang sampai merusak agama dengan sangat liciknya. Sadarlah kita, beginilah keadaannya. Mari kita perbaiki diri kita dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman dan pengamalan generasi terbaik, yaitu tiga generasi awal Islam (Shahabat, Tabi’ien, dan Tabi’it Tabi’ien) secara konsisten, konsekuen, dan istiqomah. Itu secara pribadi-pribadi. Sedang secara tanggung jawab bersama, perlu kita sadari bahwa gejala rusak yang melanda sekarang ini akan menumbuhkan satu generasi rusak agamanya yang parah. Bila satu generasi telah rusak parah agamanya, maka kemungkinan besar akan mewariskan generasi yang lebih parah, atau paling kurang adalah sama parahnya dengan sebelumnya. Maka, sebelum kerusakan ini menumbuhkan satu generasi yang rusak parah, hendaknya Muslimin yang sadar akan pentingnya manhaj shahih dalam Islam mengadakan musyawarah, bagaimana menghadapi masalah amat gawat ini. Pertama, perlu dimusyawarahkan langkah-langkah untuk memasyarakatkan kesadaran bahwa sekarang ini Ummat Islam dilanda kerusakan dari aneka seginya. Jadi Ummat Islam secara keseluruhan perlu disadarkan masalah bahaya yang melanda diri mereka selama ini. Kedua, perlu dimusyawarahkan langkah-langkah untuk memasyarakatkan atau menda’wahkan Islam dengan manhaj yang shahih secara sistematis, terencana rapi, dan tidak menyimpang dari  pola yang telah ditempuh Nabi Muhammad saw dan diwarisi oleh generasi awal Islam yang bisa mengubur adat jahiliyah berganti dengan Islam. Di sini peran muballigh, khothib, imam masjid, para guru agama/ ustadz dan tokoh Islam pada umumnya, bahkan Ummat Islam secara umum sangat diperlukan untuk digalang maju bersama di atas jalan yang benar. Dan di situ pula masih tetap harus merujuk kepada firman Allah SWT:

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر، ذلك خير وأحسن تأويلا.

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan  hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisaa’/ 4:59).

Perlu disadari, tidak ada lain yang mau mendandani, memperbaiki atau memulihkan kembali Ummat Islam ini kecuali diri Muslimin sendiri. Sementara itu sebagian orang yang mengaku dirinya Muslim ternyata telah banyak yang secara terang-terangan merusak Islam dan Ummat Islam. Bahkan kadang mereka bergabung –secara sengaja atau tidak– dengan musuh-musuh Islam. Sedangkan kondisi Ummat Islam sendiri rawan dari berbagai seginya terutama rawan ilmu agamanya dan keteguhannya. Dari sinilah tampak benar bahwa syari’at jihad itu wajib diamalkan/ dipraktekkan, baik secara fisik maupun secara mental dan pemikiran. Dan di situlah lahan luas untuk memperjuangkan agama Allah itu tersedia kapan saja. Jangan sampai disia-siakan. Karena tegaknya agama itu di antaranya adalah dengan jihad. Hal itu diakui dan disadari sama sekali oleh musuh-musuh Islam, maka syari’at jihad itu pula yang menjadi bidikan utama dan pertama untuk mereka rusak. Maka marilah kita kembalikan dan fungsikan lagi syari’at jihad itu pada proporsinya, kita kembalikan Islam ini pada aslinya, dan kita amalkan semuanya itu lillahi Ta’ala. Insya Allah perusakan yang telah segencar-gencarnya ini akan bisa kita tanggulangi, dengan idzin dan pertolongan dari Allah SWT.  Ingatlah bahwa Allah SWT telah menegaskan, sehebat-hebatnya upadaya syetan itu adalah lemah.

الذين أمنوا يقاتلون في سبيل الله والذين كفروا يقاتلون في سبيل الطاغوت فقاتلوا أولياء الشيطان إن كيد الشيطان كان ضعيفا.

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah.” (QS An-Nisaa’/ 4:76).

Di samping Allah SWT menegaskan lemahnya tipu daya syetan, masih pula Allah SWT menjelaskan bahwa posisi Muslimin itu adalah paling tinggi derajatnya, tidak boleh merasa hina dan bersedih hati.

ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali ‘Imran/ 3:139).

Jaminan Allah SWT bahwa tipu daya syetan itu lemah, sedang derajat orang-orang yang beriman itu paling tinggi asal memang benar-benar beriman adalah modal dasar yang amat tinggi dan besar nilainya bagi orang-orang yang mempertahankan keimanan dan melawan kebatilan yang ditawarkan antek-antek syetan. Oleh karena itu marilah kita memohon kepada Allah SWT agar Ummat Islam diberi kekuatan untuk mempertahankan keimanan dan melawan kebatilan yang ditawarkan oleh syetan dan konco-konconya itu, sehingga Ummat Islam mampu menegakkan hukum Allah SWT di bumi-Nya ini dengan mengalahkan hukum-hukum Thaghut bikinan syetan yang tipudayanya lemah itu. Sehingga terwujud masyarakat Islami yang istiqomah dalam mengamalkan Islam, tegar menghadapi musuh, dan ikhlas dalam beramal, serta bersemangat untuk mewariskan generasi yang konsisten dengan Islam.

Mudah-mudahan Allah SWT memberkahi Ummat Islam yang konsisten/ istiqomah, hingga menepati jalan-Nya sampai akhir hayat. Amien, ya Rabbal ‘aalamien.

——————————————————————————–

[1] (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasaai dari Abu Hurairah/ Al-Quran dan Tafsirnya Depag RI: X, 6.)

[2] (HR Al-Bukhari 3/385, 6/223 dan 224, 8/266 dalam Fathul Bari, dan Ahmad 6/436 dari Ummu al-‘Ala’ Al-Anshariyah binahwihi, lihat buku H Hartono Ahmad Jaiz, Rukun Iman Diguncang, Pustaka An-Naba’, Jakarta, cetakan II, 2000, halaman 73-74, dan buku Gus Dur wali? Mendudukkan Tasawuf, Darul Falah, Jakarta, 1999/ 2000, halaman 7-8).

- navigasi & konversi ke format html: nono 2005 -

dikutip dari buku Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
karya H Hartono Ahmad Jaiz -
http://www.pakdenono.com
http://www.swaramuslim.net

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 51 other followers